Cici Merah, Burung Pengicau yang Pintar Menjahit

Reading time: 3 menit
Burung ini menata sarangnya dengan rumput dan serat tumbuhan. Foto: Shutterstock

Ada banyak jenis burung pengicau di Indonesia. Tidak cuma bernyanyi, beberapa burung itu bahkan memiliki tampilan yang indah. Contohnya saja kelompok cici merah, burung berbulu kuning yang punya suara lantang.

Cisticola exilis merupakan nama ilmiah spesies cici merah. Mereka ahli gabungkan ke dalam famili Cisticolidae dan genus Cisticola, sehingga berkerabat dengan cici padi atau C. juncidis.

Dalam bahasa asing, spesies hewan ini dikenal juga sebagai golden-headed cisticola. Hal itu merujuk pada mahkota kuning sang jantan, yang baru dapat terlihat saat musim kawin tiba.

Penampilan C. exilis dan C. juncidis sejatinya cukup mirip. Keduanya sama-sama punya bulu berwarna kuning, walaupun warna tersebut terlihat lebih terang pada bagian mata cici padi.

Morfologi dan Ciri-Ciri Burung Cici Merah

Ukuran tubuh golden-headed cisticola umumnya tidak terlalu besar. Mereka hanya berbiak sampai sepanjang 11 cm, dengan sisi atas tubuh berwarna kecokelatan serta bergaris hitam.

Sisi bawah tubuh burung tersebut tampak kuning tua. Kelompok jantan bisa kita tandai dari mahkota atau cambulnya, sedangkan sang betina hanya memiliki corak bergaris kehitaman.

Burung cici merah mempunyai ekor pendek berwarna cokelat tua dengan ujung kuning. Iris matanya tampak berwarna cokelat, sedangkan kakinya berwarna cokelat muda atau terang.

Bagian paruh memiliki dua corak warna; cokelat tua di bagian atas dan merah muda bagian bawah. Badan mereka membulat dan agak buntal, sedangkan bola matanya kecil dan hitam.

Secara kasat mata, burung-burung dari keluarga Cisticola memang sangat sulit diidentifikasi. Ciri khas masing-masing spesies tidak terletak pada corak bulu, namun suara atau kicaunya.

Habitat dan Distribusi Burung Cici Merah

Perlu Anda ketahui, burung cici merah sejatinya memiliki 12 anak jenis. Berbagai subspesies tersebut menyebar ke berbagai daerah mulai dari wilayah India sampai ke Australia, seperti:

  • Subspesies C. e. erythrocephalus bermukim di wilayah India selatan (Karnataka tengah dan selatan, Tamil Nadu barat dan Kerala)
  • Subspesies C. e. tytleri berada di India utara dan Nepal selatan, Burma barat dan utara, serta Cina selatan (Xizang tenggara dan Yunnan barat)
  • Subspesies C. e. equicaudatus menghuni wilayah Burma timur, Thailand (kecuali bagian selatan), Laos, Kamboja, dan Vietnam selatan
  • Subspesies C. e. courtoisi berada di Cina selatan dan timur (Yunnan tenggara, Anhui selatan dan Fujian barat laut, serta Guanxi dan Guangdong)
  • Subspesies C. e. volitans memiliki distribusi terbatas di kawasan Taiwan
  • Subspesies C. e. semirufus hanya ada di Filipina (kecuali Palawan) dan Kepulauan Sulu
  • Subspesies C. e. lineocapilla bermukim di wilayah Pulau Sumatra, Kalimantan barat daya, Jawa, Sunda Kecil dan Australia barat laut.
  • Subspesies C. e. rusticus ditemukan di Pulau Sulawesi, Peleng, Buru dan Seram
  • Subspesies C. e. diminutus menghuni dataran rendah Papua Nugini, pulau-pulau di Selat Torres, sampai ke Queensland utara
  • Subspesies C. e. polionotus terbatas di Kepulauan Bismarck (New Britain, New Ireland, serta pulau-pulau di sekitarnya
  • Subspesies C. e. alexandrae Australia utara (Australia Barat bagian utara, pedalaman Northern Territory ke timur hingga Queensland tengah)
  • Subspesies C. e. exilis bermukim di Australia tenggara (Queensland tenggara, New South Wales, Australia Selatan bagian tenggara, Victoria tenggara dan King Island).

Di tanah air, spesies cici merah jamak ditemukan di kawasan bukit dan pegunungan. Mereka dapat terbang sampai daerah berketinggian 1.200-1.830 meter di atas permukaan laut (dpl).

Perilaku dan Kebiasaan Burung Cici Merah

Golden-headed cisticola mempunyai kemampuan yang unik. Mereka bisa menata sarangnya dengan rumput serta serat tumbuhan, lalu menjahit bagian luarnya dengan jaring laba-laba.

Sarang yang berbentuk bola itu dibuat memanjang namun berongga di bagian dalamnya. Ini biasanya diletakkan pada batang-batang rumput, alang-alang, maupun daerah persawahan.

Karena itu, spesies cici merah sendiri dijuluki sebagai burung penjahit. Mereka mencari ulat dan serangga sebagai makanan, sambil sesekali terdengar berkicau dari balik semak belukar.

Pejantan biasanya mengeluarkan suara nyaring seperti dengingan serangga. Suara tersebut diikuti oleh bunyi seperti “pluk” keras, serta kicauan mencaki-maki yang tinggi dan lantang.

Di Pulau Jawa, musim kawin kelompok C. exilis terjadi sekitar bulan Mei. Induk betina dapat menghasilkan 3-4 butir telur; warnanya biru pucat tapi kadang-kadang dihiasi bintik merah.

Taksonomi Spesies Cisticola Exilis

Penulis : Yuhan al Khairi

Top