Abdon Nababan, Lebih dari Dua Dekade Memperjuangkan Hak Masyarakat Adat

Reading time: 6 menit
abdon nababan

Abdon Nababan. Foto: greeners.co/Arief Tirtana

“Menemukan” Masyarakat Adat

Pada masa itu gerakan lingkungan hanya dimotori oleh segelintir kaum inlektual mantan aktivis mahasiswa yang tidak mau kerja ke pemerintah yang akhirnya membentuk LSM. Mereka yang sedikit itu, tidak memiliki basis konstituensi yang bisa digerakan untuk melawan pengusakan lingkungan. Ini juga, menurut Abdon, untuk membantu gerakan lingkungan agar gerakan lingkungan tidak dianggap sebagai gerakan kegenitan intelektual tapi gerakan yang punya konstituen dilapangan.

Masalah berikutnya adalah belum adanya istilah penyebutan untuk masyarakat yang ada di dalam atau sekitar hutan itu sejak lama dan telah memiliki adat istiadat sendiri. Istilah masyarakat adat baru benar-benar disepakati pada tahun 1993, pada pertemuan Jaringan Hak-hak Masyarakat Adat (JAPHAMA) di Tana Toraja.

“Wacananya (penamaan masyarakat adat) sudah lama ada, namun kesepakatannya baru saat itu. Jadi sudah jangan pakai lagi kata lain, misalnya masyarakat hukum adat. Kalau istilah itu,seolah-olah hanya masalah urusan hukum, padahal ada budaya, ekonomi dan lainnya. Dan agar juga tidak dijajah sarjana hukum saja, jadi antropolog bisa masuk, sosiolog, ahli politik bisa, cakupannya lebih luas dan lebih holistik,” terang inisiator Forest Watch Indonesia ini.

Abdon melanjutkan, berbicara masyarakat adat sebenarnya terkait empat hal. Pertama, bahwa sebuah kelompok masyarakat bisa disebut masyarakat adat jika memiliki identitas adat; kedua, wilayah adat; ketiga, memang masih hidup dengan sistem pengetahuan dan spiritual; dan keempat, adanya pranata adat yang mencakup aturan adat dan susunan lembaga adat.

Dalam pertemuan JAPHAMA yang berlangsung di Tana Toraja 1993, disepakati permintaan tokoh adat yang hadir agar LSM menjadi fasilitator diadakannya Kongres tingkat nasional. Sempat diupayakan berkali-kali, namun selalu gagal saat rezim Orde Baru masih bekuasa. Baru setelah kejatuhan Orba, Kongres berhasil digelar pada tahun Maret 1999.

Kongres inilah yang menjadi tanda berdirinya Aliansi Masyarakat Adat Nasional (AMAN). Abdon yang saat kongres menjabat sebagai wakil ketua panitia dan merupakan masyarakat adat dari tano Batak kemudian dipercaya menjadi Sekretaris Pelaksana (Sekpel) menggantikan sekertaris pelaksana yang terpilih saat kongres yang ternyata bukan berasal dari masyarakat adat.

Memimpin AMAN sebagai Sekpel dalam rentang 1999-2013, kepemimpinan Abdon sempat digantikan pada empat tahun periode berikutnya. Namun karena merosotnya kualitas organisasi saat itu, dirinya kembali diminta maju memimpin AMAN pada 2007. Posisinya saat itu bukan lagi Sekpel, namun menjadi Sekretaris Jendral (Sekjen)sesuai perubahan struktur oganisasi yang dilakukan AMAN.

Kapabilitas Abdon yang baik selama memimpin AMAN membuat dirinya begitu dipercaya kalangan masyarakat adat, sehingga pada periode berikutnya Abdon kembali dipercaya mengemban jabatan Sekjen hingga Maret 2017. Saat ini, Abdon memang telah menyerahkan suksesi kepemimpinan AMAN kepada Ruka Simbolinggi, namun dirinya masih dipercaya menjabat sebagai Perwakilan Dewan Adat Nasional region Sumatera sekaligus Wakil Ketua Dewan Adat nasional AMAN.

Sekalipun tidak lagi menjabat sebagai Sekjen, Abdon mengaku masih ada saja masyarakat adat yang menelponnya untuk melaporkan adanya kejadian di tempat mereka. “Saya selalu mengangkat telepon dari mereka (masyarakat adat), tengah malam sekalipun karena saya membayangkan mereka tengah malam turun dari gunung hanya untuk menelpon saya. Tidak mungkin saya tidak mengangkat telpon. Paling setelahnya saya bilang ‘habis lapor ke saya, lapor ke Sekjen (yang sekarang menjabat) juga ya’,” kata bapak dua anak ini.

Masa-masa menjadi Sekjen AMAN diakui Abdon memang menjadi masa hidupnya yang paling produktif. Saat ini, sekalipun masih terlibat dalam beberapa organisasi baik nasional maupun internasional, dirinya bisa sedikit melakukan hobi yang selama ini sulit tersalurkan.

“Kalau mengikuti hobi, saya ingin jalan-jalan lagi. Sebagai Sekjen AMAN memang jalan namun kan naik pesawat. Saya enggak pernah lagi motret dan buat catatan riset. Sebagai sekjen kan waktunya sebentar,belum sempat bencengkrama harus sudah pulang,” kata penerima penghargaan Elinor Ostrom 2015 ini.

(Selanjutnya…)

Top
You cannot copy content of this page