Memasuki PSBB Transisi: Kasus Positif Covid-19 di Ibu Kota Kembali Tinggi

Reading time: 3 menit
Transportasi Umum
Transportasi umum berpotensi menjadi sumber penularan virus corona. Foto: shutterstock.com

Jakarta (Greeners) – Penambahan kasus positif Covid-19 masih terus terjadi meskipun pemberlakukan kenormalan baru dimulai. Di Ibu Kota, hingga kemarin kasus tertinggi tercatat meningkat sebanyak 163 kasus. Sementara kasus sembuh di wilayah DKI sejumlah 294 kasus. Mulai Juni 2020, Jakarta akan memulai masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Percepatan Covid-19 Achmad Yurianto melaporkan, Jawa Timur yang sempat memiliki kasus tertinggi pertama kini berada di tingkat tertinggi kedua dengan penambahan kasus positif sebanyak 113 kasus.

“Total kasus positif yang teridentifikasi pada hari ini berjumlah 672 kasus sehingga total kasus kumulatif berjumlah 31.186. Sebanyak 21 provinsi yang melaporkan kasus kurang dari 10, bahkan 8 di antaranya melaporkan tidak ada kasus sama sekali,” kata Yuri dalam konferensi pers di Media Center Gugus Tugas Nasional di Jakarta pada Minggu (07/06/2020).

Baca juga: Menuju Kenormalan Baru, Pemerintah Kebut Pembukaan Sektor Pariwisata

Terdapat sepuluh provinsi yang kasus positifnya meningkat di bawah lima, yaitu Bangka Belitung, DI Yogyakarta, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Sulawesi Tenggara, Lampung, Maluku Utara, Papua Barat, Sulawesi Barat, dan Gorontalo. Sedangkan nol kasus dilaporkan di beberapa provinsi, seperti Aceh, Bengkulu, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Utara, Riau, dan Nusa Tenggar Timur.

Indonesia bersama negara-negara dunia bersiap memulai berbagai aktivitas publik di bidang ekonomi, pendidikan, kegiatan ibadah, dan bidang lainnya. Dimulainya aktivitas publik akan menjadi kenormalan baru dengan diterapkannya berbagai protokol kesehatan Covid-19.

Di lain kesempatan, Direktur Rumah Sakit Jantung Binawaluya dr. Jimmy Agung Pambudi, MARS mengatakan, sesuai data dari Gugus Tugas seluruh provinsi dikabarkan memiliki angka kasus positif Covid-19. Kasus baru juga terus terjadi setidaknya di 23 provinsi.

Pasar

Sejumlah sektor perbelanjaan akan kembali dibuka di tengah kenormalan baru. Masyarakat diharuskan mematuhi protokol kesehatan Covid-19 untuk mencegah penyebaran virus. Foto: shutterstock.com

Menurutnya, kesiapan fasilitas kesehatan juga masih sangat terbatas. Karena rasio ketersediaan tempat tidur rumah sakit kurang lebih harus menyediakan 1,2 unit per seribu penduduk. Jumlah ventilator, kata dia, juga sangat kurang, yakni 8.400 ventilator. “Jika terjadi gelombang kedua yang besar, akan sangat sulit mendapatkan pelayanan kesehatan yang cukup,” ucapnya.

Ia mengatakan dalam mempersiapkan new normal juga tidak mudah. Menurutnya kenormalan baru adalah keniscayaan karena ekonomi harus dikembalikan. Di samping itu, Kementerian Kesehatan telah menysusun protokol serta panduan untuk penerapan new normal yang harus diikuti.

Baca juga: Upaya Penanganan Karhutla Kian Berat di Tengah Pandemi Covid-19

“Kita tidak boleh percaya siapa pun bebas Covid-19 karena ada kasus-kasus orang terinfeksi tapi tidak menunjukkan gejala spesifik. Banyak yang terlihat sehat tapi bisa menularkan karena terinfeksi. Itu kita harus hati-hati,” ujar Jimmy pada acara Awal Baru Memasuki Normal Baru, Rabu, 3 Juni 2020.

Ia mengingatkan, masyarakat harus belajar dari sejarah bahwa jika terjadi gelombang kedua, tidak semua pasien akan dapat pelayanan yang memadai dari rumah sakit. “Jika masyarakat menjaga diri dengan mengikuti protokol mungkin gelombang kedua tidak perlu terjadi,” kata dia.

Masyarakat Sepakat Covid-19 Membahayakan Kesehatan

Sementara sejumlah peneliti dari berbagai universitas meriset perspektif masyarakat terkait krisis Covid-19 di Indonesia. Peneliti dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran dan Universitas Pancasila bekerja sama dengan Department of Empirical Media Research and Political Communication Technische, Universtat Ilmenau di Jerman melakukan penelitian mengenai “Dukungan Masyarakat di Tengah Buruknya Dampak Ekonomi”.

Mereka menghimpun opini publik tentang krisis korona pada umumnya dan bagaimana penggunaan media di masyarakat dapat memengaruhi terbentuknya persepsi tentang krisis. Observasi menggunakan metode survei representatif nasional dan pengumpulan data dilakukan melalui aplikasi digital yang dilaksanakan oleh Jakpat Mobile Online Survey Indonesia. Periode pengumpulan data dilakukan pada 27 April-18 Mei 2020 dan menjangkau 1.100 responden dari seluruh provinsi di Indonesia.

Hasil survei menyebutkan bahwa 87 persen responden merasa bahwa virus korona membahayakan kesehatan mereka. Sebanyak 65 persen responden merasa takut tertular virus. Hingga 7 Juni 2020, pagebluk Covid-19 telah menyebabkan kematian 1.851 orang di Indonesia dan lebih dari 400.000 orang di seluruh dunia.

Selain itu riset juga mencatat bahwa 70 persen responden menyatakan bahwa mereka puas dengan kebijakan yang dilakukan pemerintah pusat dalam mengatasi wabah. Namun, hasil sangat mungkin berubah karena 72 persen responden juga setuju dengan pernyataan bahwa pemerintah kewalahan dalam mengatasi permasalahan virus Corona di Indonesia. Sebanyak 46 persen responden merasa bahwa mereka tidak memiliki pengaruh atas keputusan pemerintah dalam penanganan Covid-19.

Penulis: Dewi Purningsih

Top