Kuliner Masyarakat Adat Jangan Kehilangan Identitas

Reading time: 2 menit
Kuliner masyarakat adat miliki cita rasa khas dan sarat makna. Foto: AMAN

Jakarta (Greeners) – Kuliner masyarakat adat tak sekadar menonjolkan kekayaan rasa yang otentik. Akan tetapi, juga berisi pengetahuan berharga yang perlu untuk dilestarikan.

Hanya saja, menurut Silvy Motoh dari Aliansi Masyarakat Adat (AMAN), komunitas adat kadang merasa tidak percaya diri akan kekayaan kuliner mereka. Mereka berpikir bahwa makanan sehari-hari tersebut terlalu sederhana untuk mereka sajikan bagi tamu yang datang dari kota.

“Ketika kami mengadakan acara di kampung mereka, mereka berusaha keras untuk memasak makanan modern bagi kami. Padahal, kuliner masyarakat adat merupakan pengetahuan berharga yang perlu dilestarikan,” katanya baru-baru ini.

Oleh karena itu, AMAN berusaha memastikan agar masyarakat adat tetap memasak makanan yang biasa mereka masak sehari-hari. “Sehingga mereka merasa dihargai,” ujar dia.

Dalam keterangan tertulisnya, Silvy bercerita, ada dua kategori kuliner masyarakat adat. Pertama, masakan yang biasa mereka sajikan ketika ritual atau upacara adat. Kedua, masakan untuk konsumsi sehari-hari. Sajian untuk ritual biasanya memiliki makna tersendiri.

Berbeda dari masakan harian yang kerap menjadi santapan warga. Karena proses memasaknya pun cenderung mudah.

Alumni Masterchef Indonesia Masak Masakan Adat

Tiga alumni Masterchef Indonesia (MCI) diundang untuk memasak ulang makanan khas atau kuliner masyarakat adat. La Ode (alumni MCI musim 8) memasak manok pansoh dari Kalimantan Barat, Fifin Liefang (alumni MCI musim 6) membuat uta kelo dari Sulawesi Tengah. Sementara Jordhi Aldyan Latif (alumni MCI musim 6) memasak rumpu rampe dari Nusa Tenggara Timur.

“Tidak perlu ada acara khusus untuk memasak rumpu rampe. Banyak masyarakat di sana yang bekerja sebagai petani. Mereka biasa memetik hasil kebun sendiri untuk dibuat menjadi satu hidangan. Jadi, setiap orang bisa makan rumpu rampe,” kata Jordhi.

Mama Siti, warga asli NTT, menambahkan, tidak ada bahan sayuran yang wajib digunakan untuk memasak rumpu rampe. Apa saja yang ada di kebun boleh dimasak menjadi rumpu rampe.

Fifin yang baru pertama kali memasak uta kelo juga bercerita bahwa bahan masakan tersebut mudah ditemukan dan ramah di kantong. “Saya sempat mencari tahu banyak hal soal uta kelo. Makanan sehari-hari ini mirip dengan lodeh, tapi bahannya unik. Sama-sama pakai terong dan santan, tapi uniknya uta kelo juga menggunakan daun kelor dan pisang mentah,” tuturnya.

Contoh lainnya bumbu ulat sagu di Halmahera, Maluku, yang hanya menggunakan bawang merah, garam, dan cabai rawit. Sering kali hanya dibakar tanpa tambahan bumbu. Hal ini serupa dengan yang warga Kalimantan atau Sulawesi lakukan saat memasak ular sawah.

Salah satu masakan adat Uta Kelo dari Sulawesi Tengah. Foto: AMAN

Festival Kuliner hingga Kompetisi Memasak

Silvy melihat, selain melalui festival kuliner, maraknya reality show kompetisi memasak bisa menjadi kendaraan yang tepat untuk mempromosikan makanan komunitas adat. Misalnya, peserta diminta membuat makanan dari daun kelor.

“Jangan melulu membuat sesuatu dari bahan impor. Dengan begitu, peserta bisa bantu mempromosikan daun kelor. Sekaligus mendorong untuk menggali kembali identitas dirinya yang berasal dari daerah.” kata dia.

Sependapat dengan Fifin, La Ode beranggapan bahwa kuliner masyarakat adat harus tetap ada, walaupun tidak tersaji dalam sebuah ritual adat. Ia berharap makanan tersebut lebih banyak diperjual-belikan di daerahnya sendiri, tanpa mengurangi unsur kulturalnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page