Alam, Kearifan Suku Tengger dan Tahun Baru

Reading time: 4 menit

MALANG (Greenersmagz) – Dukun Ngatrulin mengucapkan mantra-mantra di depan aneka persembahan di Sanggar Pamujan, Desa Ngadas, Poncokusumo, Malang, Jawa Timur, Minggu (30/12/2012). Itu adalah prosesi puncak upacara adat Unan-unan bagi masyarakat tengger. Ribuan masyarakat Tengger pun diam, terhanyut dengan mantra sang dukun yang memimpin upacara Unan-unan. Sesekali mereka mengucap kata “Nggeh” atau “Iya” dalam bahasa Indonesia saat bacaan mantra Mbah Ngatrulin berhenti sementara.

Kabut putih yang datang menambah suasana magis prosesi upacara adat Unan-unan yang diselenggarakan sewindu sekali atau lima tahun sekali (sewindu menurut kalender tengger adalah lima tahun) ini. Aneka persembahan seperti kepala kerbau yang ditaruh di ancak dengan ubo rampe 100 tumpeng yang dilengkapi beragam hasil bumi dan dibungkus daun tlotok pun dibacakan mantra oleh Mbah Ngatrulin. Satu-persatu persembahan dimantrai. Di sela-sela membaca mantra, persembahan atau simbol-simbol di dalam upacara Unan-unan seperti beras, tali putih dibagikan kepada masyarakat setelah dibacakan mantra sebelumnya. Tali putih tersebut diikatkan di tangan kanan mereka dan tidak boleh dilepas kecuali lepas sendiri.

Sedangkan persembahan kepala kerbau yang dibelakangnya terdapat 100 tumpeng yang dibungkus daun tlotok menjadi rebutan masyarakat selesai prosesi upacara adat. Selesai berebut tumpeng, mereka pun berbondong-bondong menuju rumah Kepala Desa untuk melaksanakan kauman atau makan-makan bersama. Suasana akrab dan guyub sangat terasa di antara mereka. Raut muka lega dan senang terlihat di wajah mereka. Sebab, telah melaksanakan upacara adat lima tahun sekali yang dipersiapkan sejak jauh-jauh hari dengan dana sukarela yang berasal dari iuran masyarakat Desa Ngadas sendiri.

Menurut Dukun Ngatrulin, upacara Unan-unan merupakan salah satu upacara adat masyarakat Tengger sebagai bentuk penghormatan kepada alam semesta untuk menghindari malapetaka. Selain itu, juga bertujuan untuk memberikan sedekah kepada penjaga sumber mata air yang telah memberikan manfaat bagi kehidupan serta menjaganya. “Warga tengger tidak akan berani menebang pohon-pohon besar yang di bawahnya terdapat sumber mata air,” kata Dukun Ngatrulin saat diwawancarai Greenersmagz.

greeners_communityact_kearifan_tengger_3

Ngatrulin yang sudah ditunjuk sebagai dukun atau pemimpin upacara adat di Desa Ngadas, Poncokusumo, Malang, sejak tahun 1955 menjelaskan masyarakat suku Tengger sangat menghormati sekali terhadap alam seperti hutan, sumber mata air, tanah pertanian. Sehingga, mereka mempunyai cara-cara tersendiri untuk memperlakukan alam dan merawatnya selama berpuluh-puluh tahun. Termasuk menjaga keseimbangan alam menurut cara mereka sendiri dengan melakukan upacara-upacara adat sebagai bentuk penghormatan kepada alam.

Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup Jawa Timur (Walhi), Purnawan D Negara, yang juga sedang melakukan penelitian mengenai hukum adat suku Tengger di Desa Ngadas, menyatakan, masyarakat Ngadas atau Suku Tengger, kalau ditanya lebih takut mana  tidak ada dukun atau kepala desa, maka jawabnya adalah lebih takut tidak ada dukun. “Mereka lebih takut tidak ada dukun atau pemimpin upacara adat, ini membuktikan mereka patuh sekali terhadap hukum adat,” kata Purnawan.

Top
You cannot copy content of this page