Pahami Megathrust Lebih Mendalam untuk Redam Kepanikan

Reading time: 5 menit
Foto : Istimewa

Jakarta (Greeners) – Informasi mengenai potensi gempa pada zona megathrust di Indonesia menjadi perbincangan yang ramai di dalam ruang digital. Beragam konten mengenai ancaman gempa besar dan tsunami membuat sebagian masyarakat khawatir, bahkan bertanya-tanya kapan gempa tersebut akan terjadi.

Kekhawatiran itu salah satunya dirasakan Adella Ayu Luthfiah (25), karyawan swasta asal Bekasi. Ia mengaku sempat panik setelah melihat berbagai informasi mengenai megathrust di media sosial.

“Pertama kali tahu berita tentang megathrust jujur aku sangat takut dan overthinking. Aku bayangin nanti bagaimana kalau benar terjadi, apa yang harus aku siapkan, langkah dan tindakan apa yang harusa aku ambil saat pertama kali terjadi, evakuasi ke mana, kalau seandainya aku sedang kerja cara menyelamatkan diri bagaimana,” kata Adella kepada Greeners, Kamis (1/10).

Menurut Adella, kekhawatirannya muncul karena sejumlah konten di media sosial seolah menggambarkan megathrust akan segera terjadi dengan kekuatan besar. Untuk memperoleh informasi yang lebih akurat, ia kemudian memilih mengikuti informasi dari sumber resmi, salah satunya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Meski masih merasa khawatir, Adella mulai melakukan mitigasi secara pribadi dengan menyiapkan tas bencana yang juga memasukkan sejumlah dokumen penting.

“Ya intinya tentu berdoa supaya tidak kejadian dan terus mencari info mitigasi,” ujarnya.

Memahami Megathrust

Kekhawatiran seperti yang Adella rasakan muncul ketika istilah megathrust berulang kali hadir di ruang digital. Padahal, di balik istilah yang terdengar mengancam itu, terdapat proses geologi yang berlangsung jauh di bawah permukaan bumi.

Ahli Geologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Benyamin Sapiie mengungkapkan fakta-fakta tentang potensi megathrust ini. Ia menjelaskan bahwa secara sederhana, bumi terdiri dari lempeng-lempeng. Setiap lempeng ini memiliki ketebalan sekitar 100 kilometer dan dapat berinteraksi satu sama lain. Ia mengatakan bahwa ada tiga jenis batas lempeng, yaitu saling bergeser, saling berkonvergensi, dan saling menjauh.

“Ketika lempeng saling berkonvergensi, salah satu lempeng akan menyusup ke bawah lempeng lainnya. Kondisi ini menimbulkan gesekan antara kedua lempeng. Zona tempat kedua lempeng bergesekan disebut interface, yaitu perbatasan antara satu lempeng dengan lempeng lainnya,” ujar dia kepada Greeners, Kamis (1/10).

Dengan demikian, megathrust merupakan gempa yang terjadi pada zona tersebut. Gempa ini memiliki zona dengan kedalaman tertentu, mulai dari kedalaman dangkal hingga kedalaman dalam yang dikenal sebagai zona seismogenik.

“Secara sederhana, megathrust merupakan jenis gempa yang berkaitan dengan zona subduksi. Gempanya terjadi bukan di masing-masing lempeng, melainkan di antara dua lempeng yang saling bergesekan,” katanya.

Megathrust Menghasilkan Gempa Besar?

Di benak publik, kata megathrust kerap langsung berkelindan dengan bayangan gempa raksasa dan tsunami. Padahal, menurut Benyamin, tidak semua gempa megathrust akan memiliki kekuatan yang sama.

Perbedaan karakteristik setiap zona subduksi turut memengaruhi potensi kekuatan gempa. Salah satunya berkaitan dengan umur lempeng yang menyusup dan sudut penunjamannya.

Sumatra, misalnya, memiliki karakteristik berbeda dengan Jawa. Karena itu, potensi gempa besar di kedua wilayah tersebut juga berbeda.

“Sumatra menjadi wilayah yang memiliki potensi megathrust yang dapat menghasilkan gempa besar dibandingkan Jawa. Namun, Jawa juga memiliki potensi gempa megathrust, tetapi potensinya relatif lebih kecil,” ujar Benyamin.

Gempa megathrust dengan magnitudo besar dapat memicu tsunami apabila menyebabkan perubahan permukaan laut secara tiba-tiba. Ketika permukaan laut berubah dalam waktu singkat dan mencakup wilayah yang luas, air dalam jumlah besar dapat berpindah.

Gempa Aceh 2004 menjadi salah satu contoh gempa megathrust besar. Gempa serupa dengan magnitudo sekitar 9 juga pernah terjadi di Chile, Jepang, termasuk Tohoku, serta Alaska.

Indonesia sendiri memiliki sejumlah zona megathrust. Jawa, Sumatra, Bali, dan Lombok, misalnya, berada di wilayah dengan potensi tersebut. Namun, karakter dan potensi masing-masing zona tidak sama.

Karena itu, kata dia, angka besar yang kerap muncul dalam pemberitaan tidak seharusnya publik baca sebagai kepastian bahwa gempa dengan kekuatan tersebut akan terjadi.

Sumber Megathrust

Dalam pemutakhiran Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, segmentasi sumber megathrust diperbarui menjadi 14 segmen oleh BMKG. Segmen tersebut meliputi Aceh-Andaman, Nias-Simeulue, Batu, Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, Enggano, Jawa, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumba, Sulawesi Utara, Palung Cotabato, Filipina Bagian Tengah, dan Filipina Bagian Selatan.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan bahwa tiga segmen di wilayah Filipina tetap diperhitungkan dalam pemodelan. Sebab, berpotensi memberikan dampak terhadap wilayah Indonesia. Setiap segmen juga memiliki karakteristik berbeda, termasuk ukuran sumber dan estimasi magnitudo maksimum dalam model.

Nilai magnitudo maksimum dalam pemodelan tersebut berkisar M7,8 hingga M9,2. Segmen Aceh-Andaman, misalnya, memiliki nilai maksimum model M9,2, sedangkan Jawa Bagian Barat sekitar M8,9. Ia menegaskan bahwa angka tersebut bukan prediksi bahwa gempa dengan magnitudo tersebut akan terjadi.

“Tetapi saya ingin memberikan penekanan penting bahwa angka M9,2 atau M9,1 tersebut bukan prediksi bahwa gempa sebesar itu akan terjadi. Itu adalah parameter potensi maksimum dalam suatu model sumber gempa yang digunakan untuk kajian bahaya dan mitigasi,” kata Wijayanto.

Saat ini BMKG kini juga telah memantau aktivitas kegempaan selama 24 jam melalui jaringan sensor seismik yang tersebar di seluruh Indonesia. BMKG menggunakan data tersebut untuk mendeteksi dan menganalisis gempa sekaligus mendukung pengoperasian sistem peringatan dini tsunami atau InaTEWS.

Jika terjadi gempa yang berpotensi menimbulkan tsunami, BMKG dapat mengevaluasi potensi tersebut dan menyampaikan informasi peringatan dini dalam waktu kurang dari tiga menit.

Selain pemantauan, BMKG melakukan pemetaan bahaya tsunami berdasarkan berbagai skenario, termasuk skenario terburuk. Pemetaan tersebut menjadi dasar penyusunan rencana evakuasi dan kesiapsiagaan masyarakat.

Bisakah Prediksi Gempa?

Menurut Wijayanto, waktu terjadinya gempa belum dapat diprediksi secara akurat. Alasannya, lempeng bumi memang terus bergerak dan tegangan dapat terakumulasi di zona subduksi, tetapi belum ada metode yang dapat menentukan kapan tepatnya energi tersebut akan dilepaskan dan memicu gempa.

“Kita bisa mengetahui sumber gempa, kita bisa mempelajari sejarah gempa, kita bisa mengukur deformasi kerak bumi, dan kita bisa menghitung potensi magnitudo dalam suatu model. Tetapi semua itu bukan berarti kita bisa mengatakan gempa akan terjadi tanggal sekian atau tahun sekian,” ujarnya.

Meski begitu, BMKG telah memiliki indikator atau parameter untuk memantau aktivitas zona megathrust. Pertama adalah aktivitas kegempaan terkini, yaitu bagaimana distribusi gempa, magnitudo, kedalaman, dan mekanisme sumbernya di sekitar zona tersebut. Kedua adalah informasi sejarah kegempaan, untuk mengetahui bagaimana sumber gempa tersebut pernah mengalami gempa besar pada masa lalu.

Selain itu, mereka juga melakukan sosialisasi dan edukasi melalui kegiatan seperti Sekolah Lapang Gempa dan Tsunami, latihan evakuasi, serta peningkatan literasi kebencanaan.

Upaya Mitigasi

Untuk mengurangi risiko dari peristiwa ini, menurut Benyamin masyarakat perlu memahami sejarah gempa atau historical earthquake di suatu wilayah. Jika suatu segmen subduksi pernah mengalami gempa dengan magnitudo tertentu, wilayah tersebut memiliki potensi mengalami gempa dengan kekuatan tertentu. Frekuensi gempa bermagnitudo besar yang pernah terjadi juga menjadi bagian yang perlu menjadi perhatian.

“Informasi mengenai wilayah tersebut dapat digunakan dalam upaya mitigasi. Terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir perlu mengetahui mereka berada di zona seperti apa dan memahami langkah mitigasi yang sesuai,” kata Benyamin.

Selain itu, masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi bangunan. Meskipun berada di daratan yang tidak terdampak langsung tsunami, getaran gempa atau gelombang seismik dapat menyebabkan kerusakan jika bangunan memiliki fondasi yang tidak memadai.

Ia mengatakan bahwa Indonesia merupakan wilayah tektonik aktif sehingga aspek tersebut seharusnya menjadi perhatian. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu memahami kondisi tersebut, sementara masyarakat juga perlu memiliki kesadaran mengenai risiko yang ada.

Menurutnya kesiapsiagaan dan pendidikan mengenai kebencanaan perlu terus dilakukan. Sebab gempa berbeda dengan gunung api yang memiliki sistem peringatan berdasarkan aktivitas yang dapat dipantau. Gempa bumi tidak dapat diprediksi secara pasti kapan akan terjadi.

Oleh karena itu, masyarakat perlu selalu waspada ketika berada di wilayah yang memiliki potensi gempa dan mengetahui tindakan yang harus mereka lakukan ketika gempa terjadi.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Top