Posisi di Ekuator, Virus Langya dari China Berpotensi Masuk ke Indonesia

Reading time: 2 menit
Waspadai masuknya virus Langya ke Indonesia. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Pandemi Covid-19 yang bermula di Wuhan, China pada tahun 2019 lalu belum melandai, tapi muncul virus baru dari negeri tirai bambu tersebut.

Virus bernama Langya henipavirus (LayV) ini telah menginfeksi 35 orang dengan gejala demam, lemas hingga batuk. Penyakit zoonosis ini para peneliti temukan dari hewan sejenis tikus atau celurut.

Epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan, ancaman penyakit zoonosis sangat signifikan. Dua per tiga atau 75 % penyakit virus manusia berasal dari hewan.

“Potensinya lompatannya sangat besar dan berpotensi merugikan menular baik dari hewan ke manusia maupun manusia ke manusia,” katanya kepada Greeners, baru-baru ini.

Langya henipavirus peneliti temukan pertama kali pada tahun 2018, merebak lalu menginfeksi 35 orang. Meski belum merebak seperti Covid-19 dan Monkeypox, Dicky mengingatkan, virus ini berpotensi masuk ke Indonesia. Apalagi Indonesia berada di wilayah ekuator, sehingga sangat rawan terhadap wabah.

“Potensinya ada. Karena secara lokasi geografis, kondisi lingkungan, perilaku dan kebijakan sistem kesehatan kita termasuk kategori rawan. Bahkan negara kita masuk kategori hot zone dari new emerging disease, khususnya zoonosis,” ungkap Dicky.

Saat ini peneliti belum mendeteksi apakah Langya henipavirus ini dapat menular dari manusia ke manusia. Meski demikian, Dicky mengingatkan perlu kewaspadaan terhadap ancaman penularan penyakit ini. Ia menilai data tracing penularan dari beberapa penderita belum sepenuhnya solid sehingga perlu pemeriksaaan berulang dan valid.

Jangan Kendurkan Kewaspadaan Terhadap Virus Ini

Dicky meminta masyarakat mewaspadai penyakit ini, agar tak mengendurkan kewaspadaan karena tingkat rendahnya keparahan gejala virus Langya. Meski dari 35 orang tersebut belum ada yang masuk ICU dan meninggal. “Sebab virus ini masuk dalam keluarga Hanipah virus. Ingat, virus ini termasuk momok yang mengancam kesehatan,” imbuhnya.

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sebelumnya telah memperingatkan peningkatan eksploitasi satwa liar dan perubahan iklim memicu penyebaran penyakit. Beberapa penyakit yang bersumber dari virus zoonosis berimbas fatal. Dicky mengingatkan, jangan sampai nantinya virus Langya ini seperti pandemi Covid-19 hingga Monkeypox.

Ia juga menyatakan pentingnya analisis kajian risiko setiap wilayah melalui keterlibatan berbagai stakeholders. Selain itu juga kajian ancaman bagi masyarakat yang bersentuhan langsung dengan hewan. Langkah ini krusial karena setiap wilayah memiliki tingkat risiko paparan dan masalah yang berbeda-beda.

Dicky menggaris bawahi perlunya pendekatan one health. Pendekatan ini berusaha menjaga dan tidak merusak alam dan ekosistemnya. Termasuk juga habitat satwa.

“Pada prinsipnya kita meminimalisir kerusakan ekosistem alam yang menjadi tempat hewan itu hidup. Karena kalau lingkungannya rusak maka hewan itu punah, tapi virusnya malah meloncat ke manusia,” tegasnya.

Selanjutnya, ia juga mengingatkan agar masyarakat meminimalisir kontak antara manusia dan hewan. Misalnya, menjauhkan lokasi peternakan dengan pemukiman, meminimalisir kontak antara populasi umum dengan tempat pemotongan hewan.

Upaya surveillance dengan memantau kesehatan hewan secara rutin tak kalah penting untuk meminimalisir potensi virus zoonosis ini.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page