Perubahan Iklim Ancam 18.000 Km Garis Pantai Indonesia

Reading time: 2 menit
Perubahan iklim akan berdampak ke kesejahteraan nelayan. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Wilayah pesisir berkontribusi besar terhadap industri perikanan dan penyimpan karbon. Namun, saat ini dampak perubahan iklim semakin nyata, wilayah pesisir menjadi sektor yang paling terdampak. Ancaman rob, gelombang pasang mengancam 18.000 kilometer (km) garis pantai Indonesia.

Berdasarkan kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), sektor laut dan pesisir mengalami kerugian 75 % dari dampak perubahan iklim dalam rentang waktu tahun 2020-2024. Bappenas menyebut, Indonesia bakal rugi hampir Rp 544 triliun. Dari jumlah itu, sektor laut mengalami kerugian paling besar mencapai Rp 408 triliun.

Direktur Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas, Medrilzam mengatakan, berdasarkan proyeksi perubahan iklim, peristiwa iklim ekstrem akan lebih sering terjadi. Iklim yang ekstrem, gelombang tinggi di terestrial dan wilayah lautan akan sering terjadi.

Parahnya lagi, 18.000 km garis pantai Indonesia akan rentan terdampak rob, gelombang pasang tinggi dan kenaikan muka air laut.

“Terlebih di bagian Pulau Jawa bagian utara, telah terjadi land subsidence. Ini akan memperparah fenomena banjir rob yang notabene juga menjadi pusat kegiatan ekonomi di Indonesia,” katanya kepada Greeners, Kamis (7/7).

Dari segi ekonomi karena gelombang tinggi lanjutnya, para nelayan dengan kapal kurang dari 10 GT akan sulit melaut untuk menangkap ikan. Hal ini akan merugikan para nelayan yang menggantungkan diri pada laut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kenaikan Suhu, Tandai Dampak Perubahan Iklim

Sementara itu Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut, kenaikan suhu di Indonesia telah nyata dirasakan. Berdasarkan analisis hasil pengukuran suhu permukaan dari 92 Stasiun BMKG dalam 40 tahun terakhir, kenaikan suhu permukaan terjadi di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah.

“Di Pulau Sumatra bagian timur, Pulau Jawa bagian utara, Kalimantan dan Sulawesi bagian utara mengalami tren kenaikan > 0,3℃ per dekade,” kata dia.

Dalam keterangannya itu, ia mengungkap, laju peningkatan suhu permukaan tertinggi tercatat terjadi di Stasiun Meteorologi Aji Pangeran Tumenggung Pranoto, Kota Samarinda. Laju kenaikan 0,5℃ per dekade. Sementara itu wilayah Jakarta dan sekitarnya suhu udara permukaan meningkat dengan laju 0,40 – 0,47℃ per dekade.

“Secara rata-rata nasional, untuk wilayah Indonesia, tahun terpanas adalah tahun 2016 yaitu sebesar 0,8 °C dibandingkan periode normal 1981-2010 mengikuti tahun terpanas global,” ucapnya.

Sementara tahun terpanas kedua dan ketiga adalah tahun 2020 dan tahun 2019 dengan anomali sebesar 0,7 °C dan 0,6 °C.

Analisis BMKG tersebut, serupa dengan laporan Status Iklim 2021 (State of the Climate 2021) yang Badan Meteorologi Dunia (WMO) rilis Mei 2022.

Suhu Udara Global Naik 1,11 Derajat Celcius

WMO menyatakan, hingga akhir 2021, suhu udara permukaan global telah memanas sebesar 1,11 °C dari baseline suhu global periode praindustri (1850-1900). Di mana tahun 2021 adalah tahun terpanas ketiga setelah tahun 2016 dan 2020.

WMO menyebutkan dekade terakhir 2011-2020, adalah rekor dekade terpanas suhu di permukaan bumi. Lonjakan suhu pada tahun 2016 karena variabilitas iklim yaitu fenomena El Nino kuat. Sementara itu terus meningkatnya suhu permukaan pada dekade-dekade terakhir yang berurutan merupakan perwujudan dari pemanasan global.

Kepala Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan, Ardhasena Sopaheluwakan menambahkan, kajian Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menyebutkan, pemanasan global tersebut tidak akan terjadi tanpa pengaruh faktor kegiatan manusia atau antropogenik.

Ia menambahkan, WMO menyebut ada peluang 20 persen kenaikan suhu udara permukaan global dalam waktu 5 tahun mendatang. Kondisi ini akan melebihi nilai ambang batas komitmen Kesepakatan Paris 1,5 ℃.

“Sangat urgent negara-negara untuk meningkatkan aksi mitigasi gas rumah kaca untuk menekan laju kenaikan pemanasan global,” tandasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top