Yuk Kurangi! Makanan dalam Kemasan Bisa Sumbang Food Waste

Reading time: 3 menit
Program Sarinah Bebas Food Waste. Foto: Greeners/Ramadani Wahyu

Jakarta (Greeners) – Sampah makanan (food waste) masih menjadi tantangan terbesar bagi Indonesia. Menurut The Economist Intelegent Unit pada tahun 2018, Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara pembuang makanan terbesar secara global.

Guna mengurangi sampah makanan, kali ini komunitas Surplus Indonesia mengadakan Flash Food Sale produk-produk overstock yang hampir expired dengan potongan 50 %. Bagian program “Sarinah Bebas Food Waste” ini bertujuan untuk mengurangi sampah makanan dari produk makanan dalam kemasan.

Community Manager Komunitas Surplus Alya Fatina Diandari menyatakan, permasalahan utama food waste tak hanya berasal dari makanan sisa dari piring. Namun, juga dari makanan dalam kemasan.

Permasalahan tersebut para produsen makanan kemasan alami. Mereka terpaksa harus menerima kembali sisa produk yang tak habis dari retail. Terutama produk yang melebihi acuan kurang dari tiga bulan expired date dan kembali ke produsen.

“Inilah yang kemudian produsen terima lagi dan akan dihancurkan sehingga memicu food waste,” katanya kepada Greeners, Jumat (19/8).

Mengusung tagline, “Harga Beda, Rasa Tetap Sama”, Alya memastikan jaminan keamanan dan rasa produk. Yang pasti, sambung dia bagaimana caranya untuk memastikan tak ada makanan yang terbuang.

“Itulah movement dari Surplus yaitu menyelamatkan makanan overstock supaya tidak menjadi food waste. Produk penjual makanan kemasan pasti punya expired date,” ungkapnya.

Membeli dengan Diskon 50 % Untuk Kurangi Food Waste

Ia juga menyebut antusiasme pengunjung sangat tinggi. Utamanya bagi mereka yang memanfaatkan momen ini untuk mencoba produk baru. “Kebanyakan mereka ingin mencoba-coba produk baru, terlebih dengan diskon 50 % tentu lebih hemat. Dan kalau memang mereka cocok maka bisa membeli dengan harga normal di supermarket,” paparnya.

Adapun untuk jenis makanan kemasan yang mereka jual yaitu berupa makanan ringan seperti keripik dalam skala kecil. Alya menyebut, produk-produk seperti ini berpotensi sangat cepat untuk habis. Itu artinya juga turut mengurangi potensi adanya sampah makanan.

Sebelumnya, peluncuran program “Sarinah Bebas Food Waste” dilakukan melalui penandatanganan MoU antara Surplus Indonesia (platform penggiat food waste) dengan Mal Sarinah (BUMN) dan peresmian booth sebagai simbolisnya, baru-baru ini.

Program tersebut juga dapat dukungan dari Badan Pangan Nasional, Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) dan Yayasan Surplus Peduli Pangan (YSPP).

Dalam waktu dekat, program ini akan teraplikasi pada seluruh mal di Indonesia sebagai bentuk komitmen dalam memberantas kemubaziran dan permasalahan besar masyarakat Indonesia.

Pengunjung mengamati program bebas food waste Sarinah dengan diskon 50 %. Foto: Greeners/Ramadani Wahyu

Dorong Aktivitas Bisnis dan Sosial

Aktivitas pada program “Sarinah Bebas Food Waste” terbagi menjadi dua, yaitu aktivitas bisnis dan sosial. Aktivitas bisnis melibatkan tenant food and beverage (F&B) di Sarinah seperti Rumah Atsiri, Nastar by Ritz, Paviliun, Sari Ratu, HAUS!, Es Teler 77 dan Sari Delicatissen.

Pengguna aplikasi Surplus dapat membeli makanan pada tenant tersebut dengan harga diskon 50 %. Hal ini dapat membantu pengurangan food waste bagi pelaku usaha F&B. Sedangkan untuk aktivitas sosialnya, tim relawan Yayasan Surplus Peduli Pangan akan membantu menyalurkan produk berlebih dari tenant F&B kepada masyarakat di sekitar kawasan Sarinah sebagai upaya menyelamatkan makanan berlebih sekaligus membantu sesama.

Harapannya, di akhir tahun 2022, program “Sarinah Bebas Food Waste” dapat mencegah lebih dari 10 ton makanan yang dapat berpotensi menjadi sampah makanan dan berhasil mencegah kerugian finansial hingga mencapai Rp 500 juta bagi para tenant di Mal Sarinah.

Selain itu program ini dapat mencegah potensi munculnya lebih dari 100 ton CO2 dari total makanan yang terselamatkan melalui aplikasi Surplus dan kegiatan Yayasan Surplus Peduli Pangan.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page