Ahli Wanti-Wanti Kekeringan dan Karhutla di Tahun 2022

Reading time: 3 menit
Waspada kebakaran hutan dan lahan saat musim kemarau dengan kondisi El Nino. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Tahun 2022 ahli meteorologi memperkirakan El Nino yang ditandai minimnya curah hujan akan terjadi. Meskipun El Nino berlevel moderat, perlu antisipasi maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan waduk dan bendungan (dam).

Sementara itu, tahun 2021, La Nina justru yang terjadi. Hal ini menyebabkan meningkatkan curah hujan selama musim hujan terjadi. Kondisi ini mengancam peningkatan bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor dan banjir bandang.

Profesor Riset Bidang Meteorologi dan Klimatologi pada Organisasi Riset Pengkajian dan Penerapan Teknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Edvin Aldrian mengatakan, iklim di Indonesia mendapat pengaruh dari global warming, El Nino, La Nina serta keberadaan siklus matahari.

“Karena sudah mengalami dua kali kemarau basah berturut-turut pada 2020 dan 2021, maka kemungkinan besar tahun 2022 Indonesia akan mengalami periode kemarau kering tetapi tidak ekstrem kering,” katanya dalam Webinar Profesor Talk Tentang Kebencanaan di Jakarta, Senin (27/12).

Antisipasi Bencana Karhutla dan Kekeringan

Dari data sejarah panjang El Nino Oscillation Southern Oscilation (ENSO), ahli tidak temukan data 3 tahun berturut-turut La Nina atau tahun basah. Selain itu kita telah melewati periode sunpot minimum yang berasosiasi dengan tahun basah 2019 -2020. Sangat mungkin pendulum iklim akan kembali ke tahun El Nino meski relatif moderat pada tahun 2022.

“Setelah melewati spring 2022 bulan April akan mulai pola kering dan harap persiapkan kesediaan air di tempat tempat penampungan seperti waduk dan dam,” ucapnya.

Edvin menambahkan, bencana tahunan seperti kebakaran lahan dan hutan (karhutla) perkiraannya akan kembali marak di tahun 2022. Oleh sebab itu, butuh persiapan kebasahan lahan dengan teknologi modifikasi cuaca sebelum karhutla terjadi. Petani pun harus mempersiapkan pertanian pola kering. Sebab konsekuensinya akan terjadi panen melimpah di sektor kelautan.

Dalam pidato orasi profesor risetnya tahun 2014 lanjut Edvin, apabila tidak ada ENSO yang kuat atau berarti, Indonesia akan mengalami dampak global warming yang kuat. Artinya akan mengalami tahun basah karena kenaikan suhu atau hujan atau iklim yang lebih basah.

“Saat ini indeks ENSO ke arah La Nina, maka pengaruh global warming akan lebih dominan,” imbuhnya.

Pengaruh global warning akan terasa sebelum puncak kemarau tahun 2021. Tetapi saat memasuki puncak kemarau kondisi akan kembali normal. Dengan kemungkinan di atas normal atau awal musim hujan akan maju. Kondisi basah tahun 2020 karena sunspot minimum matahari. Tetapi kondisi basah tahun 2021 karena fase ENSO netral sehingga global warming dominan.

Selain karhutla, perlu antisipasi kekeringan saat musim kemarau ekstrem. Foto: Shutterstock

Citra Satelit Pantau Dampak Bencana

Sementara itu, Profesor Riset bidang Teknologi dan Penginderaan Jauh Geomatika pada Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Muhammad Rokhis Khomarudin menjelaskan, pola kejadian kebakaran lahan sudah ahli ketahui terjadi pada musim kemarau di Indonesia. Bahkan kondisinya akan semakin meningkat saat El Nino terjadi.

“Citra satelit penginderaan jauh dapat memberikan gambaran kondisi bencana yang terjadi di Indonesia. Untuk bencana geologi baik gempa dan letusan gunung berapi satelit dapat menggambarkan dampak kerusakan yang terjadi,” paparnya.

Menurutnya, penggunaan data satelit penginderaan jauh dapat menghitung secara cepat tingkat kerusakan akibat bencana untuk tindakan evaluasi dan rehabilitasi wilayah.

Direktur Jenderal Pengendalian dan Perubahan Iklim, Kementerian Lingkunga Hidup dan Kehutanan, Laksmi Dhewanthi mengungkapkan, mengenai pengendalian karhutla, Presiden Jokowi sudah memberikan arahan yang tegas.

Februari 2021 Presiden Jokowi menyampaikan arahan untuk memprioritaskan upaya pencegahan dan membangun infrastruktur monitoring. Selain itu juga upaya pengawasan harus sampai ke bawah, mencari solusi permanen, penataan ekosistem gambut, serta penegakan hukum.

“Berkat upaya bersama, luas areal terbakar 2021 jika dibandingkan pada tahun 2014 terjadi penurunan signifikan sebesar 87,06 % atau turun seluas 1.547.598 ha. Serta tidak terjadi asap lintas batas negara pada tahun 2020 dan 2021,” tandas Laksmi dalam keterangannya.

Penulis : Ari Rikin

Top
You cannot copy content of this page