LEVA Angkat Pamor Sorgum Organik Jadi Pangan Alternatif

Reading time: 3 menit
Melalui panen perdana ini, LEVA ingin mengangkat pamor sorgum sebagai pangan alternatif. Foto: Greeners/Apriohansyah

Jakarta (Greeners) – Komunitas Lestari Mangrove dan Alam (LEVA) melakukan panen perdana budi daya pohon sorgum organik di kawasan Sutet Jambu, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Bekerja sama dengan Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta, serta Kelompok Tani Hutan Flora Mangrove, LEVA memanen hampir 900 pohon dari total 6.300 pohon sorgum.

Sebelumnya, pada 20 September 2021, LEVA menanam 1 kg benih pohon sorgum pada lahan non produktif dengan luas 1.420,65 meter persegi. Founder LEVA Nathasi Fadhlin mengatakan, mereka menanam tiga varietas pohon sorgum yakni, white sorgum (bioguma), sorgum merah dan sorgum hitam. Penanaman tersebut menghasilkan 28 bedeng dengan jumlah 225 pohon/bedeng.

“Ada tiga varian jenis sorgum yang kita tanam di sini cuma yang dominan adalah varietas bioguma. Karena bioguma itu memiliki malai dan biji-biji yang lebih besar dengan sorgum jenis lainnya,” kata Nathasi kepada Greeners pada acara panen perdana sorgum, di Jakarta, Senin (17/1).

Sorgum merupakan salah satu sumber pangan (serealia) yang menempati peringkat kelima sumber pangan setelah gandum, beras, jagung dan barley. Sorgum dapat masyarakat konsumsi sebagai sumber pangan alternatif pengganti makanan pokok seperti nasi.

Hanya Menggunakan Pupuk Organik

Pada dasarnya, LEVA merupakan suatu komunitas yang bergerak pada bidang konservasi dan ketahanan pangan berbasis organik. Hal tersebut menunjang dari awal proses penanaman hingga pemanenan pohon sorgum, LEVA hanya menerapkan prinsip-prinsip organik tanpa menggunakan pestisida kimia. Mereka menggunakan jenis pupuk cair dan padat organik yang sudah tersertifikasi logo organik Indonesia. Pupuk tersebut seperti Bio-Extrim Cair, Moebilin, Alphamine dan ZPT Hormax.

“Kebun sorgum yang hari ini kita panen ini kita mencoba untuk melakukan prinsip-prinsip organik. Jadi dari hulu ke hilir nya kita coba secara organik tanpa menggunakan pestisida maupun urea pada saat pemupukannya,” ungkapnya.

Selain itu, pada hari ke-30 masa penanaman, LEVA juga menggunakan pestisida nabati (pesnab) untuk mengatasi serangan hama ulat dan kutu daun. Pestisida nabati tersebut mengandung gabungan dari ekstrak daun mimba, ekstrak minyak cengkeh, lidah buaya yang dilarutkan ke dalam air. Campuran tersebut kemudian mereka semprotkan ke bagian daun dan batang pohon sorgum untuk mengusir hama.

Upaya ini sekaligus menjaga lingkungan dan kandungan baik pada pohon sorgum yang akan manusia konsumsi. Harapannya LEVA ingin menjadikan budidaya pohon sorgum di kawasan Sutet Jambu ini menjadi pertanian sorgum organik pertama di Indonesia.

“Memang rencananya di kebun sorgum ini kita juga akan menjadikan kebun sorgum ini kebun sorgum organik pertama. Karena yang saya tahu dari beberapa literatur dan beberapa riset belum ada sorgum yang menerapkan prinsip organik. Jadi plot ini kita akan uji coba menjadi pertanian sorgum organik pertama di Indonesia,” tuturnya.

Sorgum salah satu sumber pangan yang kaya nutrisi serta baik untuk penderita diabetes dan jantung. Foto: Greeners/Apriohansyah

Sorgum Organik Miliki Segudang Manfaat Bagi Manusia

Memiliki status sebagai sumber pangan alternatif, membuat sorgum menjadi salah satu pilihan dalam mendorong adanya diversifikasi pangan masyarakat. Diversifikasi pangan merupakan program yang pemerintah upayakan untuk mendorong masyarakat agar memvariasikan makanan pokok sehingga tidak terfokus pada satu jenis saja.

Selain nasi, sorgum dapat masyarakat olah menjadi berbagai macam produk turunan. Seperti brownies sorgum, pizza sorgum, beberapa jenis varian kue modern dan tradisional yakni kue lupis sorgum.

Sebagai superfood, sorgum menjadi sumber pangan dengan kandungan energi yang baik. Butir sorgum mengandung lebih banyak protein yang hampir sama dengan biji-bijian lainnya. Sorgum juga memiliki kandungan karbohidrat, protein, zat besi, kalium, kalsium dan serat yang tinggi dan memberikan rasa kenyang yang relatif lama. Karena mengandung gizi yang baik, sorgum dapat para penyintas penyakit autoimun, diabetes, jantung, pelaku diet konsumsi.

Keunikan lainnya yakni, sorgum merupakan tanaman yang menyukai kondisi panas atau terik dan juga dapat beradaptasi dengan perubahan iklim. Selanjutnya, selain untuk konsumsi manusia, sorgum juga mempunyai beberapa manfaat lain.

Mulai dari batangnya yang dapat menjadi nira sorgum atau bahan bakar ramah lingkungan, yakni bioethanol. Serta, daun tanaman sorgum yang dapat masyarakat manfaatkan menjadi pupuk atau pakan ternak. “Ini yang menjadi salah satu potensi juga dari perkebunan pertanian sorgum ya karena semuanya itu bisa kita manfaatkan,” ucap Nathasi.

Edukasi Konsumsi Sorgum

Dalam kesempatan itu, Nathasi berharap langkahnya ini dapat mengedukasi generasi muda kembali mengenal, mempelajari, serta mengkonsumsi sorgum. Karena menurutnya, saat ini identitas sorgum sudah hampir hilang di tanah Jawa. Tidak sedikit masyarakat yang tidak mengenali salah satu tanaman serealia ini.

“Di Jawa udah mulai hilang makanya kita mau memperkenalkan lagi menanam kembali kearifan lokal nenek moyang kita budaya-budaya Indonesia yang mana udah banyak hilang,” paparnya.

Nathasi melanjutkan, dengan adanya kebun sorgum yang LEVA dan Kelompok Tani Hutan Flora Mangrove Kelola, dapat menjadi langkah awal untuk memperkaya keanekaragaman hayati pangan tanaman serealia di Indonesia.

“Sehingga generasi muda enggak hanya mengkonsumsi beras saja tapi juga bisa mengkonsumsi salah satu pangan alternatif yaitu sorgum,” lanjutnya.

Penulis : Zahra Shafira

Top