Rumah Igloo untuk Tuna Wisma di Hawai

Reading time: 2 menit
Rumah igloo untuk tunawisma di Hawai. Foto: inhabitat.com

Hawai sedang mengalami krisis dalam usahanya mengatasi tuna wisma yang saat ini sangat banyak. Hingga akhirnya sebuah gereja di Honolulu menyediakan sebuah solusi yang terinspirasi dari sebuah perusahaan di Alaska. InterShelter adalah pembuat rumah berbentuk kubah yang dipabrikasi dari bahan fiberglass dengan bentuk seperti sebuah igloo (rumah khas orang eskimo, Red).

InterShelter adalah rumah yang relatif mudah didirikan dan dipindahkan. Penampungan mungil berbentuk bundar ini menghasilkan solusi sementara untuk mereka yang tidur di jalanan negara bagian Aloha. Sampai saat ini, Gereja First Assembly of God sudah mendirikan 12 buah igloo untuk para tuna wiswa.

Tahun 2015, Gubernur Hawai menyatakan situasi gawat berkaitan dengan orang-orang yang tidak memiliki rumah di negara tersebut. Dengan tingkat rata-rata tuna wisma tertinggi per kapita di Amerika, tentu saja data tersebut tidak cocok dengan opini bahwa Hawai adalah seperti surga. Namun, kurangnya perumahan yang disediakan negara membuat Gereja First Assembly of God mencari sendiri solusinya.

Rumah igloo untuk tunawisma di Hawai. Foto: inhabitat.com

Rumah igloo untuk tunawisma di Hawai. Foto: inhabitat.com

Pihak gereja mengumpulkan donasi sebanyak $100,000 atau sekitar 1,3 milyar rupiah dari jemaahnya dan dari komunitas lain. Mereka membeli rumah kubah ini seharga $9,500 atau sebesar Rp 125 juta dengan tambahan sekitar 8 juta rupiah untuk pengiriman.

Pastur senior Klayton Ko berkata bahwa tingkat tuna wisma yang tinggi adalah sebuah situasi krisis. Walaupun solusi ini belum memiliki dampak yang besar, gereja ini memandang bahwa rumah-kubah adalah satu langkah awal untuk sebuah solusi permanen bagi masalah tuna wisma di Hawai.

Setiap rumah-kubah igloo dapat dihuni oleh empat orang dan memberi keamanan pada penghuninya dibandingkan hidup di jalanan. Rumah seluas 30 meter persegi dengan lebar 6 meter ini dibuat dengan menempalkan 21 buah panel fiberglass yang saling menutupi dan menumpuk seperti keripik kentang.

Menurut Don Kubley, CEO InterShelter, dia merancang rumah-kubah ini untuk menjadi tempat perlindungan pengungsi, tunawisma dan korban bencana alam. Seperti dikutip dari Inhabitat.com, Kubley mengatakan, “ada tiga hal yang diperlukan untuk bertahan hidup: makanan, air dan tempat perlindungan, dan kami adalah sepertiga dari formula tersebut.”

Penulis: NW/G15

Top
You cannot copy content of this page