Perempuan Adat Harus Dilibatkan dalam Negosiasi Perubahan Iklim

Reading time: 1 menit
Ilustrasi: Ist.

Jakarta (Greeners) – Pengetahuan dan kearifan lokal yang dilakukan oleh perempuan adat dalam melakukan pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan telah dipraktikkan dan berkembang sejalan dengan posisi mereka sebagai penjaga ketahanan hidup keluarga dan komunitasnya. Kearifan lokal tersebut termasuk memanfaatkan berbagai jenis tanaman untuk bahan tenun dan pewarna alam, mengelola tanaman obat-obatan serta lahan pertanian atau perkebunan dengan kearifan tradisional yang ramah emisi.

Sementara itu, menurut Mina Susana Setra, Deputi I Pengurus Besar Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (PB AMAN), umumnya dalam negosiasi perubahan iklim (terutama adaptasi dan mitigasi) perempuan adat selalu dimasukkan dalam kategori kelompok rentan bersama anak-anak, lansia dan disabilitas.

“Perempuan adat itu seharusnya mendapatkan perlindungan khusus, seperti misalnya dalam implementasi REDD+ atau isu konservasi yang mengharuskan perempuan adat digusur dari wilayah adatnya,” jelasnya seperti dikutip melalui keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Sabtu (21/11).

Padahal, lanjutnya, kunci pemberdayaan perempuan adat Indonesia adalah pengakuan atas pengetahuan dan kearifan perempuan adat dalam pengelolaan sumber-sumber hidup dan wilayah kelola yang selama ini diabaikan. Jika hal ini dipenuhi, maka sumber daya alam Indonesia yang berada di dalam wilayah masyarakat adat bisa terselamatkan.

Namun yang terjadi saat ini, seperti diakui oleh Dewan Nasional Perempuan AMAN region Sumatera Utara, Khairina Arif, penguasaan perkebunan sawit atas wilayah kelola perempuan adat telah menghancurkan pewarisan pengetahuan perempuan adat antar generasi yang diperparah oleh minimnya pendokumentasian.

“Seperti yang terjadi pada perempuan adat rakyat Penunggu yang melakukan penuntutan pengakuan kembali atas lahan Hak Guna Usaha (HGU) PT LONSUM (kebun sawit) untuk dikelola kembali sebagai lahan pertanian yang dikombinasikan dengan tanaman keras agar bisa mengembalikan unsur tanah dan adaptif untuk tanah,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

Top