Kenaikan Gas Metan Bisa Hambat Rencana Pengurangan Emisi

Reading time: 3 menit
kenaikan gas metan
Ilustrasi: pixabay.com

LONDON, 12 Desember 2016 – Tepat setahun lalu, para pemimpin dunia akhirnya mencapai kesepakatan historis untuk mengurangi emisi karbon dioksida.

Dua belas bulan kemudian, hadir berita yang mengejutkan bahwa konsentrasi gas metan meningkat jauh lebih cepat ketimbang 20 tahun belakangan. Ini membuat Perjanjian Paris yang sudah disepakati harus sudah mulai memperlihatkan hasil substansial secepatnya.

Beberapa peneliti mengatakan bahwa dunia perlu melakukan perubahan arah dan bertindak cepat untuk mengatasi hal tersebut demi mencapai target menjaga suhu bumi tidak lebih dari 2°C.

Salah satu pengamat Artik mengatakan bahwa perubahan mulai terlihat pada dekade terakhir dan mulai membuat perubahan pada sistem yang sudah ada sejak Zaman Es.

Gas metan merupakan gas rumah kaca berbahaya kedua, dengan pertanian berkontribusi pada 40 persen emisi. Gas metan berdampak 34 kali lebih kuat daripada gas karbon dioksida dan sepanjang 20 tahun belakangan, gas metan memiliki dampak 84 kali lebih kuat dari pada CO2.

Pada editorial Environmental Research Letters, tim peneliti internasional melaporkan bahwa konsentrasi gas metan di udara mulai bertambah pada tahun 2007, dan semakin meningkat pada tahun 2014 dan 2015. Pada kedua tahun tersebut, konsentrasi gas metan meningkat 10 atau lebih per miliar setiap tahun. Pada awal tahun 2000an, gas ini sudah meningkat hingga 0,5 ppb tiap tahunnya.

Kemungkinan Mitigasi

Para ilmuwan mengatakan bahwa alasan kenaikan gas metan masih belum jelas, namun ada anggapan bahwa hal tersebut merupakan konsekuensi dari pertanian, terutama dari sawah dan ternak.

Mereka mengatakan bahwa penelitian menunjukkan emisi CO2 telah mendatar pada beberapa tahun belakangan namun gas metan justru meningkat.

Rob Jackson, salah satu penulis editorial dan pengajar Ilmu Kebumian di Universitas Stanford, AS, mengatakan bahwa penemuan gas metan “sangat mengkhawatirkan namun juga memberikan kesempatan mitigasi untuk bisa melengkapi upaya menahan gas karbon dioksida.”

Dia dan penulis lainnya telah menerbitkan Budget Metan Global 2016, sebuah penelitian komprehensif bagaimana gas metan keluar dan masuk atmosfer mulai dari tahun 2000 hingga 2012 akibat kegiatan manusia dan faktor lainnya. Penelitian ini sudah dipublikasikan oleh Global Carbon Project, sebuah penelitian yang diinisiasi oleh Future Earth.

Peter Wadhams, profesor emeritas untuk fisika laut di Universitas Cambridge mengatakan bahwa para peneliti sekarang melihat adanya gas metan jumlah besar yang dikeluarkan dari selatan Siberia. Gas emisi tersebut, dan yang terlihat di tundra, berkontribusi terhadap kenaikan konsentrasi gas metan.

Profesor Wadham menulis bab khusus terkait dengan hal tersebut dalam bukunya A Farewell to Ice. Kepada Climate News Network, ia mengatakan bahwa “Gas metan yang dikeluarkan sekarang dengan laju yang sangat cepat akan mampu menghambat pengurangan karbon dioksida yang sedang kita lakukan saat ini.”

“Sebuah ekspedisi dari Rusia, yang baru saja kembali dari Artik, memprediksi dengan begitu banyaknya gas metan pada sedimen lepas pantai, pelepasan gas tersebut akan berdampak kepada kenaikan suhu sebesar 0,6°C, yang merupakan perubahan besar.

“Saya telah pergi ke Artik selama 40 tahun dan ini merupakan hal yang baru. Melelehnya es telah membuat suhu udara naik hingga 7°C sejak tahun 2005 dan mempengaruhi lapisan es yang tidak berubah sejak Zaman Es. Pemandangan gas metan yang keluar merupakan hal yang menakjubkan, seperti balon-balon udara melintasi permukaan es.”

Pelepasan gas metan ini tidak hanya terjadi di perairan Artik tapi juga sedang terjadi di utara Pasifik.

Pembalikan yang Cepat

Gas metan berasal dari berbagai sumber, antara lain rawa-rawa dan lahan basah serta eksplorasi bahan bakar fosil. Sekitar 60 persen dari gas tersebut berasal dari kegiatan manusia, utamanya pertanian.

Marielle Saunois, penulis utama untuk ERL dari Versailles Saint-Quentin-en-Yvelines University (UVSQ), Perancis, mengingatkan dunia untuk berbuat sesuatu terhadap emisi gas metan. “Apabila ingin bertahan di bawah dua derajat Celsius, kita tidak boleh berada di track yang sama dan perlu berbalik dengan cepat.”

Saunois mengatakan bahwa dia dan rekan-rekannya berpikir pertumbuhan pertanian menjadi salah satu sumber, setidaknya saat ini, dari kenaikan gas metan ketimbang pengeboran gas alam.

“Berbicara soal gas metan, terlalu banyak difokuskan kepada industri bahan bakar fosil, namun kita perlu melihat pada sektor pertanian,” jelas Profesor Rob Jackson. “Situasi ini bukannya tidak ada harapan. Masih ada kesempatan.” – Climate News Network

Top
You cannot copy content of this page