Waspada Potensi Bencana Geologi dan Vulkanologi di 2020

Reading time: 2 menit
potensi bencana vulkanologi
Gunung Merapi, Jawa Tengah mengalami erupsi pukul 06.21 WIB, pada Sabtu, 9 November 2019. Terlihat abu tipis terdistribusi di beberapa wilayah di sekitar lereng gunung. Foto: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)

Jakarta (Greeners) – Proyeksi bencana pada tahun 2020 diperkirakan berupa peristiwa geologi dan vulkanologi. Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi (Pusdatinkom) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP) Agus Wibowo, potensi bencana yang perlu diwaspadai tahun depan yakni gempa yang disertai tsunami dan erupsi gunung berapi.

Hasil rekapitulasi data bencana Indonesia 2019 yang dihimpun Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan (Pusdatinkom) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan, tren bencana mengalami peningkatan, tetapi jumlah korban dan kerugian menurun dibanding tahun sebelumnya.

Adapun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan terdapat enam zona yang berpotensi aktif berdasarkan titik persebaran gempa (seismitas) 2019 yakni, Nias, Lombok-Sumba, Ambon, Banda, dan Mamberamo.

Baca juga: BNPB Peringatkan Potensi Bencana Hidrometeorologi Tahun Depan

Untuk itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengimbau agar daerah yang berpotensi mengalami kerawanan tingkat tinggi selalu waspada. Ia juga meminta pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kapasitasnya. “Kami mengimbau masyarakat dapat menjadikan informasi peringatan dini sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan untuk kesiapsiagaan,” kata Dwikorita, di Graha BNPB, Jakarta Timur, kemarin.

Sementara Kepala BNPB Doni Monardo menuturkan upaya pencegahan tetap menjadi hal yang utama dalam penanggulangan bencana. Ia juga mengingatkan agar kesadaran kolektif antarpemerintah hingga masyarakat dapat berjalan beriringan. Pelibatan ahli dan peran kearifan lokal harus digunakan sebagai langkah untuk memberikan pemahaman pada masyarakat.

“Menyadarkan masyarakat tidak bisa dilakukan pemerintah pusat saja. Perlu adanya campur tangan kearifan lokal yang ada di tengah masyarakat, baik tokoh adat maupun tokoh agama. Karena urusan bencana adalah urusan bersama,” ucap Doni.

Baca juga: BMKG Serukan Waspada Terhadap Ancaman Bencana Kekeringan

Selama kurun waktu tahun 2019 BNPB mencatat terdapat 3.768 kejadian yang didominasi oleh banjir, longsor, dan puting beliung. Sebanyak 99 persen merupakan jenis bencana hidrometeorologi dan sisanya berupa peristiwa geologi. BNBP juga mencatat, dampak bencana mengakibatkan sebanyak 478 orang meninggal dunia, 109 orang hilang, 6,1 juta jiwa mengungsi, dan 3.419 orang luka-luka.

Bencana juga mengakibatkan sebanyak 73.427 rumah rusak. Masing-masing terdiri dari 15.765 rumah rusak berat, 14.548 rusak sedang, dan 43.114 rusak ringan. Sedangkan fasilitas umum yang rusak sebanyak 2.017 meliputi 1.121 fasilitas pendidikan, 684 tempat ibadah, 212 fasilitas kesehatan, 274 kantor, dan 442 jembatan.

Penulis: Dewi Purningsih

Top