Simak, Ini Nilai Tambah Indonesia Jadi Presidensi G20 !

Reading time: 3 menit
Sebagai Presidensi G20 Indonesia harus menunjukkan praktik ekonomi hijau berkelanjutan. Foto: BPMI Setpres

Jakarta (Greeners) -Terpilihnya Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Presidensi G20 merupakan torehan sejarah baru. Bagaimana tidak, ini adalah kali pertama Indonesia memegang Presidensi G20 sejak forum G20 ini dibentuk pada tahun 1999.

Melalui serah terima dalam KTT Roma, Italia pada Oktober 2021 lalu, Indonesia secara resmi meneruskan tongkat estafet itu. Indonesia merupakan negara Asia ke-5 yang menjadi tuan rumah KTT G20 setelah Jepang, China, Korea Selatan serta Arab Saudi.

G20 merupakan forum yang beranggotakan 19 negara dengan skala ekonomi terbesar di dunia, beserta negara di Uni Eropa. Indonesia menjadi satu-satunya negara Asean yang masuk ke dalam keanggotaan G20.

Melansir situs sherpag20indonesia.ekon.go.id, G20 merupakan forum ekonomi utama dunia yang memiliki posisi strategis karena mewakili sekitar 65 % penduduk dunia. Selain itu juga mewakili 79 % perdagangan global dan 85 % perekonomian dunia.

Keanggotaan G20 terdiri atas Amerika Serikat, Afrika Selatan, Australia, Brasil, Arab Saudi, Argentina, India, China, Indonesia, Inggris, Jepang, Italia, Jerman, Meksiko, Kanada, Rusia, Korea Selatan, Perancis, Turki dan Uni Eropa.

Sejarah Lahirnya G20 dari Sebuah Kekecewaan

Sejarah lahirnya G20 tak lepas dari kekecewaan komunitas internasional terhadap negara G7 (Kanada, Jepang, Italia, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, serta Jerman). Ada anggapan mereka telah gagal mencari solusi terjadinya krisis keuangan global pada tahun 1997-1999. Untuk memastikan kondisi itu maka mulai melibatkan negara-negara berpendapatan menengah dan memiliki pengaruh ekonomi sistemik, termasuk di dalamnya Indonesia.

Tepatnya tahun 1999, atas saran para menteri keuangan G7, para menteri keuangan dan gubernur Bank Sentral negara G20 mulai mengadakan pertemuan untuk merespon krisis keuangan global tahun 1997-1999. Sejak saat itulah pertemuan tingkat menteri keuangan rutin mereka lakukan pada musim gugur.

Sembilan tahun kemudian, tepatnya 14-15 November 2008, Presiden Amerika Serikat, George W. Bush mengundang pemimpin negara-negara G20 dalam KTT G20 pertama guna berkoordinasi untuk merespon dampak krisis keuangan. Pada kesempatan itu pula para pemimpin melakukan koordinasi pertemuan rutin yang berkelanjutan.

Lain halnya dengan organisasi multilateral, G20 tak memiliki sekretariat permanen. Itulah kenapa G20 memiliki tuan rumah atau presidensi mengacu pada sistem rotasi kawasan setiap tahunnya. Presidensi G20 bertanggung jawab penuh atas pelaksanaan KTT G20.

G20 didirikan pertama kali untuk merespon beberapa krisis ekonomi dunia. Adapun para menteri keuangan serta gubernur bank sentral hanya fokus memastikan cara terlepas dari krisis seputar kebijakan fiskal dan moneter global.

Namun, seiring perkembangannya tujuan G20 yaitu lebih kepada mewujudkan pertumbuhan global yang kuat, seimbang, inklusif dan berkelanjutan. Pada tahun 2020 dibentuk pula pembahasan pada sektor pembangunan. Sejak saat itu G20 terdiri atas jalur keuangan (finance track) dan jalur Sherpa (Sherpa track).

Terpilihnya Indonesia sebagai Presidensi G20 merupakan torehan sejarah baru. Foto: BPMI Setpres

Manfaat G20 bagi Indonesia Selaku Presidensi

Momentum terpilihnya Indonesia sebagai pemegang Presidensi G20 harus dapat Indonesia manfaatkan bagi pemulihan ekonomi. Secara lebih spesifik Presidensi G20 Indonesia akan dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kontribusi dalam mendukung pemulihan ekonomi domestik.

G20 merupakan sarana untuk memperkenalkan pariwisata dan produk unggulan Indonesia melalui UMKM dan dapat meningkatkan devisa negara, peningkatan produk domestik bruto (PDB), hingga penyerapan tenaga kerja.

Melansir kemenkeu.go.id, melalui forum ini Indonesia dapat mendapat manfaat informasi dan pengetahuan lebih awal tentang perkembangan ekonomi global, potensi dan risiko yang dihadapi, serta kebijakan ekonomi negara maju.

Dari pendekatan ekonomi, beberapa manfaat langsung yang dapat Indonesia raih adalah peningkatan konsumsi domestik yang perkirannya bisa mencapai Rp 1,7 triliun. Lalu penambahan PDB hingga Rp 7,47 triliun dan pelibatan tenaga kerja sekitar 33.000 orang di berbagai sektor.

Dengan tema G20 tahun 2022 “Recover Together, Recover Stronger”, Indonesia memastikan dapat terciptanya pertumbuhan ekonomi yang inklusif, people centered, ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page