Berberis Darwinii, Tanaman Semak Berbuah yang Sangat Invasif

Reading time: 2 menit
Meski memiliki sejumlah manfaat, fauna ini ternyata punya sifat invasif. Foto: Shutterstock

Berberis darwinii atau biasa disebut Darwin’s barberry adalah spesies tanaman berbunga yang berasal dari famili Berberidaceae. Ia berkerabat dekat dengan spesies barberry Eropa (Berberis vulgaris) karena berasal dari genus yang sama.

Kelompok Berberis berbiak dengan ukuran kecil sampai sedang antara 1-5 meter. Tumbuhan ini umum awam temukan di seluruh daerah beriklim subtropis di dunia, kecuali Australia.

Amerika Selatan dan Asia adalah sentral pertumbuhan Berberis. Namun berbagai spesiesnya turut ahli temukan di Eropa, Afrika dan Amerika Utara, dengan karakteristik yang berbeda.

Berberis darwinii misalnya, jenis barberry ini dianggap hama dan invasif di kawasan Selandia Baru. Meski begitu, ia juga ternaturalisasi di Australia dan Irlandia sebagai tanaman penghias.

Morfologi dan Ciri-Ciri Berberis Darwinii

Berberis darwinii banyak yang mengenal memiliki sejumlah julukan seperti michay, calafate dan quelung. Mereka merupakan kelompok semak duri yang selalu hijau dan tumbuh setinggi 3-4 meter.

Michay umumnya memiliki cabang yang lebat dengan daun berbentuk oval kecil. Panjang daun tersebut ahli sinyalir berkisar 12-25 mm serta mempunyai lebar berkisar 5-12 mm.

Bagian ini dapat kita kenali dari pertumbuhannya yang berkelompok (2-5 daun). Tepiannya tampak berduri tajam, dengan bagian tulang belakang bercabang tiga sepanjang 2-4 mm.

Bunga calafate terbilang cukup indah dengan warna oranye kekuningan. Panjang bunganya antara 4-5 mm, berkembang saat musim panas dengan bentuk ras padat sepanjang 2-7 cm.

Seperti namanya, Berberis darwinii pertama kali Charles Darwin temukan pada tahun 1835. Buahnya ahli ketahui telah lama dikonsumsi, terutama oleh penduduk asli di Patagonian.

Sifat dan Karakteristik Berberis Darwinii

Di sejumlah negara, kelompok Berberis mempunyai reputasi yang kurang baik. Banyak yang mengenalnya sebagai hama bahkan dapat mengundang berbagai penyakit bagi lingkungan sekitarnya.

Barberry Eropa dan barberry Amerika (Berberis canadensis) misalnya, ada larangan untuk memperjualbelikan jenis ini. Alasannya karena dapat meningkatkan infeksi jamur serius pada tanaman gandum.

Keduanya merupakan inang dari jenis jamur karat (Puccinia graminis). Jamur itu ahli ketahui dapat menginfeksi penyakit karat batang, yang bisa menghambat pertumbuhan biji-bijian.

Berberis darwinii atau Darwin’s barberry pun demikian, karena pertumbuhannya yang cukup cepat, tanaman semak tersebut menjadi sangat invasif jika kita tanam di luar habitat aslinya.

Pemerintah Selandia Baru bahkan memasukkan Berberis ini dalam daftar National Pest Plant Accord. Dengan itu, tanaman tersebut terlarang untuk diperjualbelikan serta publik biakkan.

Kegunaan dan Manfaat Berberis Darwinii

Di luar segala “kontroversinya,” Berberis darwinii ternyata menjanjikan segudang manfaat. Orang-orang menjadikan flora ini sebagai ornamen pagar sampai bahan baku obat herbal.

Di Inggris Darwin’s barberry jamak warga tanam sebagai penghalau jendela rumah. Selain cantik, duri-durinya yang tajam masyarakat nilai ampuh untuk mencegah tindak pencurian.

Bagi warga Eropa dan Asia Barat, barberry baik dikonsumsi karena kaya vitamin C. Mereka dikenal sebagai zereshk di Iran, serta sering publik manfaatkan sebagai penyedap masakan.

Argentina dan Chili, negara asal Berberis darwinii, memiliki cara lain dalam memaksimalkan flora ini. Buahnya jamak khalayak gunakan sebagai bahan baku selai serta minuman ringan.

Beberapa orang percaya bahwa barberry mengandung alkaloid isoquinolone. Ini tentu perlu ahli teliti lebih lanjut, sehingga penggunaannya sebagai obat herbal belum pakar anjurkan.

Taksonomi Spesies Darwin’s Barberry

Penulis : Yuhan al Khairi

Top
You cannot copy content of this page