Kantor di Dalam Kotak Telepon Umum

Reading time: 2 menit
Foto: pixabay.com

Bagi banyak orang, kotak telepon umum di Inggris yang berwarna merah terang merupakan ikon negara ini. Bahkan kotak telepon tersebut pernah terpilih sebagai karya desain terbaik di Inggris. Namun di era telepon pintar seperti saat ini, kotak telepon umum yang disukai banyak orang ini tidak lagi dibutuhkan seperti dulu.

Sebuah perusahaan penyedia tempat co-working asal New York, Amerika bernama Bar Works muncul dengan ide uniknya. Mereka menjadikan kotak telepon umum di London, Edinburgh dan Leeds menjadi sebuah kantor kecil untuk para wirausahawan.

Bar Works menciptakan sebuah alternatif untuk kantor co-working yang trendi dan memperkuat aspek pembentukan jaringan kerja di tempat kerja bersama ini. Di tempat dengan suasana seperti di bar, pembentukan jaringan kerja akan lebih mudah terjalin.

Foto: commons.wikimedia.org

Foto: commons.wikimedia.org

Sekarang mereka memperluas layanannya ke Inggris dengan Pod Works. Mereka mengubah kotak telepon umum menjadi kantor untuk para wirausahawan yang memerlukan kantor sementara sebelum wirausahawan ini presentasi ke klien atau menghadapi wawancara.

Setiap kotak telepon akan dilengkapi dengan layar berukuran 25 inci, tetikus tanpa kabel, printer/scanner, power bank, Wi-Fi dan mesin untuk minuman. Jangan takut kedinginan akibat cuaca di London karena kotak telepon ini juga dilengkapi dengan mesin pemanas. Penggunanya harus membayar sekitar 19.99 poundsterling untuk akses selama 24 jam.

Bar Works bekerjasama dengan Red Kiosk Company untuk mencari cara untuk menggunakan kembali kotak-kotak telepon tersebut. Saat ini Bar Works telah mengambil alih 14 buah kotak telepon.

Seperti dikutip dari Inhabitat, CEO Bar Works, Jonathan Black mengatakan, “Wirausahawan dan beberapa orang yang mobilitasnya tinggi, selalu memerlukan tempat kerja yang nyaman, terjangkau namun dengan privasi yang baik. Untuk apa mereka duduk di Starbucks atau cafe lainnya kalau di tempat kami mereka bisa benar-benar fokus pada pekerjaan mereka, dengan harga yang hanya sebesar 2 cangkir kopi per minggu?”

Penulis: NW/G15

Top
You cannot copy content of this page