Kopi Liberika, Sang Penyelamat Lahan Gambut

Reading time: 2 menit
Kopi Liberika
Kopi Liberika. Foto: shutterstock

Jenis kopi yang paling umum diketahui oleh masyarakat adalah robusta (Coffea canephora) dan arabika (Coffea arabica L.). Kopi robusta memiliki proporsi 81 persen dari total keseluruhan produksi kopi di Indonesia dan sisanya adalah kopi arabika. Selain keduanya, terdapat jenis lain yang tidak kalah terkenal, yaitu liberika (Coffea liberica). Kopi ini memiliki ciri khas aroma yang lebih menyengat dibandingkan kopi arabika dan robusta.

Jumlah kopi liberika masih sangat terbatas di Indonesia. Berdasarkan catatan Center for International Forestry Research (CIFOR) 2019, kopi ini juga dikenal sebagai kopi khas gambut karena kemampuannya untuk bisa beradaptasi dengan baik di tanah gambut. Sementara kopi jenis lain tidak bisa tumbuh (Hulupi, 2014). Menurut Gusfarina (2014), kopi liberika juga toleran terhadap serangan hama dan penyakit serta tahan terhadap iklim yang panas dan kelembapan tinggi.

Baca juga: Caisim, Sawi Hijau Penangkal Kanker Prostat

Dalam sejarahnya, kopi liberika masuk ke Indonesia pada abad ke-19 dibawa oleh Belanda menggantikan kopi arabika yang terserang hama daun karat atau Hemileia vastatrix (Hulupi, 2014). Kopi langka ini ditanam di lahan basah atau gambut di sepanjang pantai timur Sumatera mulai dari Jambi sampai ke Kepulauan Riau khususnya Kepulauan Meranti. Di tanah asalnya di Liberia, kopi liberika biasa ditanam tumpang sari dengan tanaman lain kecuali dengan pohon kelapa sawit.

Kopi Liberika

Kopi Liberika. Foto: shutterstock

Tanaman kopi umumnya tumbuh tegak, bercabang, dengan tinggi dapat mencapai 12 meter. Daunnya berbentuk bulat telur dengan ujung agak meruncing. Beberapa sifat kopi liberika yakni, ukuran daun, cabang, bunga, buah, dan pohonnya lebih besar dibandingkan kopi arabika dan robusta. Cabang primernya bertahan lebih lama dan dalam satu buku dapat menghasilkan bunga atau buah lebih dari satu kali. Produksi sedangnya sebanyak 4,5 hingga 5 ku per hektare per tahun dengan rendemen sekitar 12 persen. Kopi yang berbuah sepanjang tahun ini memiliki ukuran buah tidak seragam dan tumbuh baik di dataran rendah.

Karena ketebalan kulitnya, kopi liberika tidak bisa diproses secara manual, tetapi tahan ketika disimpan dalam jangka waktu lama. Jika sudah masak buah kopi akan berwarna merah, oranye kuning, dan ada juga yang hijau kekuningan.

Baca juga: Pisang Tongka Langit Khas Maluku

Kopi liberika merupakan kopi dataran rendah yang cocok di lahan bergambut. Jenis kopi ini juga menjadi  komoditas penting  yang  dikembangkan  masyarakat  pesisir  di  Kabupaten  Tanjung  Jabung  Barat, Provinsi Jambi. Masyarakat Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi telah membudidayakan kopi secara turun-temurun sekitar 70 tahun yang lalu.

Kopi tersebut ditanam pada lahan gambut dengan kondisi tanah asam yang cukup tinggi. Uniknya, masyarakat setempat tidak menyadari bahwa budidaya kopi yang telah dilakukan sejak 1940-an tersebut telah berkontribusi menyelamatkan lahan gambut dari degradasi sehingga bisa dibilang sebagai pahlawan.

Taksonomi Kopi Liberika

Penulis: Sarah R. Megumi

Top