calendar
Jumat, 18 Januari 2019
Pencarian
tenun ikat sumba
Kain tenun ikat Sumba merupakan salah satu kekayaan budaya dari Nusa Tenggara Timur. Foto: greeners.co/Anggi Rizky Firdhani

Tenun Ikat Sumba, Eksotisme Nusa Tenggara Timur dalam Kain

Mode

(Greeners) – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan eksotis yang berada di wilayah timur Indonesia. Tak hanya dikenal sebagai daerah yang memiliki banyak objek wisata menarik seperti Danau Kelimutu dan Labuan Bajo, Provinsi NTT juga dikenal memiliki “harta karun” berupa kekayaan budaya yang begitu memesona.

Tenun ikat Sumba adalah salah satu bentuk dari kekayaan budaya yang dimiliki oleh Provinsi NTT. Tenun ikat Sumba merupakan kain nusantara nan eksotis yang diciptakan oleh para seniman tenun dari Sumba Timur. Tenun ikat Sumba bukanlah kain yang bisa dikerjakan oleh sembarang orang. Salah satu seniman tenun ikat Sumba senior, Ruth Babang Liau atau Mama Ruth, menceritakan bahwa butuh proses yang rumit dan panjang untuk menghasilkan satu helai kain tenun ikat Sumba berukuran besar. Hal tersebut dikarenakan seluruh proses pengumpulan bahan dan pembuatan tenun ikat Sumba dikerjakan secara manual.

“Satu helai kain tenun biasanya saya kerjakan selama 2 hingga 3 bulan. Bisa 5 bulan kalau ukurannya besar. Mengapa lama, karena kita harus mencari bahan baku dan bahan pewarna ke hutan. Semua kain tenun ikat Sumba sepenuhnya dibuat dari tumbuhan, termasuk pewarnanya juga,” tutur Mama Ruth ketika ditemui oleh Greeners pada acara pameran tenun ikat Sumba di Jakarta, Minggu (01/10).

tenun ikat sumba

Foto: greeners.co/Anggi Rizky Firdhani

Mama Ruth juga menjelaskan bahwa setiap helai kain tenun ikat Sumba siap pakai telah melewati 42 tahap proses pengerjaan dan tidak dapat dikerjakan seorang diri.

“Satu helai tenun ikat Sumba biasanya dikerjakan oleh 3 sampai 10 orang. Ada yang mencari bahan, memintal benang, mewarnai benang, menenun, dan membuat motif. Selembar kain tenun ikat kita buat melalui 42 proses, mulai dari proses lamihi (proses memisahkan biji dari kapas) hingga proses wari rumata (proses finishing) .Makanya selesainya bisa lama,” papar Mama Ruth.

Tak hanya indah, kain tenun ikat Sumba juga merupakan kain yang sangat ramah lingkungan karena sepenuhnya terbuat dari kapas. Tenun ikat Sumba juga diwarnai dengan pewarna alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Tidak ada bahan kimia sedikitpun yang digunakan dalam proses pembuatan tenun ikat ini.

“Bahan baku tenun ikat Sumba adalah kapas. Kapas diurai dengan pandi lalu dipintal menjadi benang. Setelah itu, benang diwarnai oleh pewarna alami. Warna biru berasal dari tanaman indigo dan nila, merah dari akar mengkudu, dan hitam dari lumpur. Kain tenun ikat Sumba pokoknya jangan dicuci dengan sabun supaya warna kainnya tidak rusak,” katanya.

“Proses pewarnaan juga memakan waktu lama, bisa minimal 2 mingu baru selesai diwarnai. Untuk melakukan pewarnaan warna biru, prosesnya harus dilakukan oleh perempuan dan ada beberapa pantangan yang harus dijaga supaya proses pewarnaannya tidak gagal,” tambah Mama Ruth.

tenun ikat sumba

Berbagai bahan alami, seperti tumbuhan indigo dan akar mengkudu, digunakan sebagai pewarna kain tenun ikat Sumba. Foto: greeners.co/Anggi Rizky Firdhani

Tidak seperti kain pada umumnya, setiap lembar kain tenun ikat Sumba yang lahir dari tangan para seniman memiliki cerita dan keunikan masing-masing. Mama Ruth menyatakan bahwa setiap kain tenun ikat Sumba lahir dari suara hati para pembuatnya. Seperti lukisan, setiap helai kain tenun ikat Sumba menggambarkan kreativitas, imajinasi, dan suasana hati dari sang seniman tenun.

“Setiap kain tenun ikat Sumba memiliki cerita masing-masing. Ada yang berisi tentang cerita sejarah dan doa. Cerita tersebut dituangkan dalam kain melalui motif-motif. Saya biasanya membuat motif langsung di atas kain, tidak dibuat sketsa terlebih dahulu,” tuturnya.

Perlu diketahui, tidak semua penenun bisa membuat motif langsung di atas kain seperti Mama Ruth. Kain tenun ikat Sumba sendiri biasanya dihiasi oleh berbagai motif yang terinspirasi dari flora dan fauna. Setiap motif tentunya memiliki cerita masing-masing.

“Motif singa berkepala manusia melambangkan kekuasaan, motif bunga melambangkan kehidupan manusia yang saling membutuhkan, dan motif ular melambangkan kehidupan setelah kematian. Ada juga beberapa motif yang hanya bisa digunakan oleh masyarakat dari kelas bangsawan seperti motif patola ratu,”pungkas Mama Ruth.

Dalam dunia fesyen di Indonesia, keeksotisan kain tenun ikat Sumba mampu menarik peminat yang begitu banyak. Sudah banyak para desainer yang merancang pakaian dengan menggunakan kain tenun ikat Sumba. Meski demikian, para desainer harus sangat berhati-hati dalam merancang busana yang terbuat dari kain tenun ikat Sumba. Sebisa mungkin, kain tenun ikat Sumba tidak mengalami proses pengguntingan supaya nilai seni dari kain tersebut tetap terjaga utuh.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

Top