Project Child Indonesia Dampingi Anak-Anak Pahami Alam

Reading time: 3 menit
Kegiatan Project Child Indonesia bersama anak-anak untuk kenali alam dan lingkungan. Foto: Project Child Indonesia

Jakarta (Greeners) – Sebagai sebuah NGO yang berdiri 11 tahun lalu, Project Child Indonesia ingin terus membangun iklim pendidikan anak-anak yang menyatu pada alam. Dalam setiap programnya, NGO ini membuka ruang anak-anak Indonesia memahami dan menyatu dengan alam.

Adalah Surayah Ryha dan Marvin Kiefer para inisiator berdirinya Project Child Indonesia. Awalnya, organisasi ini dibentuk secara tak sengaja, tepatnya di Kricak Kidul, Tegalrejo, Yogyakarta. Saat itu, Surayah dan Marvin tengah mengajari ibu-ibu menjahit.

Selama kegiatan menjahit, keduanya bertemu dengan anak-anak di lokasi yang ingin diajari bahasa Inggris oleh Marvin. Bermula dari sinilah, Project Child Indonesia berkembang luas, termasuk aktif pada isu-isu pendidikan lingkungan dan alam.

Program Manager Project Child Indonesia Benna Salsabila menyatakan, beberapa rekan Marvin dari Jerman kemudian berdonasi dan ikut mengajar anak-anak.

Bahkan saat ini, Project Child Indonesia tak hanya memiliki kantor pusat di Yogyakarta tapi juga di Pacitan, Jawa Timur.

Dalam perjalanannya, Project Child Indonesia juga menyasar programnya untuk anak-anak daerah rawan bencana.

“Ini tak lain agar mereka bisa belajar tentang kondisi alam yang dekat dengan mereka misalnya di Kricak Kidul. Ke depan mereka bisa semakin sadar menjaga lingkungan dan bisa lebih siap terhadap ancaman bencana,” katanya dalam Kupas Komunitas bersama Greeners, baru-baru ini.

Pengenalan terhadap alam tidak anak-anak sepenuhnya dapat di pendidikan formal. Foto: Project Child Indonesia

Kenalkan Alam di Luar Pendidikan Formal

Lebih jauh Benna menyebut, sasaran target dari Project Child Indonesia tak lain ingin menjangkau pengetahuan yang tidak anak-anak peroleh dalam pendidikan formal, seperti pendidikan langsung ke lapangan.

Dengan demikian anak-anak memiliki gambaran konkret terkait masalah kebencanaan dan lingkungan. “Kita ingin anak-anak lebih kritis terhadap fenomena alam dan bencana, misalnya banjir yang juga sangat berdampak pada kondisi sosial ekonomi mereka,” jelas Benna.

Menurutnya, pendekatan pendidikan di Indonesia selama ini belum menjawab permasalahan yang anak-anak alami sekarang. Padahal, sambung dia anak-anak membutuhkan pendidikan yang bermakna dan tentang lingkungan yang jarang didiskusikan di sekolah-sekolah.

“Mungkin ini yang tak bisa ditemukan di pendidikan formal yang selama ini sesuai kurikulum dan bersifat kurang fleksibel,” imbuhnya.

Berdasarkan visi tersebut, Project Child Indonesia mengkategorikan fokus mereka menjadi tiga hal, yaitu kesehatan praktis, lingkungan serta pendidikan bencana. Ketiga hal tersebut, tambahnya merupakan fondasi akar permasalahan bagi masyarakat pinggiran selama ini.

Anak-anak dapat banyak pengetahuan dari 4 program unggulan Project Child Indonesia. Foto: Project Child Indonesia

Empat Program Besar Project Child Indonesia

Terkait serangkaian program, beberapa program utama dalam Project Child Indonesia, yaitu Sekolah Sungai, Sekolah Pantai, Drinking Water Programme, serta Internet Literacy Programme. Program Sekolah Sungai menyasar masyarakat bantaran sungai yang sangat rentan pada kerugian ekonomi, bencana alam dan polusi. Kini program ini ada di tiga bantaran sungai, Kricak, Gajah Wong dan Code.

Program kedua yaitu Sekolah Pantai. Program ini mereka mulai sejak tahun 2014 untuk memfasilitasi pembelajaran anak-anak di sekitar pantai. Seperti halnya Sekolah Sungai, program ini memfokuskan pada informasi seputar kesehatan dan lingkungan pantai, serta ancaman potensi kebencanaan.

Selanjutnya Drinking Water Programme (DWP) yang mereka mulai tahun 2016. Tujuan program ini agar seluruh anak bisa mendapatkan asupan air yang cukup, mengingat krusialnya asupan air dalam tubuh anak.

Benna menyebut, Project Child Indonesia turut memasang sistem filter yang memungkinkan anak untuk mengisi ulang botol air minum dengan tujuan pengurangan sampah plastik. Pemasangan filter air juga memastikan anak-anak tetap mendapatkan pasokan air yang bersih.

Program keempat yaitu Internet Literacy Programme yang menekankan pentingnya penyaringan informasi terhadap anak melalui konten digital di era pesatnya teknologi. “Melalui program ini kami juga menargetkan edukasi, terutama para orang tua untuk memberikan pemahaman dan pengawasan pada anak-anak,” tuturnya.

Menariknya, Project Child Indonesia selalu memberikan pre test dan post test terhadap program ini. Hal ini merupakan bentuk evaluasi untuk memastikan keberlanjutan empat program tersebut ke depan.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page