Empat Perusahaan Ini Dinilai KLHK Bertanggung Jawab Kelola Sampah

Reading time: 2 menit
perusahaan
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya memberikan penghargaan kepada 4 perusahaan manufaktur dan ritel yang dianggap bertanggung jawab terhadap pengelolaan sampahnya. Penghargaan ini diberikan pada puncak peringatan Hari Peduli Sampah di Pantai Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (28/02/2017). Foto: greeners.co/Hari Istiawan

Surabaya (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memberikan penghargaan kepada empat perusahaan yang dinilai telah bertanggung jawab terhadap pengelolaan sampah yang dihasilkan dari industrinya. Empat perusahaan ini adalah PT Sinar Sosro, PT AEON Indonesia, PT Tirta Investama, dan PT Lion Superindo.

Penghargaan ini diserahkan dalam puncak acara Hari Peduli Sampah Nasional 2017 di Pantai Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (28/02/2017). Ada dua kategori dalam penilaian terhadap 13 perusahaan manufaktur dan ritel yang dianggap bertanggung jawab terhadap pengelolaan sampahnya oleh Kemen LHK yaitu, kategori inisiatif pengurangan sampah dan kinerja pengurangan sampah.

Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar menyerahkan langsung penghargaan kategori inisiatif pengurangan sampah kepada PT Sinar Sosro dan PT AEON Indonesia. Sedangkan PT Tirta Investama dan PT Lion Superindo mendapat penghargaan kategori kinerja pengurangan sampah.

BACA JUGA: Wapres Jusuf Kalla Minta Industri Bertanggung Jawab terhadap Sampah

Siti Nurbaya optimis pencapaian target Indonesia Bebas Sampah 2020 karena dukungan berbagai komunitas, mulai dari masyarakat hingga dunia usaha, terus meningkat setiap tahunnya. “Keterlibatan fasilitator, komunitas dan kolaborator meningkat dari tahun ke tahun. Dukungan dari akademisi dan dunia usaha, juga para aktivis yang tidak pernah berhenti dalam gerakan-gerakannya di lapangan,” ujar Siti di Surabaya, Selasa (28/02/2017).

Dalam rilis Kemen LHK, pihaknya terus mengikuti perkembangan berbagai komunitas lingkungan, baik pada komunitas peduli sampah, komunitas khusus selamat tinggal plastik, komunitas sungai, komunitas pencinta gunung, dunia usaha dan asosiasi dengan berbagai inovasinya. Dengan dijadikannya bulan Februari tahun 2017 ini sebagai bulan peduli terhadap kebersihan dan pengelolaan sampah yang baik dan benar, diharapkan kampanye Peduli Sampah terhadap masyarakat dapat lebih masif dan terstruktur.

Tercatat selama tahun 2016, 226 kabupaten/kota dari 34 Provinsi telah menyertakan 9.550 fasilitator, komunitas dan kolaborator untuk terlibat aksi bersih-bersih. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2015 lalu sebanyak 1.024 fasilitator, komunitas dan kolaborator yang berasal dari 155 kabupaten/kota.

BACA JUGA: 11 Kementerian Susun Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Sampah Plastik di Laut

VP. General Secretary Danone Indonesia, Leila Djafaar mengaku perusahaannya telah bertanggung jawab dalam pengelolaan sampah. Penghargaan tahun ini merupakan tahun ke dua setelah tahun sebelumnya mendapat penghargaan kategori inisiatif mengelola sampah kemasan. ”Tahun ini terpilih atas kinerjanya sebagai produsen dalam pengelolaan sampah,” kata Leila.

Menurutnya, AQUA Grup terpilih dalam proses akhir karena penambahan titik lokasi pengumpulan sampah. Setelah mengelola tiga Recycling Business Unit (RBU) di Tangerang Selatan, Bali dan Bandung, AQUA Grup bekerjasama dengan beberapa pihak membangun jaringan untuk pengambilan sampah PET dengan melibatkan bank sampah dan lapak di Kota Bogor dan Jakarta.

Ia juga mengapresiasi upaya pemerintah untuk mendorong dan mendukung pihak swasta agar terus berinovasi dalam mengelola sampah kemasannya. Bahkan, AQUA Grup telah mengembangkan RBU yang terletak di Tangerang Selatan. RBU ini merupakan model sosial bisnis daur ulang kemasan plastik dimana sebanyak 44 orang bekerja mengelola botol kemasan menjadi cacahan yang kemudian menjadi bahan baku untuk barang kreatif seperti kaos dan produk plastik lainnya.

“RBU yang kami kelola memberikan jaminan kesehatan melalui program BPJS kepada setiap pegawainya. Pegawai yang di RBU, 75 persen adalah mantan pemulung dan 75 persen adalah perempuan yang mengalami kesulitan dalam mendapatkan akses kesehatan,” jelas Leila.

Penulis: HI/G17

Top
You cannot copy content of this page