Salak Condet, Maskot Jakarta Yang Terlupakan

Reading time: < 1 menit
Salak Condet, Foto : greeners.co/Ahmad Baihaqi (Indonesia Wildlife Photography)

Berkurangnya RTH Jakarta akibat betonisasi, seperti pembangunan gedung-gedung pencakar langit, mall yang megah, pemukiman dan industri menyebabkan habitat alami Jakarta semakin tertekan.

Salah satunya adalah salak condet. Salak condet yang bersama elang bondol telah ditetapkan sebagai identitas atau maskot DKI Jakarta melalui Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta No. 1796 Tahun 1989 ini mulai dilupakan bahkan oleh warga Jakarta sendiri.

Saat ini, salak condet hanya dapat ditemukan di kawasan Cagar Budaya Condet yang mencakup lahan seluas 18.228 hektar, yang meliputi Kelurahan Batu Ampar, Kelurahan Bale Kambang, dan Kelurahan Kampung Tengah.

Pohon salak (Salacca zalacca) termasuk dalam keluarga Palmae, memiliki akar serabut dan perakarannya cukup dangkal, yaitu ± 1 meter pada permukaan tanah. Bagian pelepah batangnya penuh dengan duri, berduri halus pada kulit buahnya yang berwarna kehitaman atau kecoklatan, berbiji tunggal dan memiliki aroma buah yang khas.

Dari segi rasa dan warna kulitnya, salak condet memiliki paling sedikit 10 macam (verietas). Salak condet berasa manis dan sedikit asam. Daging buahnya agak lebih besar dibandingkan salak pondoh ataupun salak bali.

Kini Kota Jakarta lebih sering diidentikkan dengan Tugu Monumen Nasional (Monas) atau Ondel-Ondel Betawi. Bahkan cinderamata yang dijual di tempat-tempat pariwisata Ibu Kota kebanyakan bergambar atau berbentuk Tugu Monas atau Ondel-Ondel, sangat sedikit yang bergambar salak condet atau elang bondol.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta jelas harus lebih memperhatikan identitas maskot Jakarta seperti salak condet dan elang bondol agar tidak punah di tanahnya sendiri.

Salacca

 

Penulis : Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

Top
You cannot copy content of this page