Kemiringan Lereng dan Penggundulan Hutan Penyebab Longsor di Pangalengan

Reading time: 2 menit
Ilustrasi: Ist.

Jakarta (Greeners) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa longsor yang terjadi di Kampung Cibitung RW 15, Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan, Bandung, Jawa Barat disebabkan oleh kemiringan lereng yang terjal dan tanah pelapukan breksi vulkanik yang cukup tebal. Tanah tersebut longsor dan menimbun pipa panas bumi di Wilayah Kerja Pertambangan Panas Bumi Pengalengan yang dioperasikan oleh Star Energy Geothermal (Wayang Windu) Limited. Timbunan itu membuat uap panas terkurung dan meningkatkan tekanan sehingga akhirnya meledak.

Kepala Pusat Data Informasi, dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho saat dihubungi oleh Greners menyampaikan kalau gejala longsor ini sebenarnya sudah terdeteksi oleh Tim Gerakan Tanah, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi pada 2 Mei 2015 lalu. Mereka telah melakukan pemeriksaan lapangan atas permintaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung yang hasilnya menyatakan ada kemiringan lereng terjal dan tanah pelapukan breksi vulkanik cukup tebal.

“Dari hasil yang terdeteksi itu, terlihat ada retakan tanah sedalam 2,5 meter dan sepanjang 500 meter,” ujar Sutopo, Jakarta, Kamis (07/05).

Ia juga mengatakan bahwa BNPB akhirnya memberikan rekomendasi kepada pengelola proyek geothermal Star Energy untuk memindahkan jalur pipa mereka karena gerakan tanah masih terus berlangsung. Ditambah, kejadian longsor seringkali sulit untuk diprediksi.

“Selain itu, kami juga meminta kepada BPBD untuk melakukan evakuasi penduduk kampung mengingat hujan di daerah tersebut masih terus akan turun,” tambahnya.

Sutopo juga menjabarkan korban tewas hingga pagi ini ada empat orang yang telah ditemukan. Mereka adalah Iran, laki-laki berusia 55 tahun; Dating, perempuan berusia 60 tahun; Pardi, laki-laki berusia 70; dan Naela, perempuan berusia 1,5 tahun. Kemudian, untuk korban luka berat berjumlah 1 orang atas nama Rukman dan telah dirawat di RS Al Iksan, sedangkan 8 orang lainnya mengalami luka ringan dan sudah kembali ke rumah masing-masing.

Di sisi lain, Presiden Direktur Star Energy Geothermal (Wayang Windu) Ltd, Rudy Suparman, melalui keterangan tertulisnya menyatakan bahwa tanah longsor menyebabkan pipa gas yang berada di kawasan tersebut meledak.

Menurutnya, tanah longsor tersebut terjadi akibat penggundulan hutan yang masif dan tingginya curah hujan di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Tanah longsor itu menimbun pipa saluran geothermal milik Star Energy Geothermal hingga rusak dan memutus pipa produksi perusahaan. Uap pada pipa yang terputus menimbulkan ledakan sehingga power plant Star Energy berhenti beroperasi.

Sebagai informasi, pada Selasa (05/05) kemarin, sekitar pukul 14.30 di Dusun Cibitung (Gunung Bedil) Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, telah terjadi longsor yang menghantam pipa panas bumi milik PT Star Energy dan mengakibatkan ledakan.

Evakuasi korban dilakukan oleh tim gabungan dari BPBD Kabupaten Bandung, BPBD Jawa Barat, Basarnas, TNI, Polri, relawan, masyarakat dan OPD terkait lainnya di Kabupaten Bandung. Disediakan dua alat berat untuk mencari korban yang difokuskan pada 8 rumah yang tertimbun tanah.

Penulis: Danny Kosasih

Top