Penganan Lokal Harus Lebih Memperhatikan Kemasan

Reading time: 2 menit
Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Jakarta (Greeners) – Menurut data Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Indonesia ini memiliki 77 jenis karbohidrat yang berpotensi sebagai sumber pangan. Diantaranya, seperti serealia (padi, jagung, sorghum, hotong, jali, jawawut, dll), ubi-ubian (singkong, ubi jalar, talas, sagu, ganyong, garut, gembili, gadung, dll), dan buah (sukun, pisang, labu kuning, buah bakau, dll)

Bayangkan jika petani-petani pangan lokal Indonesia tersebut mampu memasarkan produk penganannya dan bersaing dengan pasar panganan impor yang beredar di masyarakat. Tentu akan sangat membantu meningkatkan harkat hidup para petani Indonesia.

Nah, salah satu aspek penting dalam memasarkan sebuah produk yang perlu diperhatikan para petani kita selain kualitas olahan penganannya adalah kemasan atau biasa disebut packaging.

Kemasan atau packaging sendiri sangatlah berkaitan erat dengan branding sebuah produk yang ingin disajikan. Karena kemasan sebuah produk merupakan salah satu unsur yang mempengaruhi banyaknya penjualan atau minatnya konsumen terhadap produk tersebut.

“Pentingnya sebuah kemasan tentu akan mempengaruhi si pembeli dalam menentukan pilihan produk yang ingin konsumen cari,” ungkap salah satu crafter (pengrajin tangan), Ukke Kosasih saat berbincang ringan dengan Greeners pada Festival Desa yang berlangsung di Bumi Perkemahan Ragunan Jakarta, Sabtu (25/10).

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Beberapa produk pangan lokal yang dipamerkan di Festival Desa 2014, diantaranya kopi, beras merah dan beras sorgum. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Ukke yang membuka pameran, bazzar dan workshop kerajinan tangan dengan menggunakan berbagai macam bahan dasar bersama dengan tujuh orang crafter asal Jabotabek di Festival Desa 2014 ini pun menjelaskan kalau isu ketahanan pangan di Indonesia memang sudah seharusnya menjadi sorotan.

Oleh karena itu, Ukke beserta teman-teman crafternya sendiri ingin membagikan ilmunya dalam hal membuat kemasan produk yang unik serta menarik dengan harapan agar para petani mampu mampu bersiap dalam memasarkan produknya saat perdagangan pasar bebas atau Asean Free Trade Area (AFTA) 2015.

Sebagai informasi, Festival Desa 2014 ini sendiri merupakan festival yang ketiga yang diadakan oleh beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat dan komunitas dalam rangka memperkenalkan dan mempertemukan produsen panganan dan kerajinan lokal Indonesia kepada para konsumen.

Beberapa program di Festival Desa yang berlangsung di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan, selama tiga hari (24-26) ini diantaranya adalah festival tempe, festival padi nusantara, festival sagu, masak bersama, lomba mewarnai, permainan tradisional, musik dan tari.

Selain program yang berhubungan dengan pangan, festival yang mengusung tema merayakan keberagaman pangan ini juga mengadakan beberapa workshop, seperti workshop membuat gift bag, merajut, membuat tas jahit tangan, dan daur ulang kertas.

Tejo Wahyu Jatmiko, koordinator dari penyelenggara Festival Desa 2014, menjelaskan ajang ini digelar untuk mengisi liburan keluarga sekaligus mengajak anak-anak hingga orangtua untuk bisa mengenali kembali suasana desa serta beragam kearifan lokal yang ada di negeri ini.

“Kami berharap akan muncul kesadaran dari konsumen terhadap keanekaragaman pangan lokal yang ada di negeri ini. Sedangkan kepada pihak pemerintah, kami juga berharap, munculnya sokongan lebih kuat lagi untuk mendorong para petani negeri ini untuk menanam pangan lokal yang begitu banyak dan variatif.”

(G09)

Top