Terbatas Kenali Alam, Kecerdasan Naturalis Anak di Perkotaan Akan Minim

Reading time: 2 menit
Anak-anak perlu mendekatkan diri ke alam untuk mencegah buta flora. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina Totok Amien Soefijano mengungkap, eksposur anak-anak di perkotaan terhadap lingkungan terbatas. Hal ini berimbas pada rendahnya kecerdasan naturalis mereka. Kondisi ini bisa memicu buta flora sejak dini.

“Ini berpengaruh terhadap kedekatan mereka dengan alam sehingga mereka jarang mengamati lingkungan sekitar rumah dan sekitarnya,” katanya kepada Greeners, Kamis (1/9).

Buta flora merujuk pada ketidakmampuan untuk memperhatikan pentingnya tumbuhan dan tanaman dalam biosfer kehidupan. Sebagai unit terkecil, kepekaan terhadap lingkungan sekitar seperti rumah dan lingkungan sekolah perlu dikenalkan dan ditanamkan agar anak tak terpapar buta flora.

Sebelumnya, tahun 1998, Wandersee dan Schussler memperkenalkan istilah ‘buta flora’. Mereka mendefinisikan kebutaan tanaman secara luas, yakni suatu kondisi ketidakmampuan untuk memperhatikan tanaman di lingkungan sendiri.

Kondisi ini juga mencakup ketidakmampuan untuk mengenali fitur biologis estetis dan pentingnya tanaman dalam biosfer kehidupan.

Padahal, tanaman dan tumbuhan memiliki peranan penting untuk seluruh kehidupan makhluk hidup di dunia. Tak sekadar sumber pangan, tapi sebagai penyerap karbon dioksida yang mengubahnya menjadi oksigen sehingga membuat udara lebih bersih.

Anak-Anak Lebih Senang Bermain Gawai

Masalahnya, sambung Totok anak-anak di perkotaan lebih senang naik kendaraan bermotor meski jaraknya lokasi yang mereka tuju sangat dekat. Misalnya jarak dari rumah ke sekolahnya. Hal ini diperparah dengan minimnya aktivitas di rumah yang bersentuhan dengan alam. “Di rumah mereka lebih senang bermain gawai, sempit sekali dunianya,” ujar dia.

Kendati pengenalan lingkungan dapat melalui gawai sebagai salah satu media pembelajaran, tapi pada anak usia dini penting mendekatkan mereka dengan lingkungan secara langsung.

“Maraknya telepon pintar membuat anak ikut asik bermain gawai. Itu harus kita kurangi dan seimbangkan dengan mengamati lingkungan sekitar,” imbuhnya.

Lain halnya dengan anak-anak yang tumbuh di daerah atau pedesaan yang kerap berinteraksi langsung dengan lingkungannya. Terlebih, berbagai varietas tumbuhan ada di sekitar sehingga anak lebih peka.

Padahal, menumbuhkan kecerdasan naturalis sangat penting sejak dini. Dalam hal ini, keluarga memiliki peran penting. Misalnya, mengenalkan berbagai macam jenis tumbuhan yang ada di sekitar.

“Pengenalan jenis tumbuhan dan manfaatnya ini sangat penting agar anak dapat semakin dekat dengan lingkungannya,” ungkapnya.

Orang tua turut harus memastikan dengan memberikan stimulasi yang berkaitan dengan kecerdasan naturalis. Mulai dari pendekatan melalui cerita-cerita dari buku yang terkait dengan lingkungan, hingga field trip langsung ke wisata edukasi, seperti taman, wisata konservasi dan kebun raya.

Selain itu, ia juga menilai pentingnya peran sekolah mendorong anak untuk mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya. Ajak anak-anak melakukan aktivitas langsung, bisa ke pasar, tepi sungai, hingga taman secara rutin. “Itu dapat memicu keingintahuan anak untuk mempelajarinya lebih lanjut,” katanya.

Dalam peringatan hari ulang tahunnya, Kebun Raya Cibodas mengajak anak-anak TK belajar mengenali konservasi tumbuhan. Foto: Greeners/Ramadani Wahyu

Asah Kecerdasan Naturalis Sejak Dini

Sementara itu, psikolog Kasandra Putranto menyatakan, mengacu pada teori kecerdasan majemuk oleh Howard Gardner, terdapat delapan tipe kecerdasan. Berbagai kecerdasan tersebut yaitu kecerdasan verbal-linguistik, logis-matematik, visual-spasial. Selanjutnya, kecerdasan berirama-musik, jasmani-kinestetik, interpersonal, intrapersonal dan naturalis.

Ia mengungkap bahwa semua anak memiliki potensi perkembangan yang berbeda-beda. Ia menyebut pentingnya peran keluarga, sekolah dan masyarakat untuk mencapai kecerdasan majemuk tersebut.

“Karena penting juga untuk menyeimbangkan semua area kecerdasan, termasuk kecerdasan naturalis agar tumbuh kembang anak maksimal,” tandasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page