Bambu Laut, Biota yang Terancam Kelangsungan Hidupnya

Reading time: 2 menit
bambu laut
Bambu laut (Isis hippuris). Foto: Ist.

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menetapkan Keputusan Menteri tentang moratorium bambu laut pada tahun 2014. Perlindungan terhadap satwa ini telah ditetapkan oleh pemerintah yang tercantum dalam KEPMEN-KP No. 46/2014 tentang Penetapan Status Perlindungan Terbatas Jenis Bambu Laut (Isis spp.). Peraturan yang diambil pemerintah ini merupakan langkah nyata dalam upaya pengelolaan bambu laut beserta ekosistemnya agar tetap lestari.

Berdasarkan artikel yang dikutip pada laman kkji.kp3k.kkp.go.id, bambu laut (Isis hippuris) adalah salah satu jenis oktokoral yang hidup diperairan tropis Indo – Pasifik. Oktokoral, merupakan biota penyusun terumbu karang kedua sesudah karang batu. Bentuk pada oktokoral pada umumnya seperti pohon, muncul dari substrat/melekat di dasar perairan yang keras. Fauna ini termasuk kelompok gorgonia dengan tekstur tubuh kokoh karena disangga oleh kerangka yang keras.

Nama lokal dari fauna ini pun beragam, seperti patah tulang, sariawan dan karang bambu. Berdasarkan beberapa sumber, bambu laut memiliki berbagai macam warna seperti warna keemasan, kuning terang kehijau-hijauan atau coklat.

Pola percabangannya pun bervariasi. Secara sepintas koloni bambu laut terlihat mirip dengan koloni akar bahar Rhumpella sp., karena memiliki pertumbuhan yang seperti semak dan permukaan koloninya halus. Namun koloninya terkadang tampak melengkung dan berbentuk seperti busur atau tempat lilin.

Bambu laut terdiri dari kumpulan individu karang atau polip yang tersusun pada tangkai karang lunak berupa jaringan berdaging yang diperkuat suatu matriks dari partikel-partikel kapur mikroskopis yang disebut sklerit. Bentuk tangkai makhluk laut ini adalah bercabang, dan kebanyakan dari cabang-cabangnya sangat pendek.

Tubuhnya didominasi oleh kalsium karbonat, namun terdapat beberapa jenis yang tidak mengandung zat kapur. Teksturnya pun agak kaku dan hanya sedikit bergoyang jika terkena ombak. Koloni dari bambu laut dapat di pisah-pisahkan sesuai dengan tangkai utamanya di terumbu karang.

Umumnya bambu laut tersebar luas di perairan dangkal yang jernih. Di Great Barrier Reef, Australia, karang jenis ini biasanya terdapat pada bagian mid-shelf terumbu karang, yaitu di perairan dangkal yang aman dari aksi gelombang. Jenis ini biasanya melimpah di bagian tengah Barrier Reef, dan keberadaannya hampir tidak dijumpai pada perairan yang keruh.

Di Indonesia jenis ini mendominasi perairan Indonesia bagian timur, terutama perairan Sulawesi, Maluku dan Papua. Pemanfaatannya banyak dilakukan oleh masyarakat pesisir. Hal ini dilatarbelakangi oleh tingginya permintaan pasar yang berasal dari pedagang atau pengumpul yang membeli langsung, sehingga bambu laut banyak diburu dan diperdagangkan oleh masyarakat.

Bambu laut diketahui juga mengandung senyawa antivirus dan banyak dimanfaatkan secara umum oleh masyarakat sebagai bahan baku farmasi. Laporan dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Pangkep bambu laut juga dicari untuk bahan campuran pembuatan keramik porselen.

Oleh masyarakat setempat, bambu laut diambil dengan peralatan yang sederhana, yaitu dengan linggis dan parang. Cara atau teknik pengambilan dengan mematahkan batang dan ranting bambu laut, agar dapat menyisakan koloni supaya tetap hidup. Namun tidak semua pengambilan bambu laut sebatas batang dan ranting. Adapun hampir sebagian besar pengambilan dilakukan dengan mengambil koloni bambu laut secara utuh dan merusak karang keras di bawahnya. Kegiatan eksploitasi bambu laut ini dilakukan dengan penangkapan ikan maupun khusus untuk mengambil biota ini.

Berdasarkan situs resmi kkji.kp3k.kkp.go.id, hasil kajian dan survei status populasi bambu laut yang dilakukan peneliti UNHAS dan BPSPL Makassar menunjukan bahwa populasi satwa laut ini sudah jarang ditemukan di perairan Sulawesi. Gubernur Sulawesi pun telah menindaklanjuti hasil kajian dari UNHAS dengan mengeluarkan SK Pelarangan Pemanfaatan Bambu Laut pada tahun 2009.

bambu laut

Penulis: Sarah R. Megumi

Top
You cannot copy content of this page