Angka Kematian di Atas Rata-Rata, Presiden Masih Optimistis Covid-19 Terkendali

Reading time: 3 menit
Angka Kematian di Atas Rata-rata, Presiden Masih Optimistis Kendalikan Covid-19
Presiden Jokowi memberikan arahan pada Sidang Kabinet Paripurna, Selasa (1/12/2020), di Istana Negara, Jakarta. Foto: Agung/Humas Sekretariat Kabinet RI.

Perkembangan penanganan Covid-19 pada pekan ini harus menjadi pembelajaran serius. Dari peta zonasi risiko per 29 November 2020, jumlah daerah yang masuk zona merah bertambah cukup banyak.

Jakarta (Greeners) – Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Prof. Wiku Adisasmito, memaparkan daerah zona merah atau risiko tinggi naik menjadi 50  dari sebelumnya 28 kabupaten/kota.

“Saya sangat kecewa karena jumlah daerah yang berada di zona merah bertambah hampir dua kali lipat dari minggu sebelumnnya. Selain itu, jumlah daerah yang berada di zona hijau pun semakin menipis,” ungkapnya saat memberi keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19 di Graha BNPB, yang juga disiarkan langsung melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (1/12/2020).

Rincian Perubahan Peta Zonasi

Wiku lalu menyampaikan rincian perubahan peta zonasi terkait kasus Covid-19.

1. Zona oranye atau risiko sedang jumlahnya meningkat menjadi 374 dari sebelumnya 345 kabupaten/kota.

2. Zona kuning atau risiko rendah, menurun menjadi 75 dari 121 kabupaten/kota.

3. Zona hijau tidak ada kasus baru menurun menjadi 6 dari sebelumnya 10 kabupaten/kota.

4. Zona hijau tidak terdampak juga menurun menjadi 9 dari sebelumnya 10 kabupaten/kota.

“Keadaan ini harus menjadi cambukan keras bagi kita untuk terus memperbaiki diri, bagi masyarakat jangan pernah abai. Karena cepat atau lambat, anda akan menjadi penderita Covid-19, jika lengah dalam memproteksi diri, lingkungan ataupun keluarga anda,” himbau Wiku.

Pemerintah Daerah Mesti Tingkatkan Kedisiplinan

Wiku mengimbau pemerintah daerah dan jajarannya, melakukan evaluasi terhadap kedisiplinan 3M yaitu memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Dia pun mengingatkan, penegakan kedisiplinan protokol kesehatan harus dimasifkan, dan pelaksaanaan 3T yaitu testing (pemeriksaa), tracing (pelacakan) dan treatment (perawatan) di berbagai tatanan kesehatan di daerah.

“Kami berharap data ini bisa menjadi cermin bagi kita semuanya, baik pemerintah, maupun masyarakat untuk merefleksikan komitmen kita dalam mengendalikan Covid-19,” katanya.

Sementara itu, untuk penanganan dan kebijakan pencegahan Covid-19 di ibukota DKI Jakarta, Satgas Penanganan Covid-19 memastikan akan tetap berjalan, meskipun Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria positif Covid-19.

Satgas Covid-19

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito mengimbau pemerintah daerah untuk tingkatkan kedisiplinan. Foto: Humas BNPB.

“Satgas berharap diagnosa positif Covid-19 pada pimpinan daerah dapat menyadarkan masyarakat bahwa Covid-19 berpotensi untuk menular kepada siapapun, siapa saja, tanpa memandang status maupun latar belakang bahkan apapun pekerjaannya,” tegas Wiku saat menjawab pertanyaan media

Dia melanjutkan, menerapkan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) adalah kewenangan masing-masing daerah. Kondisi yang ada menjadi refleksi dan evaluasi dari pimpinan daerah untuk melakukan kebijakan yang paling tepat.

“Namun, harus memperhatikan dampak terhadap berbagai sektor. Pandemi Covid-19 merupakan permasalahan kesehatan yang berdampak luas ke berbagai sektor sehingga penanganan harus bersifat multisektor sehingga nantinya tidak ada yang dikorbankan,” ujar Wiku.

Baca juga: Praktisi, Aktivis Kelautan dan Perikanan Jabarkan Kriteria Menteri KP

Presiden Sangat Optimis Pemerintah dapat Kendalikan Covid-19 

Sementara itu di acara terpisah, Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa pemerintah sangat optimistis dalam pengendalian pandemi Covid-19. Keoptimisan ini berdasar sejumlah indikator pengendalian Covid-19 di Indonesia. Per 30 November 2020, tingkat kesembuhan di Indonesia berada di angka 83,6 persen. Presiden Jokowi menyebut angka tersebut jauh lebih baik dari rata-rata angka kesembuhan dunia yang berada di angka 69,03 persen.

Dia mengklaim kasus aktif di Indonesia (13,25 persen) jauh lebih baik dari angka rata-rata kasus aktif dunia yaitu di angka 28,55 persen. Presiden mereken, kondisi kasus Covid-19 semakin baik. Di lain sisi, Presiden Jokowi pun mengakui, angka kematian Indonesia karena coronavirus masih lebih tinggi dari pada rata-rata dunia. Kematian di Indonesia di angka 3,1 persen, sedangkan angka kematian dunia 2,32 persen.

“Melihat ini (angka-angka indikator), sebetulnya kita sangat optimis dalam pengendalian Covid-19 ini. Tetapi kemarin saya sampaikan, saya memang kalau ada peningkatan sedikit saja pasti saya akan berikan warning secara keras karena kita tidak mau ini keterusan. Jadi saya ingatkan itu karena memang ada kenaikan sedikit, itu yang harus segera diperbaiki,” ujar Presiden pada Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Selasa, (01/12).

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Ixora Devi

Top