Tak Hanya Perburuan, Perubahan Iklim juga Ancam Populasi Badak

Reading time: 3 menit
Badak punya peran tersendiri di alam. Oleh sebab itu perlu dijaga dari kepunahan. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Setiap satwa di alam punya perannya masing-masing, termasuk juga badak. Kepunahan populasi badak akan mengganggu keseimbangan ekosistem. Perburuan dan perubahan iklim bisa mengancam kepunahan satwa langka ini.

Hari Badak Sedunia pada 22 September menjadi momen penting untuk memastikan keberlanjutan badak di Indonesia. Data rekaman dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), badak Jawa Taman Nasional Ujung Kulon hingga pertengahan tahun 2022 menunjukkan peningkatan dua individu atau sejumlah 77 individu dari yang sebelumnya 75 individu.

Staf Ahli Konservasi The Indonesian Wildlife and Nature Conservation Foundation (IWF) Haerudin R. Sadjudin mengatakan, badak memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem di alam. Mengingat badak sebagai penyebar biji seperti berbagai jenis buah dan tumbuhan. Selain itu, badak juga memelihara hutan sekunder dengan memangkas ranting-ranting untuk memakan daun-daun muda.

“Itu hanya dari satu sisi peranan pentingnya di alam. Namun peranan lain yang lebih penting dalam ekosistem yaitu menjaga keragamannya. Jika salah satu spesies punah di alam akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan spesies lainnya,” katanya kepada Greeners, Kamis (22/9).

Mengingat peran pentingnya tersebut, keberlanjutan dan kelestarian badak di alam harus dijaga. Lelaki yang akrab disapa Mang Eeng ini menyebut, beberapa faktor krusial yang mengancam badak. Seperti perubahan iklim yang mengancam ketersediaan pakan badak. Kemarau panjang menyebabkan kekeringan parah sehingga badak kesulitan mendapatkan makanannya. “Hal ini menyebabkan kematian tinggi hingga mengancam kepunahan,” ucapnya.

Hingga kini setidaknya terdapat 251 spesies tumbuhan pakan badak, 80 persen di antaranya yaitu tumbuhan tingkat tiang dan sisanya tingkat seedling dan pohon. “Jika terjadi kemarau panjang dan kekeringan parah akibat perubahan iklim maka tingkat seedling dan pancang itu akan mati duluan,” imbuhnya.

Tak Hanya Perburuan, Tumbuhan Invasif Juga Ancam Badak

Mang Eeng juga menyorot jenis tumbuhan invasif yang mengancam populasi badak, yakni tumbuhan langkap. Langkap merupakan jenis palem invasif yang dapat merajalela menutupi lahan sebagai habitatnya.

“Tanaman itu dapat mengancam badak sunda yang kekurangan pakan di habitat alaminya seperti di Semenanjung Ujung Kulon. Jenis lain juga seperti rotan, salak, bambu duri, bambu cangkeuteuk, bangban dan cente,” papar dia.

Faktor lain yang membuat populasi badak kecil sehingga tingkat ancaman kepunahannya sangat tinggi adalah penyakit. Badak juga sangat rentan terhadap penularan wabah penyakit, seperti Septicemia epizootica (penyakit ngorok) hingga antraks. Penularan penyakit tersebut dapat menyebabkan kepunahan.

Penyebab lainnya terkait dengan perburuan. Mang Eeng menyebut, sudah ada pencegahan perburuan badak. Akan tetapi, ancaman perburuan satwa lain juga berdampak buruk terhadap keberlanjutan badak.

“Harus tetap diwaspadai sebab perburuan spesies lainnya seperti burung masih tetap marak. Jika para pemburu itu membawa racun maka dapat mengancam membahayakan spesies lain termasuk badak,” ujar dia.

Rhino Population in Indonesia Less than One Hundred

Ahli prediksi populasi badak sumatra merosot ke angka kurang dari seratus. Foto: Shutterstock.

Kelahiran Baru Tingkatkan Populasi

Peringatan Hari Badak Sedunia 2022 bagi Indonesia momentum membahagiakan. Hal ini bertepatan dengan tumbuh kembangnya anak badak Jawa yang lahir di Taman Nasional Ujung Kulon. Bayi badak jawa ini lahir dari induk bernama Siti.

Anak badak berkelamin betina ini terekam pertama kali pada 20 Februari 2022. Merdekasari, begitulah nama bayi badak sebagai kado terindah peringatan World Rhino Day atau Hari Badak Sedunia ini.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar menyatakan, berdasarkan perhitungan kumulatif jumlah minimum sementara badak jawa sampai saat ini adalah 77 individu. Komposisi jenis kelaminnya adalah 39 jantan dan 38 betina. Hanya ada lima spesies badak di dunia. Dua di antaranya hidup di Indonesia yaitu badak sumatera dan badak jawa.

“Kita juga sangat bersyukur ada 107 kelahiran satwa liar yang dilindungi dan bahkan endemik di Indonesia sepanjang tahun 2022. Terdiri dari jalak bali 12 ekor, orang utan kalimantan 3 ekor, penyu hijau 83 ekor, maleo 1 ekor, anoa 1 ekor. Lalu harimau sumatera 3 ekor, badak sumatera 1 ekor dan badak jawa 3 ekor,” kata Siti dalam keterangannya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page