Setiap Tahun Indonesia Kehilangan 52 Ribu Hektar Ekosistem Mangrove

Reading time: 1 menit
ekosistem mangrove
Ekosistem mangrove. Foto: wikimedia

Jakarta (Greeners) – Menurut catatan dari Center for International Forestry Research (Cifor), setidaknya Indonesia kehilangan 52 ribu hektar ekosistem mangrove akibat alih fungsi lahan yang mengakibatkan Indonesia kehilangan potensi karbon senilai US$3,1 miliar per tahunnya.

Peneliti Senior Cifor Daniel Mudiyarso mengatakan bahwa lemahnya peraturan yang ada semakin membuat pengelolaan dan perlindungan mangrove di Indonesia lemah. Sejauh ini, katanya, regulasi yang ada terkait dengan pengelolaan mangrove tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 73 Tahun 2012 tentang Strategi Nasional Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Namun perpres tersebut dinilai belum cukup kuat lantaran baru bersifat instruktif.

“Belum ada aturan yang kuat dalam bentuk regulasi formal. Sejauh ini, perpres masih bersifat koordinatif dan belum ada petunjuk teknis atau pemberian sanksi jika ada kesalahan,” katanya, Jakarta, Senin (13/02).

BACA JUGA: Blue Carbon Indonesia, Potensi Besar yang Belum Tergarap

Daniel menyatakan, perlindungan terhadap ekosistem ini sangat penting untuk dilakukan karena memiliki potensi karbon empat kali lebih besar ketimbang karbon di kawasan hutan daratan. Ia menjelaskan, sedimentasi yang dihasilkan oleh ekosistem mangrove memiliki komposisi 80 persen deposit keseluruhan biomassa atau sama dengan 1.200 biomassa. Sedangkan di atas tanah, deposit biomassa bisa mencapa 80 ton hingga 100 ton biomassa.

Di sisi lain, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, pernah menyatakan bahwa dirinya akan mulai memperhatikan ekosistem mangrove di tahun 2017. Menurutnya, isu ekosistem mangrove sangat berkaitan dengan isu blue carbon, oleh karena itu tahun ini ia berencana akan membahas isu tersebut melalui rapat kerja bersama dengan pihak-pihak terkait.

BACA JUGA: Peringati Hari Lahan Basah Dunia, KEHATI Ajak Jaga Gambut Indonesia

“Saya sedang pikirkan untuk bagaimana bisa kita membuat rapat kerja terkait isu ekosistem mangrove ini karena sangat berkaitan dengan blue carbon. Semakin saya sering turun ke lapangan, semakin saya yakin bahwa ekosistem mangrove ini harus mulai diperhatikan secara serius,” katanya.

Penulis: Danny Kosasih

Top