Oryx Arab, Hewan Gurun yang Bangkit dari Kepunahan

Reading time: 2 menit
Hewan ini memiliki kemampuan mendeteksi curah hujan. Foto: Shutterstock

Di alam liar, populasi hewan ini sempat ahli nyatakan punah. Spesiesnya dapat diselamatkan lewat program penangkaran, hingga membuat jumlah mereka makin bertambah. Inilah oryx Arab, salah satu spesies antelop dari Jazirah Arab.

Semua spesies antelop disebut sebagai Oryx. Ini sebenarnya adalah nama dari suatu genera, yang membawahi empat spesies hewan dari keluarga Bovidae dan upafamili Hippotraginae.

Oryx Arab sendiri memiliki nama latin Oryx leucoryx. Spesiesnya berkerabat dengan O. beisa, O. dammah dan O. gazella; tiga kelompok antelop yang ahli temukan di bagian kering Afrika.

Spesies O. leucoryx merupakan satu-satunya kelompok yang berasal dari Semenanjung Arab. Hewan ini dijuluki juga sebagai kijang putih, kendati penampilannya lebih mirip seperti rusa.

Morfologi dan Ciri-Ciri Oryx Arab

Jika diukur dari kaki ke bahu, tinggi tubuh oryx Arab bisa mencapai 1 meter dengan berat 70 kg. Bagian tubuh atas berwarna putih, sedangkan bagian bawahnya berwarna cokelat pekat.

Kaki dan wajahnya mempunyai corak garis yang khas berwarna hitam. Di bagian muka, garis ini melintas dari leher, dahi, hidung, lalu turun melalui tanduk sampai ke mata hingga mulut.

Panjang tubuh hewan ini rata-rata berkisar 60–150 cm. Tanduknya panjang, tajam, bercincin dan nyaris lurus, namun ukuran tanduk betina umumnya lebih panjang dibandingkan jantan.

Berbeda dengan rusa, tanduk spesies antelop dapat terus tumbuh sepanjang waktu. Mereka umumnya mempunyai jumlah kuku kaki genap, serta ekor atau buntut sepanjang 45–90 cm.

Selain itu, para pejantan bisa kita tandai dari seberkas ramput di bagian tenggorokan. Anak-anak tidak memiliki tanda khusus di kaki dan wajah, melainkan pada bagian ekor serta lutut.

Habitat dan Populasi Oryx Arab

Secara garis besar oryx Arab tinggal di dataran yang kering pada daerah gurun. Meski begitu, ada pula individu yang menetap di lereng bukit berbatu dan area semak-belukar yang lebat.

Suriah, Irak, Israel, Yordania dan Sinai adalah wilayah persebaran hewan ini. Mereka sempat dinyatakan punah pada 1970-an, tapi statusnya berubah menjadi “rentan” pada tahun 2011.

Populasinya saat itu mencapai 1.000 ekor di alam liar dan 6.000–7.000 ekor di penangkaran. Menurut IUCN Red List, tren populasinya cenderung stabil serta berpotensi terus meningkat.

Faktor terbesar pemicu kepunahan kijang putih, ialah perburuan liar. Satwa ini diburu untuk diambil daging dan juga kulitnya, serta bagian tanduk yang berguna untuk membuat senjata.

Padahal, harapan hidup spesies O. leucoryx terbilang cukup tinggi. Mereka mampu bertahan hidup dalam lingkungan ekstrem selama 10–15 tahun, serta sekitar 20 tahun di penangkaran.

Pola Hidup dan Kebiasaan Oryx Arab

Oryx Arab hidup di habitat yang suhunya dapat mencapai 50 derajat Celsius. Mereka adalah spesies yang berkoloni, sehingga satu kelompoknya dapat diisi oleh sebanyak 5–30 anggota.

Akan tetapi, perkelahian kerap kali membuat kelompok ini bercerai menjadi grup yang lebih kecil. Anggota grup tersebut biasanya tak lebih dari 3–5 individu atau anggota keluarga saja.

Spesies O. leucoryx juga tergolong sebagai hewan nomaden. Mereka berkelana ke berbagai tempat untuk mencari rumput dan tumbuh-tumbuhan dengan mengikuti pergerakan hujan.

Kemampuan mendeteksi curah hujan ini memang sangat membantu. Bukan hanya mencari makanan, tetapi juga menemukan semak untuk bernaungan serta pohon untuk beristirahat.

Selain iklim dan perburuan, tantangan utama pelestarian kijang putih ialah pola reproduksi. Masa kehamilan betina terbilang sangat lama, yaitu mencapai 240 hari untuk satu ekor bayi.

Taksonomi Spesies Oryx Leucoryx

Penulis : Yuhan al Khairi

Top

You cannot copy content of this page