Seren Taun Tradisi Lokal Kuningan untuk Peka pada Lingkungan

Reading time: 2 menit
Gelaran Seren Taun tradisi lokal masyarakat Kuningan. Foto: UI

Jakarta (Greeners) – Tradisi lokal tentu memiliki keterkaitan dengan alam. Salah satunya Seren Taun, kearifan lokal masyarakat Kuningan, Jawa Barat. Dari banyak nilai yang warga yakini, tradisi Seren Taun sangat berperan penting menghadapi dan peka krisis lingkungan.

Delegasi Makara Art Center Universitas Indonesia (MAC UI) di bawah pimpinan Dr. Ngatawi Al Zastrouw menghadiri upacara adat Seren Taun. Acara ini diselenggarakan masyarakat Sunda Wiwitan, Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Upacara ini berlangsung selama satu minggu, 17-22 Juli 2022 di Paseban Tri Panca Tunggal, sebuah Bangunan Cagar Budaya di Kuningan, Jawa Barat. Delegasi MAC UI mengikuti rangkaian kegiatan adat tersebut selama tiga hari, dari 17 Juli 2022 saat pembukaan upacara adat hingga 19 Juli 2022.

Selama kunjungannya tersebut, Tim MAC UI sempat mengikuti berbagai upacara adat, di antaranya kirab budaya Pesta Dadung di Situ Hyang, Cigugur. Pesta Dadung atau ritual Budak Angon ini merupakan ritual adat peninggalan leluhur Sunda yang sarat dengan kearifan lokal.

Tradisi Pesta Dadung adalah wujud ungkap syukur dengan membuang hama pada tumbuhan padi agar melimpahnya panen raya. Doa menjadi tanda mulainya acara ini. Kemudian pelepasan hama dan penanaman pohon. Lalu kirab berjalan kaki menyusuri jalan-jalan desa sambil membawa dan memukul kentongan.

Al-Zastrouw dalam keterangan tertulisnya mengatakan, upacara ini memiliki nilai yang sangat penting dalam menghadapi krisis lingkungan. Hal ini terlihat dari proses upacara adat tersebut di antaranya melepas hama tanaman.

“Hal ini mengandung makna hama tidak harus kita musnahkan tetapi kita kendalikan. Karena kalau dimusnahkan, akan menggunggu ekosistem alam,” katanya.

Apalagi kalau pemusnahan hama tersebut melalui pestisida, maka akan dapat merusak alam, karena menebar racun kimia. “Melalui upacara ini kita dapat menggali pengetahuan lokal masyarakat Sunda untuk menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari kehidupan manusia. Kita dapat belajar dari masyarakat adat dalam mengelola lingkungan,” tuturnya.

Masyarakat antusias ikuti acara yang penuh dengan simbol kerarifan lokal. Foto: UI

Masyarakat Adat dari Nusantara Juga Hadiri Seren Taun

Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI Ari Prasetiyo menambahkan, dalam acara itu, tali memiliki simbol. Tepatnya menjadi simbolisasi yang menghubungkan kebersamaan antar masyarakat desa.

Ia menyebut, Pesta Dadung kali ini terlihat sangat meriah. Hal ini terjadi karena adanya kerinduan masyarakat pada acara ini setelah dua tahun vakum karena pandemi Covid-19.

Wakil Bupati Kuningan H.M. Ridho Suganda mengapresiasi ide Makara Art Center UI untuk mengangkat ritual adat ini.

“Dengan begitu masyarakat luas mengetahui dan memahami hakikat dari rangkaian ritual Seren Taun beserta makna dan sistem pengetahuan yang ada di dalamnya,” paparnya.

Dalam pesta ini, hadir pula sejumlah perwakilan masyarakat adat dari berbagai daerah di Nusantara seperti Yogyakarta, Kediri, Magelang, bahkan ada yang dari provinsi NTT dan Kalimantan Barat.

Selain mengikuti berbagai upacara adat, perwakilan masyarakat adat dari berbagai daerah ini juga menampilkan berbagai kesenian dan benda pusaka yang mereka miliki.

Penulis : Ari Rikin

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page