Tingkat Konsumsi Air di Jakarta Berbanding Terbalik dengan Pelestariannya

Reading time: 3 menit
Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Jakarta (Greeners) – Pertumbuhan jumlah penduduk di DKI Jakarta ternyata berbanding lurus dengan tingkat kebutuhan konsumsi air bersihnya. Sayangnya, tingkat kebutuhan konsumsi tersebut tidak diiringi dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian badan sungai sebagai sumber air di Jakarta.

Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLHD) DKI Jakarta, Gamal Sinurat mengatakan bahwa wilayah DKI Jakarta memiliki potensi sumber daya air berupa sungai, waduk, danau atau situ, dan air tanah. Namun karena kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestariannya, maka kondisi badan air yang awalnya merupakan cadangan air baku di Jakarta menjadi tidak layak lagi untuk dikonsumsi.

“Untuk saat ini saja, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui PDAM Jaya menyediakan air bersih melalui dua mitra kerjanya, yaitu PT Pam Lyonaise Jaya dan PT Aetra Air Jakarta. Air baku yang digunakan sebagian besar berasal dari Waduk Jati luhur, Purwakarta serta Kali Krukut bagian hulu yang bisa digunakan sebagai sumber air baku,” jelasnya saat dihubungi oleh Greeners melalui sambungan telepon, Jakarta, Jumat (10/07).

Menurut Gamal, air sungai merupakan salah satu komponen lingkungan yang memiliki fungsi penting bagi kehidupan manusia, termasuk untuk menunjang pembangunan ekonomi misalnya saja untuk pengairan lahan pertanian dan untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Namun, seiring dengan pertambahan penduduk dan perkembangan berbagai industri, maka pencemaran air sungai telah menjadi masalah serius yang dihadapi oleh manusia.

“Kenapa sungai menjadi lingkungan yang paling terancam, karena pada akhirnya sebagian besar air yang telah digunakan oleh industri dan rumah tangga akan dilepaskan ke lingkungan sungai bersama-sama dengan berbagai jenis polutan yang terkandung di dalamnya. Sedangkan, penyumbang pencemaran paling dominan saat ini ya sampah rumah tangga yang dibuang ke sungai,” tambahnya.

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Senada dengan Gamal, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) yang juga Menteri Lingkungan Hidup pertama di era kabinet Pembangunan III tahun 1978 hingga 1983, Profesor Emil Salim saat ditemui oleh Greeners di Jakarta, Kamis (09/07) lalu, mengutarakan bahwa tingkat konsumsi air di Jakarta jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat produksi. Hal tersebut mengakibatkan banyak warga khususnya daerah-daerah kumuh yang tidak mendapatkan akses air bersih.

“Penduduk Jakarta ini sendiri tidak ada disiplinnya. Mereka seenaknya membuang sampah tanpa memikirkan dampaknya. Ini sudah kacau untuk air bersih di Jakarta. Untuk itu, Gubernur DKI Jakarta (Basuki Tjahaja Purnama) itu berjuang mati-matian untuk meniadakan persampahan di air sungai,” kata Emil.

Terkait masalah pengelolaan air, Emil menyatakan, siapapun bisa berperan di sana termasuk juga dengan pihak swasta selama pihak swasta itu tidak menguasai sumber mata air, maka boleh saja mereka (swasta) melakukan pengelolaan air tersebut.

“Contohnya di Jakarta. Iya benar Jakarta harus segera mencari sumber air bersih alternatif sesuai dengan hasil penelitian yang dikeluarkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Tapi terkait infrastruktur pengelolaannya kan pihak swasta tidak dilarang,” jelasnya lagi.

Di lain pihak, Corporate Communication Director PT. Tirta Investama (Aqua Grup), Troy Pantouw kepada Greeners menjelaskan bahwa dalam kenyataannya saat ini, permasalahan air bersih di Jakarta masih berkutat di konsumsi sehari-hari seperti mandi dan mencuci, dan bukan pada air minum. Selain teknologi, bahan baku yang ada juga masih belum bisa diolah dengan baik. Ditambah, DKI Jakarta sendiri masih minim akan daerah resapan air untuk membantu timbulnya kantong-kantong air.

“Jakarta itu perlu banget yang namanya penghijauan atau daerah yang dikhususkan untuk pertamanan. Jadi, selain ngurusin teknologi atau bahan baku, pemerintah juga harus memperhatikan aspek ekologi. Oleh karena itu idealnya di sini pasti membutuhkan keterlibatan dari multipihak termasuk swasta itu masih perlu,” katanya.

Dari organisasi akar rumput, arsitek perkotaan sekaligus inisiator Indonesia Berkebun Sigit Kusumawijaya pun mengatakan kerja sama berbagai pihak sangatlah diperlukan dalam melestarikan air dan lingkungan.

“Salah satu masalah lingkungan adalah banjir yang penyebab utamanya adalah sampah yang diperkirakan mencapai 130.000 ton per hari. Sebesar apa pun usaha aparat menangani banjir, jika masyarakat tetap membuang sampah sembarangan maka masalah tidak akan bisa diatasi,” kata Sigit.

Penulis: Danny Kosasih

Tabel Konsumsi air di Provinsi DKI Jakarta selama tahun 2014. Sumber: Badan Pusat Statistik DKI Jakarta

Tabel Konsumsi air di Provinsi DKI Jakarta selama tahun 2014. Sumber: Badan Pusat Statistik DKI Jakarta

Top
You cannot copy content of this page