Katak Panah Beracun, Hati-hati dengan Toksinnya yang Mematikan!

Reading time: 3 menit
Katak Panah Beracun
Katak panah beracun di balik primadona warnanya, tersimpan bahaya dari dalam tubuhnya. Foto: Shutterstock

Memiliki warna kulit biru safir, penampilan Dendrobates tinctorius memang sangat elok dipandang mata. Namun jangan sekali-kali mencoba menyentuh mereka, karena spesies amfibi ini tergolong sebagai katak panah beracun dari famili Dendrobatidae.

Keluarga Dendrobatidae merupakan spesies katak asli yang berasal dari Amerika Tengah dan Selatan. Mereka dapat kita tandai dari warna kulitnya yang cerah, licin dan juga bercorak.

Katak D. tinctorius bukanlah satu-satunya individu yang berasal dari genus Dendrobates. Ia berkerabat dekat dengan spesies katak panah emas, yang juga memiliki racun mematikan.

Merujuk berbagai literatur, kadar toksin yang terkandung dalam kulit katak panah beracun terbilang tinggi. Ia dapat membunuh 10 orang dewasa dalam waktu beberapa menit saja.

Karakteristik dan Ciri-Ciri Katak Panah Beracun

Ukuran tubuh D. tinctorius cukup kecil, mereka berbiak sekitar 1,5 – 6 cm dengan bobot 30 gram. Warna tubuhnya sangat bervariasi, lebih kompleks daripada katak beracun kebanyakan.

Warna kulit dasar katak tersebut sejatinya hitam, dengan pola garis kuning atau putih yang tidak teratur di sepanjang punggung, panggul, dada, kepala, hingga ke bagian perutnya.

Seiring bertambahnya usia, warna tersebut lantas berubah menjadi kebiruan. Sedang pada usia dewasa, warna biru tadi berubah kembali menjadi lebih pekat dengan titik-titik hitam.

Corak warna pada kulit katak panah beracun adalah bentuk pertahanan diri. Ahli menyebutnya ‘warning coloration’, yang berguna sebagai “peringatan” bagi para predator mereka.

Melansir beragam sumber, ukuran tubuh katak jantan biasanya lebih kecil dari sang betina. Mereka mempunyai cakram jari kaki yang lebih besar dengan bentuk menyerupai hati.

Sedangkan cakram jari kaki katak panah beracun betina berbentuk lingkaran. Punggungnya terlihat lebih melengkung daripada penjantan, serta memiliki ukuran lebih besar dan lebar.

Baca juga: Pelobatrachus Nasutus, Katak Bertanduk Ahli Kamuflase

Habitat dan Kebiasaan Katak Panah Beracun

Spesies D. tinctorius ahli temukan di daerah kaki bukit dan serasah hutan sampai ketinggian 350 meter di atas permukaan laut (mdpl). Berudunya mampu bertahan hidup di kolam air dengan tingkat keasaman tinggi.

Berdasarkan sejumlah riset, berudu katak beracun terbilang cukup tangguh dan adaptif. Daerah pembiakkannya mencapai ketinggian vertikal 15 m dengan salinitas 955 ppm.

Katak ini tergolong sebagai diurnal, mereka aktif pada siang hari untuk mencari makan. Makanannya sendiri berupa serangga-serangga kecil yang bisa masuk ke mulut mereka.

Walau bermukim di sekitar perairan, katak panah beracun bukan perenang yang baik. Mereka bisa saja tenggelam, apalagi jika berada pada perairan berarus deras dan dalam.

Uniknya, katak D. tinctorius betina cenderung lebih ‘posesif’ daripada pejantan. Mereka akan bergulat untuk mengusir betina pesaing, hingga tak jarang menyebabkan kematian.

Menurut IUCN Red List, populasi katak panah beracun cenderung stabil dan masih banyak. Karena itu, pakar golongkan spesiesnya sebagai satwa berisiko rendah atau ‘Least Concern’.

Fungsi Racun Katak Dendrobates Tinctorius

Sama seperti corak warnanya, racun yang tersimpan dalam kulit katak ini berguna sebagai alat pertahanan diri. Infeksinya dapat menimbulkan rasa sakit, keram, hingga sensasi kaku.

Jenis racun yang katak D. tinctorius hasilkan adalah alkolid. Zat ini disalurkan lewat kelenjar kulit, serta berasal dari hewan tungau, rayap dan semut yang berhasil mereka konsumsi.

Racun alkolid (batrachotoxin) mempunyai kemampuan untuk membuka saluran sodium sel saraf, yang mana hal ini secara permanen memblokir sinyal yang diterima oleh otot kita.

Karena itu jika terkena racun alkolid, penderitanya akan mengalami kejang otot dan keram. Dalam kasus lebih parah, gejala ini bisa mengakibatkan gagal jantung dan merenggut nyawa.

Bagi suku Indian kemampuan toksin katak panah beracun berguna dalam perang. Racun ini mereka lumuri pada bagian ujung panah, sehingga bisa menjadi alat tempur mematikan.

Di bidang kesehatan, ilmuwan percaya bahwa racun D. tinctorius bermanfaat sebagai obat pereda rasa sakit. Ini diperoleh berdasarkan hasil riset terhadap komponen racun tersebut.

Baca juga: Kodok Merah, Kodok Endemik Jawa Paling Langka di Indonesia

Taksonomi Spesies Dendrobates Tinctorius

Katak Panah Beracun-Taksonomi

Penulis : Yuhan al Khairi

Top
You cannot copy content of this page