Polusi Rumah Tangga Ancam Pneumonia pada Anak-Anak

Reading time: 3 menit
Rumah dengan ventilasi buruk berujung pada tingginya polusi rumah tangga yang bisa memicu pneumonia pada anak-anak. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Paparan polusi rumah tangga hampir dua kali lipat berisiko menimbulkan pneumonia atau peradangan paru-paru terhadap anak-anak. Data World Health Organization (WHO) mengungkap, 45 % kematian akibat pneumonia anak di bawah lima tahun disebabkan oleh polusi udara rumah tangga.

Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) Cynthia Centauri menyatakan, pneumonia merupakan infeksi saluran napas akut pada parenkim paru. Sel paru-paru atau alveoli yang berisi nanah dan cairan menyebabkan kesulitan bernapas dan mengganggu asupan oksigen.

“Patogen yang masuk akan memicu respon imun tubuh dan menyebabkan reaksi peradangan. Ada patogen yang masuk melalui pernapasan atau terhirup secara tidak sengaja. Hal ini secara tidak langsung dapat masuk melalui aliran darah,” katanya kepada Greeners, di Jakarta, Senin (11/4).

Faktor risiko pneumonia ini berasal dari imunitas yang rendah, penyakit yang menyertai pada anak sebelumnya, serta imunisasi yang belum lengkap. Selain itu, ia menegaskan, faktor lingkungan juga sangat krusial misalnya pencemaran udara dari asap rokok hingga padatnya pemukiman sehingga sirkulasi udara tak maksimal.

“Ini sangat penting agar udara yang terhirup anak benar-benar bersih. Orang tua harus menjaga kebersihan lingkungan rumah untuk mencegah pneumonia,” ucapnya.

Indonesia termasuk dalam negara dengan kasus pneumonia peringkat tinggi. Tahun 2017, Indonesia menempati peringkat ke-7 dunia dengan kasus pneumonia tertinggi.

Anak di Lingkungan Berbahan Bakar Padat Berisiko Tinggi Idap Pneumonia

Ketua Satgas Bencana Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Kurniawan Taufiq Kadafi mengungkapkan, risiko anak yang tumbuh di rumah dengan penggunaan bahan bakar padat lebih tinggi dibanding penggunaan bahan bakar gas maupun listrik.

“Ini terlihat dari penelitian di Sri Langka. Sebanyak 262 anak yang mengalami asma akibat infeksi 1,6 kali lebih tinggi berisiko pada anak yang tinggal di rumah dengan bahan bakar minyak tanah dibandingkan menggunakan gas atau listrik untuk memasak,” paparnya.

Dampak polusi udara rumah tangga, sambung dia yaitu dapat menyebabkan terjadinya infeksi saluran pernapasan akibat bakteri Streptococcus pneumoniae. Oleh karenanya, ia menekankan pentingnya edukasi terhadap orang tua mengenai pengaruh polusi udara rumah tangga. Dengan pengetahuan tersebut harapannya, dapat menurunkan kejadian atau dampak negatif akibat polusi udara rumah tangga.

Sementara itu, Direktur Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPPB) Ahmad Safruddin menyebut, pencemaran yang berasal dari dapur dan aktivitas rumah tangga menyumbang 11 % pencemaran udara ambient di DKI Jakarta. Sementara, kendaraan bermotor 47 %, Industri 22 %, debu jalanan 11 %, pembakaran sampah 5 % dan proses konstruksi 4 %.

Ia menambahkan, dapur masih menjadi kontributor utama indoor air pollution di pemukiman perkotaan. Sebagian besar seluruh masyarakat Indonesia, terutama di perkotaan tak lagi menggunakan bahan bakar padat, seperti kayu. Mereka menggantinya dengan bahan bakar LPG. Akan tetapi, sambung Ahmad, masyarakat harus memiliki ventilasi udara yang baik meskipun menggunakan LPG.

“Dapur sekalipun sudah memakai LPG, LNG hingga kompor listrik, tapi karena buruknya ventilasi dapur atau tak ada exhaust fan maka terjadi potensi terjebaknya polutan dari dapur yang sering terakumulasi sampai tingkat yang membahayakan,” imbuhnya.

Rumah Adat Berkonsep Dapur Terpisah Hindari Polusi Rumah Tangga

Sebagai perbandingan, kendati aktivitas dapur di pedesaan juga masih menggunakan biomass seperti kayu bakar dan arang tapi relatif tak menimbulkan dampak indoor air pollution. Selain kualitas udara ambient dari sekitar yang relatif masih lebih baik. Rumah adat juga memiliki kaidah yang mengharuskan dapur terpisah dari rumah utama dengan ventilasi yang cukup.

Jarak antar rumah di perdesaan kerap terpisah oleh kebun dengan pepohonan yang menjadi penyerap polusi udara. Demikian pula masih sedikitnya penggunaan kendaraan bermotor, AC sehingga minim kontribusi terhadap indoor air pollution.

Kontributor pencemaran udara indoor air pollution dari sumber lain juga harus masyarakat perhatikan. Misalnya penggunaan AC yang jarang diservis (yang seharusnya dibersihkan per tiga bulan) mengekspos PM 2.5 akibat penumpukan debu pada filter AC dan tak jarang dihuni mikroorganisme yang membahayakan.

Debu yang terserap dalam plafon dan di bawah karpet yang sering menjadi problem akut dan kronis karena mengekspos paparan debu termasuk PM2.5 secara terus menerus.

Selain itu perhatikan juga penggunaan material pest control yang punya side effect terhadap indoor air pollution. Perhatikan pula konstruksi ruangan dengan material bangunan dan cat yang membahayakan dan tanpa metode pencegahan yang baik.

Selanjutnya, loading dan unloading barang yang sering terpapar debu, penempatan genset yang tidak baik sehingga emisi genset masuk ke dalam. Serta pengelola gedung yang abai terhadap indoor air quality management sehingga indoor air pollution terjadi.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top