Pemerintah Belum Sepenuhnya Memaksimalkan Potensi Energi Terbarukan

Reading time: 2 menit
Ilustrasi: pixabay.com

Jakarta (Greeners) – Disaat negara-negara seperti Amerika Serikat, India, Cina maupun Jerman telah serius melakukan pembangunan infrastruktur dan investasi dalam sektor energi terbarukan dan mulai meninggalkan energi fosil, Indonesia malah mencanangkan batubara sebagai bahan baku utama untuk energi dalam negeri.

Syahrul Fitra, peneliti hukum Auriga Nusantara melalui keterangan resminya mengatakan, program Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 35.000 gigawatt adalah salah satu contoh nyata bahwa pengembangan energi di Indonesia sekitar 60 persennya masih berbasis batubara. Padahal, katanya, cadangan mineral hitam yang dimiliki Indonesia hanya sekitar tiga persen dari total jumlah di seluruh dunia.

“Selain itu, investasi domestik masih berputar di sektor batubara, meskipun harganya terus menurun di level internasional,” katanya, Jakarta, Senin (25/04).

Kepala Sub Direktorat (Subdit) Penyiapan Program Bioenergi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Agus Saptono pun mengakui bahwa pemerintah memang belum sepenuhnya memaksimalkan potensi energi berkelanjutan. Misalnya saja saat ini, Indonesia memiliki 29 gigawatt panas bumi namun baru dieksplorasi sekitar 1,44 megawatt atau 5 persen saja.

“Belum lagi dengan sumber lain seperti kelompok energi baru terbarukan (EBT) berjumlah 75 gigawatt dan tenaga surya 800 gigawatt. Potensinya memang sangat banyak, tapi pengelolaannya harus lebih dikembangkan lagi untuk memenuhi kebutuhan listrik kita,” jelasnya.

Manajer Direktur Oil Change International Elizabeth Bast menambahkan, negara-negara maju seperti Jerman, Skotlandia dan Denmark sudah memulai energi terbarukan. Bahkan Cina yang merupakan salah satu produsen batubara terbesar menanamkan investasi yang cukup besar pada energi bersih tahun 2015.

Menurutnya, permasalahan di Indonesia adalah penanaman modal di negara ini lebih banyak bertumpu pada sektor pertambangan. Hal ini sangat kontras dengan tren global di mana berbagai negara maju dan berkembang sepakat untuk membatasi penggunaan batubara dan beralih ke energi bersih.

“Pada awalnya energi terbarukan memang membutuhkan dana besar, namun seiring dengan prosesnya akan bertambah murah. Karena itu, investasi sangat penting dalam memulai pemanfaataan energi terbarukan ini,” tutupnya.

Penulis: Danny Kosasih

Top