Ephedra Sinica, Tanaman Herba yang Disinyalir Berbahaya

Reading time: 2 menit
Salah satu senyawa dari tumbuhan ini jika terus dikonsumsi akan memicu gejala stroke. Foto: Shutterstock

Ephedra sinica atau lebih dikenal sebagai Ephedra, adalah spesies tanaman obat yang jamak ditemukan di wilayah Asia dan Rusia. Flora ini mulanya dianggap berkhasiat melawan Covid-19, namun kini kandungannya ahli nilai berbahaya bagi kesehatan manusia.

Tumbuhan ephedra tergolong sebagai tanaman semak yang berasal dari famili Ephedraceae. Genus ini adalah satu dari tiga anggota Gnetophyta, yang sedikitnya membawahi 70 spesies.

Karena itu, secara taksonomi Ephedra berkerabat dengan tumbuhan dari genus Gnetum dan Welwitschia. Mereka tersohor akan kekuatannya, sebab mampu berbiak di berbagai habitat.

Ephedra sinica sendiri berkembang biak di daerah beriklim sedang. Kelompok tumbuhan ini dikenal sebagai bahan baku obat herbal dari Tiongkok, yang memiliki nama lokal ma huang.

Morfologi dan Ciri-Ciri Ephedra Sinica

Sebagai tumbuhan semak, ma huang bisa kita kenali dari pertumbuhannya yang merambat dan memiliki perbatangan jarang. Bagian ini berwarna hijau dan berguna untuk fotosintesis.

Umumnya, daun-daun tumbuhan Ephedra muncul berhadap-hadapan atau melingkar. Daun ini akan segera rontok setelah berkembang, bisa diidentifikasi dari bentuknya yang bersisik.

Terdapat serbuk sari di bagian rujung atau strobilus Ephedra sinica. Tumbuhan satu ini tidak menghasilkan bunga, namun tersedia bracts berwarna putih pada tiap-tiap ruas batangnya.

Bracts sendiri punya tekstur berdaging dengan pola pertumbuhan bergerombol. Umumnya, tersedia 1–2 biji berwarna kuning hingga cokelat tua pada bagian rujung tanaman tersebut.

Saat sudah kering, batang Ephedra sinica berubah warna menjadi cokelat atau kekuningan. Bagian inilah yang digunakan sebagai ramuan obat, sebab mengandung senyawa efedrina.

Distribusi dan Pemanfaatan Ephedra Sinica

Sebagian besar spesies Ephedra tumbuh di kawasan pantai atau tanah berpasir dengan sinar matahari langsung. Peta persebarannya sangat luas, walau terkonsentrasi di wilayah panas.

Ephedra sinica sendiri tumbuh di dataran Mongolia, Rusia dan timur laut Cina, meliputi Jilin, Gansu, Hebei, Heilongjiang, Liaoning, Nei Mongol, Ningxia, Shaanxi, sampai dengan Shanxi.

Di pegunungan Andes dan Himalaya kelompok tumbuhan ini juga dapat kita temukan, yaitu pada daerah yang kering dan cerah sampai ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut.

Dari wilayah-wilayah tersebut, berbagai olahan ma huang terdistribusi ke sejumlah negara. Sebagian besar dimanfaatkan sebagai obat penurun berat badan, alergi, demam dan asma.

Sayangnya, risiko yang senyawa ini timbulkan lebih besar daripada manfaatnya. Obat berbahan Ephedra sinica kini dilarang di banyak negara, salah satunya Amerika Serikat.

Efek Samping Penggunaan Ma Huang

Ramuan ma huang adalah salah satu suplemen ergogenik. Mengonsumsinya dapat memicu mual-mual, diare, batu ginjal, peningkatan detak jantung dan meningkatkan tekanan darah.

Merujuk Harvard Health Publishing, lebih dari 800 reaksi berbahaya telah dilaporkan akibat penggunaan obat ini, termasuk serangan jantung, stroke, kejang, serta kematian mendadak.

Berdasarkan studi Annals of Internal Medicine, produk efedrina hanya menghasilkan 1% dari penjualan suplemen herbal di AS, tetapi ia bertanggung jawab atas 62 % laporan keracunan.

Melansir Kompas.com, kandungan ma huang diketahui tidak efektif digunakan sebagai obat Covid-19. Ia terbukti tidak menurunkan efek infeksi dan angka kematian virus tersebut.

Apabila digunakan dalam waktu panjang, senyawa Ephedra sinica dapat memicu terjadinya stroke. Karena itu, obat ini tidak lagi dianjurkan bagi para penderita penyakit kardiovaskular.

Taksonomi Spesies Ephedra Sinica

Penulis : Yuhan al Khairi

Top
You cannot copy content of this page