Banjir Bandang Terjang 9 Kelurahan di Sentani Jayapura

Reading time: 2 menit
banjir bandang
Banjir bandang menerjang 9 kelurahan di Kecamatan Sentani, Jayapura, Papua pada Sabtu (16/03/2019). Foto: BNPB

Papua (Greeners) – Hujan deras mengguyur daerah Jayapura telah menyebabkan banjir bandang di Kecamatan Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Hujan deras turun sejak pukul 18.00 WIT dan mengakibatkan banjir bandang pada Sabtu (16/03/2019), pukul 21.30 WIT. Akibatnya 9 kelurahan di Kecamatan Sentani diterjang banjir bandang yaitu Kelurahan Barnabas Marweri, Piter Pangkatana, Kristian Pangakatan, Didimus Pangkatana, Andi Pangkatana, Yonasmanuri, Yulianus Pangkatana, Nelson Pangkatan, dan Nesmanuri.

Dihubungi Greeners melalui pesan singkat, Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Papua, Wisnu mengatakan kronologis kejadian diakibatkan dari intensitas hujan yang mengguyur Kabupaten Jayapura dan sekitarnya sejak Sabtu sore. Hujan ini mengakibatkan banjir merendam perumahan warga di Kelurahan Hinekombe, Dobonsolo dan Sentani Kota, Kampung Yahim dan Kehiran.

“Melihat dampak banjir bandang dan banjir bandang yang terjadi di Sentani, kemungkinan disebabkan adanya longsor di bagian hulu yang kemudian menerjang di bagian hilir,” ujarnya, Minggu (17/03/2019).

BACA JUGA: Pascabencana Sulteng, Korban Selamat Mulai Memulihkan Diri 

Menurut Wisnu, karakteristik banjir bandang yang sering terjadi di Indonesia diawali adanya longsor di bagian hulu kemudian membendung sungai sehingga terjadi badan air atau bendungan alami. Karena volume air terus bertambah, badan air atau bendung alami ini jebol dan menerjang di bagian bawah dengan membawa material-material kayu gelondongan, pohon, batu, lumpur dan lainnya dengan kecepatan aliran yang besar.

Ini ditambah dengan curah hujan yang berintensitas tinggi dalam waktu cukup lama. Pada tahun 2007, kejadian banjir bandang juga pernah terjadi di Distrik Sentani.

banjir bandang

Ratusan warga dievakuasi ke berbagai tempat yang dinyatakan aman dari banjir. Foto: BNPB

Data sementara yang disampikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Minggu, pukul 10.15 WIB jumlah korban 50 orang meninggal dunia. Dari 50 orang meninggal dunia, 38 jenazah dibawa ke RS Bhayangkara Polda Papua, 7 jenazah di RS Marthin Indey, dan 5 jenazah di RS Yowari. Sebanyak 49 korban sudah berhasil diidentifikasi sedangkan 1 jenazah masih dalam proses identifikasi, 59 orang luka-luka yang dirujuk ke PKM Sentani, RS Bhayangkara dan RS Yowari. Dinas Kesehatan Jayapura dan Dinas Kesehatan Papua mengkoordinir penanganan tim medis bagi korban.

“Saat ini keadaannya beberapa kelurahan telah surut dengan meninggalkan lumpur, kayu-kayu gelondongan dan material yang terbawa banjir bandang. Namun, diprediksi adanya potensi banjir susulan, dikarenakan Puncak Gunung Cycloop masih tertutup awan yang berpotensi hujan,” ujar Wisnu.

Evakuasi, pencarian dan penyelamatan korban diintensifkan untuk mencari korban. Tim SAR gabungan masih melakukan evakuasi dan belum semua daerah terdampak dijangkau karena tertutup pohon, batu, lumpur dan material banjir bandang.

BACA JUGA: Kearifan Lokal, Mitigasi Bencana yang Terlupakan 

Atas terjadinya bencana banjir bandang ini, kerusakan meliputi 9 rumah rusak terdampak banjir di BTN Doyo Baru, 1 mobil rusak atau hanyut, jembatan Doyo dan Kali Ular mengalami kerusakan, sekitar 150 rumah terendam di BTN Bintang Timur Sentani, kerusakan 1 pesawat jenis Twin Otter di Lapangan Terbang Adventis Doyo Sentani. Dampak kerusakan masih akan bertambah karena pendataan masih dilakukan dan belum semua daerah terdampak dijangkau oleh Tim SAR gabungan.

Sementara itu, dalam siaran pers yang diterima Greeners, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyatakan bahwa Kepala BNPB telah melaporkan kepada Presiden dampak bencana dan penanganan bencana banjir bandang yang terjadi di Jayapura, Papua.

“Kepala BNPB bersama unsur dari Kementerian/Lembaga hari ini berangkat ke Sentani untuk memberikan pendampingan dan bantuan kepada Pemda Jayapura dan Papua,” katanya.

Penulis: Dewi Purningsih

Top
You cannot copy content of this page