Co-host Stockholm+50, Indonesia Ajak Dunia Perangi Krisis Iklim

Reading time: 3 menit
Indonesia berkomitmen terus merawat alam untuk menekan dampak krisis iklim. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Indonesia terus menunjukkan eksistensi dan aksinya dalam merespon isu lingkungan hidup di dunia. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar menyebut Indonesia tidak berada di posisi belakang dunia atau tertinggal. Melainkan posisi Indonesia berada di tengah dan terus menuju ke depan dalam mentaati komitmen upaya mengatasi masalah lingkungan dan krisis iklim.

Atas konsistensinya, pada peringatan Stockholm+50 dan juga Hari Bumi 2022, Indonesia dapat kepercayaan untuk menjadi co-host Dialog Kepemimpinan II Stockholm+50 di Stockholm, Swedia tanggal 2-3 Juni mendatang.

Menyambut hal ini, Siti mengatakan Stockholm+50 dapat menjadi batu loncatan untuk mempercepat implementasi dunia menuju pembangunan berkelanjutan. Serta menangani masalah krisis planet bumi yakni iklim, alam dan polusi.

“Indonesia menyambut sangat baik langkah-langkah dan prakarsa agenda Stockholm+50, kita akan terus bekerja untuk mencapai hal-hal yang baik, sejalan dengan komitmen Indonesia pada konferensi dunia dan kita laksanakan secara bertanggung jawab,” kata Siti pada Webinar Dialog Publik I Stockholm+50, Planet yang Sehat untuk Kemakmuran Bersama, baru-baru ini.

Stockholm+50 merupakan konferensi lingkungan hidup internasional pertama yang mengeksplorasi hubungan antara pertumbuhan ekonomi, polusi udara, air, lautan dan kesejahteraan masyarakat di seluruh dunia.

Stockholm+50 menjadi momentum untuk refleksi perjalanan 50 tahun komunitas lingkungan global dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan dan lingkungan hidup. Serta memberikan kesempatan bagi pemimpin dunia untuk mencapai tindakan yang lebih tegas untuk mengamankan masa depan yang lebih baik di planet yang sehat.

Ekonomi Sirkular dapat Mengurangi Beban Lingkungan

Dialog publik pertama merupakan rangkaian acara menuju dialog kepemimpinan Stockholm+50. Dialog ini bertajuk “Menemukan Kembali Keseimbangan Hubungan Manusia dan Alam”.

Pada kesempatan itu Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya (Dirjen PSLB3) KLHK, Rosa Vivien Ratnawati menyoroti ekonomi sirkular sebagai langkah mengurangi beban pada lingkungan.

Ia menyebut, secara global manusia menghasilkan setiap tahunnya sebanyak 300 juta ton plastik, 50 juta ton sampah elektronik dan 1/3 dari makanan yang diproduksi. Lebih lanjut ia menekankan pemanfaatan potensi sampah plastik harus optimal untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri daur ulang.

Vivien juga menyinggung peran bumi sebagai “rumah” yang sangat penting bagi manusia, apabila “business as usual” terhadap sumber daya masih terus berlanjut, maka pada tahun 2050 manusia akan membutuhkan 3x dari bumi pada saat ini. ia mengatakan proses produksi dan konsumsi yang berkelanjutan merupakan jalan keluar untuk hidup yang lebih baik.

“Produksi dan konsumsi yang kita lakukan sebagai manusia harus meminimasi penggunaan sumber daya alam, bahan beracun, serta emisi dari buangan dan pencemar. Sehingga tidak membahayakan kebutuhan generasi yang akan datang,” ucap Vivien.

Hal tersebut senada dengan ekonomi sirkular yang mana meminimalkan penggunaan sumber daya dan timbulan limbah, serta mempertahankan daya guna material, juga bersifat regeneratif. Tentu produsen juga mengambil peran yang penting dalam proses ekonomi sirkular, demi terciptanya pembangunan rendah karbon dan ekonomi hijau.

Generasi Milenial Miliki Kesadaran Tinggi Terhadap Lingkungan dan Krisis Iklim

Pada kesempatan yang sama, Dosen Universitas Indonesia, Dr. Imam B. Prasodjo, menyoroti hal yang berbeda dari manusia dengan alam. Menurutnya, relasi hubungan manusia dengan alam mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan ini ia jelaskan menjadi tiga tahapan, yaitu mitis, ontologis, dan fungsional. Pada tahapan mitis atau awal, alam merupakan bagian dari manusia sehingga penting untuk menjaga hubungan dengan alam.

Sebagaimana ilmu pengetahuan mulai berkembang, tahap ontologis merupakan manusia mulai menjadikan alam sebagai objek penelitian. Sedangkan fungsional, manusia mulai melihat alam sebagai objek yang mempunyai beragam manfaat bagi kehidupannya. Sehingga muncul eksploitasi alam secara besar-besaran karena memiliki peran dan fungsi bagi keuntungan manusia.

“Perubahan ini terjadi karena rasa keinginan manusia untuk meningkatkan kesejahteraannya, karena keinginan yang luar biasa itu mengubah perilaku manusia terhadap alam,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti peradaban industri dan treadmill production theory yang membuat manusia terus memproduksi dan mengkonsumsi suatu produk. Siklus ini menjadi terus menerus sehingga alam menjadi terus tereksploitasi.

Namun, perubahan pola alur informasi dan komunikasi saat ini juga membawa pada perubahan masyarakat. Imam memaparkan, berdasarkan survei generasi milenial memiliki kesadaran yang sangat tinggi terhadap penyelamatan lingkungan.

“Oleh karena itu paradigma pembangunan ke depan bukan hanya paradigma yang mengedepankan kemakmuran manusia. Tapi juga paradigma bagaimana ekosistem alam terjaga dan harapannya akan muncul human-eco happiness,” paparnya.

Perwakilan Institut Hijau Indonesia, Chalid Muhammad, juga berharap akan tumbuhnya green leadership pada banyak kalangan generasi muda di berbagai belahan bumi. Seperti tokoh lintas agama, pemimpin pada sektor bisnis yang dapat mengembangkan model bisnis yang berpihak pada lingkungan hidup. Juga pemimpin muda dari kelompok informal yang makin terbangun kesadarannya tentang pentingnya agenda penyelamatan bumi.

“Saya berharap green leadership dapat memberikan harapan baru, sehingga banyak menimbulkan kesadaran tentang lingkungan hidup yang cukup tinggi,” ucap Chalid.

Penulis : Zahra Shafira

Editor : Ari Rikin

Top