BRIN Teliti Pengaruh Cahaya Malam Buatan di Kebun Raya Bogor

Reading time: 2 menit
BRIN teliti pengaruh cahaya malam buatan di Kebun Raya Bogor. Hasil riset akan menjadi bahan rekomendasi untuk wisata malam di seluruh Indonesia. Foto: BRIN

Jakarta (Greeners) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai meneliti pengaruh cahaya malam buatan di Kebun Raya Bogor. Riset akan berlangsung hingga tahun 2022. Hasil riset akan menjadi rekomendasi ilmiah untuk semua wisata malam dan kebun raya seluruh Indonesia.

Riset pengaruh cahaya malam buatan atau artificial light at night (ALAN) terhadap keberlangsungan ekosistem di KRB menjadi salah satu fungsi BRIN. Kebun Raya yang BRIN kelola memiliki lima fungsi. Fungsi tersebut yakni sebagai tempat konservasi tumbuhan, penelitian, pendidikan lingkungan, wisata dan jasa lingkungan. Riset ini untuk melihat sejauh mana pengaruh aktivitas manusia terhadap tumbuhan atau hewan di KRB.

Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi, Yan Rianto mengatakan, kegiatan kajian dan penelitian ini menjadi bagian penting untuk mendapatkan data valid. Data ini nantinya akan menjadi acuan nasional, khususnya bagi seluruh pengelola kebun raya di Indonesia.

“Kita membutuhkan data empiris di lapangan. Bukan cuma perkiraan melainkan data dari pengukuran atau pengamatan, observasi yang tepat dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” kata Yan dalam Sapa Media virtual terkait Riset Ekofisiologi di KRB di Jakarta, baru-baru ini.

Senada dengan Yan, Plt. Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Hayati, Iman Hidayat mengatakan, BRIN sebagai lembaga penelitian mempunyai kewajiban menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat. Kebenaran informasi terkait dampak aktivitas manusia terhadap ekosistem di KRB secara ilmiah.

“Hal-hal itu perlu dikaji secara mendalam, secara ilmiah, supaya kita bisa bertanggung jawab menyampaikan informasi kepada masyarakat berdasarkan data bukan berdasarkan perkiraan,” ucap Iman.

Hasil kajian dari penelitian ini akan menjadi basis data untuk mengambil kebijakan pengelolaan kebun raya atau taman wisata di seluruh Indonesia. Khususnya yang terkait dengan penggunaan cahaya di malam hari. Hal ini untuk mengurangi bahkan meniadakan kerusakan ekosistem karena pengaruh aktivitas manusia.

Riset Cahaya Malam Buatan Untuk Lihat Pengaruhnya

Plt. Kepala Pusat Riset Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya, Sukma Surya Kusuma, mengatakan, hingga saat ini peneliti sudah mulai mengamati dan mengukur obyek penelitian. Data pengamatan T0 (kondisi normal) sedang dalam tahap pengukuran menggunakan GcMS dan ion beam analisis.

“Pengamatan visual dari kondisi T0 sampai saat ini belum ada perubahan secara visual pada daun yang peneliti amati,” imbuh Sukma.

Penelitian ini juga akan melihat pengaruh ALAN terhadap fotosintesis tumbuhan. Peneliti dari Pusat Riset Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya, Yayan Wahyu Candra Kusuma mengatakan, panjang gelombang cahaya yang tumbuhan butuhkan untuk proses fotosintesis pada kisaran 400 – 700 nm.

“Panjang gelombang yang terlalu lemah, dapat menyebabkan proses fotosintesis tidak dapat bekerja secara efisien, sehingga memunculkan gejala etiolasi,” kata Yayan.

Sedangkan kelebihan cahaya akan menyebabkan fotoinhibisi, menyebabkan kerusakan organ fotosintesis yang membuat tumbuhan kehilangan kapasitas untuk melakukan fotosintesis.

Penelitian lain yang periset BRIN lakukan adalah pemodelan spasial dampak cahaya malam buatan terhadap kesehatan tumbuhan menggunakan unmanned aerial vehicle dan pembelajaran mesin. Selain itu penelitian juga akan mendalami pengaruh cahaya dari luar KRB terhadap ekosistem di dalam KRB.

Teliti Pengaruh ALAN Terhadap Serangga

Tim periset juga akan meneliti pengaruh ALAN terhadap komunitas dan populasi serangga di KRB. Kawasan kebun raya mempunyai peran dalam menyeimbangkan ekosistem di dalam maupun di sekitarnya. Selain itu, penelitian ini untuk memastikan pengelola KRB terus melindungi keanekaragaman hayati serta jasa lingkungan.

Peneliti Pusat Riset Biologi Encilia mengatakan, tujuan penelitian ini antara lain menganalisis keanekaragaman (komparasi) jenis dari serangga nokturnal di sekitar ALAN dan tanpa ALAN. Tujuan berikutnya adalah untuk pemantauan dinamika perubahan komposisi, keanekaragaman serangga hama (rayap) dan predator terhadap ALAN.

“Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui pengaruh ALAN baik spektrum, intensitas dan waktu paparan terhadap keanekaragaman dan komunitas serangga,” ujar Encillia.

Penulis : Ari Rikin

Top