Majelis Taklim Harus Jadi Pionir Pengelolaan Sampah di Indonesia

Reading time: 3 menit
Pemilahan sampah dari sumbernya berperan penting dalam pengelolaan sampah di Indonesia. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mendorong peran lembaga sosial keagamaan nonformal, majelis taklim untuk terlibat aktif dalam pengelolaan sampah. Dorongan ini mengemuka jelang peringatan Hari Peduli Sampah Nasional pada 21 Februari 2022.

Direktur Jendral Pengelolaan Sampah Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, peringatan Hari Peduli Sampah Nasional bukan berarti sebagai momentum perayaan akan sesuatu. Akan tetapi mengingatkan kembali akan tragedi longsoran sampah di TPA Leuwigajah, Cimahi pada 21 Februari 2005 silam yang menewaskan 150 orang.

Momentum Hari Peduli Sampah Nasional tahun ini, sambungnya merupakan kesempatan untuk menggandeng lembaga sosial keagamaan nonformal, yakni majelis taklim. Majelis taklim yang kebanyakan terdiri atas ibu-ibu memiliki peranan yang tinggi dalam pengelolaan sampah rumah tangga.

“Saya mengajak ibu-ibu majelis taklim supaya sampah tidak langsung dibuang ke TPA. Tapi kita kurangi, misal bawa tas belanja sendiri, bawa botol minum dan mengurangi pemakaian styrofoam,” kata Vivien dalam diskusi virtual Peran Majelis Taklim Indonesia untuk Mendorong Perubahan Perilaku Masyarakat dalam Mengelola Sampah di Jakarta, baru-baru ini.

Mengusung tema “Kelola Sampah, Turunkan Emisi, Tingkatkan Kegiatan Proklim”, Hari Peduli Sampah Nasional tahun 2022 menekankan pada Program Kampung Iklim atau Proklim. Adapun program ini menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca terkait dengan perubahan iklim.

Kontribusi Sampah Tak Lepas dari Isu Perubahan Iklim

Vivien mengungkapkan, kontribusi sampah tak terlepas dari isu perubahan iklim yang saat ini kian mengkhawatirkan. Dalam sehari, sampah yang rata-rata setiap orang hasilkan mencapai 0,7 kilogram. Pada tahun 2020, Indonesia menghasilkan sampah sebanyak 68,7 juta ton. “Sampah kalau dibuang sembarangan atau di TPA dan tidak diolah itu akan keluar yang namanya gas emiten. Gas emiten itulah yang akan menimbulkan emisi dan emisi itulah yang akan menimbulkan perubahan iklim,” papar Vivien.

Menurutnya, permasalahan paling mendasar adalah kesadaran memilah sampah. Adapun jenis sampah yang paling banyak mengeluarkan gas emiten yaitu sampah organik yang bersumber dari rumah tangga. Sampah organik yang kebanyakan bersumber dari sektor rumah tangga, sambung Vivien sangat berpotensi menjadi kompos, pakan ikan hingga pakan ternak. “Oleh karenanya ibu-ibu kalau ada sisa makanan lebih baik kita manfaatkan,” imbuhnya.

Mengingat peranan para ibu sangat besar di majelis taklim, Vivien berharap lembaga sosial keagamaan ini menjadi garda dalam pengelolaan sampah. “Saya mau majelis taklim itu menjadi pionir untuk dalam pengelolaan sampah dari sumber dan membantu menurunkan emisi gas rumah kaca,” ucapnya.

Senada dengannya, Direktur Pengurangan Sampah KLHK Sinta Saptarina menyatakan, berdasarkan Sistem Informasi Persampahan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK, timbulan sampah nasional mencapai 65,7 juta ton per tahun atau setara dengan 13 juta gajah.

“Sisa makanan masih mendominasi yakni sebanyak 27,7 %. Sedangkan berdasarkan sumber sampah rumah tangga masih mendominasi yaitu 45,8 %,” kata Sinta.

Sampah yang tak terkelola dengan baik akan meningkatkan emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim. Foto: Shutterstock

Majelis Taklim Ubah Perilaku Pengelolaan Sampah

Sementara itu Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia Hayu Prabowo menyatakan, kata kunci peran majelis taklim dalam pengelolaan sampah berada dalam perubahan perilaku atau aklak.

Melalui program Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (Gradasi), majelis taklim dapat menanamkan perubahan perilaku sekaligus mengampanyekan pengelolaan sampah berbasis keagamaan. “Karena esensinya sampah itu adalah paling banyak dari sampah rumah tangga, di sini apalagi kebanyakan ibu-ibu rumah tangga,” paparnya.

Hayu berpandangan, seorang ibu merupakan madrasul ula atau madrasah pertama bagi anak. Seorang ibu dapat memberikan cerminan perilaku baik pada anaknya. “Saya harap gradasi dapat menjadi perubahan perilaku bagi masyarakat, tak hanya fisik tapi juga rohani,” ujarnya.

Gradasi yang mencakup 6 masjid penggerak telah menghasilkan 21 ton sampah. Jenis sampah yang paling mendominasi yaitu jenis sampah kertas dan kardus, yakni sebanyak 10.137,49 kilogram.

Enam masjid penggerak tersebut yaitu Masjid Raya Bintaro Raya Tangerang, Masjid An Nazhofah Jakarta, Masjid An-Nahlah Jakarta, Masjid Baitul Makmur Bekasi, Masjia Al-Muharram Yogyakarta, serta Masjid An-Zikra Bogor.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page