Babun Gelada, Primata Asli dari Etiopia

Reading time: 3 menit
Mamalia ini punya cara bergeser yang unik saat makan. Foto: Freepik

Selain babun hamadria, babun gelada adalah spesies monyet dunia lama yang tergabung dalam keluarga Cercopithecidae. Hewan ini hanya dapat kita temukan di dataran tinggi Etiopia, serta termasuk sebagai satu-satunya anggota yang masih tersisa dari genus Theropithecus.

Gelada mempunyai nama ilmiah Theropithecus gelada. Hewan ini masih berkerabat dengan mangabey, kipunji, monyet drill, dan monyet dukun. Namun, mereka berasal dari genus yang berbeda.

Di habitat aslinya, spesies monyet satu ini terbagi atas dua subspesies. Pembagian subspesies tersebut berdasarkan lokasi penemuan satwa, yaitu subspesies gelada utara, gelada timur, dan gelada selatan.

Di wilayah timur, subspesies yang ditemukan mempunyai nama ilmiah T. g. gelada. Sedangkan subspesies di wilayah timur dan selatan diberi nama T. g. obscurus, atau dikenal sebagai gelada heuglin.

Morfologi dan Ciri-Ciri Babun Gelada

Babun gelada, seperti kebanyakan spesies monyet, memiliki dimofisme seksual yang jelas terlihat. Betina umumnya mempunyai ukuran tubuh lebih kecil, lalu beberapa corak bulunya juga berbeda dengan jantan.

Sang pejantan dapat berkembang biak hingga seberat 20,25 kg. Tubuh mereka (dari kepala sampai ke badan) memiliki panjang antara 69–74 cm, sementara ekornya dapat mencapai 45–50 cm.

Bobot rata-rata betina hanya berkisar 14,8 kg. Panjang tubuh mereka mencapai 50–65 cm, sedangkan panjang ekornya 30–41 cm. Keduanya memiliki moncok pendek, tetapi dengan lubang hidung yang lebar.

Bila diperhatikan, bentuk wajah gelada lebih mirip simpanse daripada babun. Bagian ini tidak ditutupi bulu, tetapi bagian lainnya mempunyai bulu yang cukup tebal dengan warna cokelat tua hingga keabu-abuan.

Di bagian dada terdapat bulu-bulu berwarna putih yang memagari kulit berwarna kemerahan. Bagian merah ini merupakan ciri khas monyet tersebut, yang mana dapat berubah warna sesuai kondisi hormonal.

Habitat dan Distribusi Babun Gelada

Babun gelada beraktivitas di atas tanah dan mencari makan di padang rumput. Monyet ini lebih suka tidur di tebing berbatu, di mana mereka turun pada pagi hari untuk mencari makanan di sekitarnya.

Sebagian besar populasi gelada dijumpai pada ketinggian 2.000–5.000 meter di atas laut. Mereka merupakan penghuni dataran tinggi Ethiopia dan Eritrea, terutama di Taman Nasional Pegunungan Semien.

Selain padang rumput, spesies T. gelada juga sering beraktivitas di area savana. Mereka mempunyai sifat diet graminivor, sehingga 90 % asupan makanannya adalah dedaunan, rerumputan, hingga biji-bijian.

Melansir IUCN Red List, status konservasi gelada berada pada kategori “least concern” atau berisiko rendah. Namun tren populasinya menurun, sehingga perlu langkah preventif untuk mencegah kepunahan.

Salah satu pemicu merosotnya populasi monyet ini adalah alih fungsi lahan. Habitatnya terus tergerus akibat masifnya aktivitas pembukaan lahan pertanian, perkebunan, serta pembangunan industri lainnya.

Perilaku dan Kebiasaan Babun Gelada

Mirip seperti manusia, babun gelada hidup dalam tatanan masyarakat yang multi-level. Artinya kehidupan sosial mereka terbagi atas unit-unit tertentu, yang notabene-nya unit paling kecil adalah keluarga.

Satu keluarga terdiri atas satu atau beberapa jantan, serta 2–10 betina dan keturunannya. Satu unit keluarga ini bepergian bersama-sama, lalu bergabung dengan keluarga lain dan membentuk kawanan besar.

Kawanan gelada dapat mencapai 1.200 individu, sehingga dinobatkan sebagai salah satu kelompok primata dengan anggota terbanyak. Para jantan memiliki peranan besar dalam memimpin kelompok tersebut.

Hewan mamalia ini juga memiliki cara bergeser yang unik saat makan. Ia berjongkok secara bipedal (dengan dua kaki belakang), lalu bergerak dengan menggeser kaki tanpa mengubah postur tubuh.

Karena kebiasan tersebut, pantat gelada tersembunyi di bagian bawah dan tidak dapat terlihat. Kulit dadanya yang berwarna merah sangat jelas terpampang, mirip seperti gerakan manusia saat bergeser.

Taksonomi Theropithecus Gelada

Penulis : Yuhan al Khairi

Top

You cannot copy content of this page