Susu Kentang, Alternatif Pengganti Susu Sapi

Reading time: 4 menit
Susu Kentang - Alternatif Pengganti Susu Sapi

Lahir dengan nama latin Solanum Tuberosum ialah sejenis umbi-umbian yang dapat diolah menjadi berbagai santapan lezat. Namun tak hanya lezat, kentang –julukan Indonesianya– dapat menjadi pilihan tepat asupan pengganti bagi penderita autis.

Oleh Trinanti Sulamit | Artikel ini diterbitkan pada edisi 05 Vol. 3 Tahun 2008

 

Tanaman kentang pertama kali dikembangbiakan pada masyarakat Andes, Amerika Latin. Jenis tanaman ini dapat tumbuh dengan baik pada dataran tinggi (500-3.000 m dpl) dengan ketinggian yang paling cocok pada 1.300 m dpl dengan suhu relatif 20°C.

Keistimewaan kentang yang menjadi pembahasan kali ini adalah fungsinya sebagai bahan pangan substitusi bagi penderita autis. Selain perhatian dan cinta kasih, penderita autis memerlukan perhatian khusus atas pilihan asupan makanannya. Hal ini berawal dari ketidakmampuan tubuh seorang penderita autis untuk menguraikan sejumlah protein. Sebuah hasil penelitian Universitas Florida menemukan bahwa peptides dengan aktivitas opiate terdapat pada urin sebagian besar anak-anak autis. Peptides merupakan hasil protein yang rusak. Hal ini mempengaruhi perkembangan otak dan perilaku menarik diri (autistik) pada penderitanya. Dua jenis protein yang menyebabkannya antara lain gluten dan kasein.

Prof. HM Hembing Wijayakusuma dalam Human Medicine menjelaskan ada tiga reaksi akibat pengonsumsian gluten dan kasein. Pertama, alergi yang berwujud pada perilaku hiperaktif dan agresif. Kedua, tidak toleran dan sensitif terhadap makanan yang terwujud dalam gejala sakit perut, sakit kepala, menangis berlebihan, sensitif pada suara tertentu hingga depresi. Ketiga, ketika gluten dan kasein berubah menjadi pecahan protein tidak sempurna (peptida), kemudian melalui aliran darah peptida masuk ke otak dan kemudian ditangkap reseptor opioid; gejala ini tampak seperti orang yang baru saja mengonsumsi obat-obat opioid (misal heroin dan morfin).

Alergi terhadap susu sapi harus diatasi dengan menghindari segala jenis bahan asupan yang mengandung susu sapi, seperti skim, dried, susu evaporasi maupun susu kondensasi. Penderita lactose intolerance mengalami kelainan sejak lahir dalam sistem pencernaan dengan sekresi laktase yang tidak mencukupi atau tidak dihasilkan sama sekali. Akibatnya, laktosa tidak dapat dicerna dan dalam konsentrasi yang cukup besar menyebabkan diarrhoea.

Kasein merupakan jenis protein yang terdapat dalam susu sapi. Sementara itu, gluten merupakan jenis protein yang terkandung dalam sejumlah makanan pokok seperti gandum (wheat dan oats),  gandum hitam (rye), dan gandum yang kerap digunakan untuk membuat bir (barley). Bagi penderita autis, makanan dengan komposisi kedua jenis protein ini haruslah dihindari. Memang diperlukan perhatian khusus untuk mengenali detil-detil komposisi setiap makanan pantangan bagi anak autis.

“Selain perhatian dan cinta kasih, penderita autis memerlukan perhatian khusus atas pilihan asupan makanannya.“

Top