LIPI Klaim Temukan Teknologi Plastik Ramah Lingkungan

Reading time: 2 menit
Ilustrasi: Ist.

Jakarta (Greeners) – Konsumsi plastik di Indonesia per kapita saat ini telah mencapai 17 kilogram per tahun dengan pertumbuhan konsumsi mencapai 6 hingga 7 persen per tahun. Indonesia bahkan sudah menjadi negara terbesar ke-2 di dunia yang membuang sampah plastik ke lautan.

Sampah plastik ini dapat berubah menjadi mikroplastik yang dapat terapung di lautan dengan ukuran lebih kecil dari 1 mikron. Bahan ini menjadi berbahaya bila masuk ke dalam rantai makanan melalui biota laut seperti ikan, hingga masuk ke dalam tubuh manusia. Merespon hal tersebut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengaku telah menemukan inovasi teknologi untuk meminimalisir permasalahan lingkungan akibat sampah plastik.

Menurut Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI Dr. Eng. Agus Haryono, LIPI telah berupaya membuat berbagai inovasi teknologi untuk mengatasi permasalahan limbah plastik. Beberapa inovasi teknologi tersebut antara lain plasticizer turunan minyak sawit. Plasticizer ini, katanya, adalah bahan kimia yang ditambahkan ke dalam formulasi plastik untuk menambah sifat kelenturannya, terutama untuk plastik PVC (polivinil klorida).

Dibandingkan dengan plasticizer turunan minyak sawit, beberapa jenis plasticizer turunan phthalate yang umum digunakan dapat menyebabkan gangguan reproduksi atau gangguan hormonal pada kesehatan manusia. Oleh karena itu, saat ini phthalate sudah mulai dilarang di berbagai negara, terutama di negara-negara Uni Eropa. Adapun plasticizer turunan minyak sawit mempunyai sifat yang lebih aman.

“Plastik terbuat dari minyak bumi melalui proses polimerisasi dimana ikatan kimia pada polimer tersebut sangat kuat dan sulit untuk diputuskan. Dibutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk dapat mengurai sampah plastik yang ada di alam dan menjadi semakin sulit akibat penambahan berbagai bahan kimia lain seperti plasticizer (pelentur), antioksidan, stabilizer ataupun aditif lain,” katanya saat dihubungi oleh Greeners, Jakarta, Jumat (04/03).

Inovasi lainnya, lanjut Agus, adalah bioplastik yang dikembangkan dengan menggunakan bahan terbuat dari tapioka, selulosa dan poliasam laktat. Bioplastik ini bisa menjadi alternatif pengganti plastik konvensional karena sifatnya yang mudah terurai secara sempurna oleh mikroba yang ada di dalam tanah atau dalam air. Bioplastik dapat terurai dalam waktu yang relatif pendek, sehingga permasalahan lingkungan bisa teratasi.

Untuk limbah plastik, tambahnya, LIPI juga telah menemukan teknologi sampah plastik Mobile Incenerator. Menurut Agus, limbah plastik bersifat ringan tetapi memiliki volume yang tinggi sehingga tidak selalu ekonomis untuk diolah secara terpusat. Sedangkan membakar sampah plastik di lingkungan terbuka sangat berbahaya karena bisa menyebabkan timbulnya gas dioksin dan furan yang dapat menyebabkan penyakit kanker.

Mobile incenerator ini adalah alat pengolah limbah, termasuk limbah plastik yang bisa berpindah-pindah tempat sesuai dengan kebutuhan. Pengolahan limbah plastik dengan menggunakan mobile incenerator dapat membantu untuk mengatasi permasalahan limbah plastik yang dikumpulkan pada beberapa tempat. Insenerator ini dapat mengolah sampah plastik tanpa perlu khawatir timbulnya gas dioksin yang berbahaya,” tandasnya.

Penulis: Danny Kosasih

Top