Jakarta (Greeners) – PR3: The Global Alliance to Advance Reuse bersama koalisi internasional resmi meluncurkan simbol guna ulang secara global. Peluncuran ini menjadi tonggak penting dalam transisi dari budaya sekali pakai menuju sistem yang lebih berkelanjutan.
Simbol tersebut menandai kemasan guna ulang dan sistem guna ulang di seluruh dunia. Peluncuran simbol ini juga hadir di tengah tekanan global untuk mengatasi krisis plastik dan perubahan iklim. Selain itu, ada kesadaran yang kuat bahwa daur ulang saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan sampah.
Melalui Panel Standar Global PR3, inisiatif Rebrand Reuse diluncurkan pada tahun 2025. Program ini berupa kompetisi desain global untuk menciptakan simbol universal bagi sistem dan kemasan guna ulang. Inisiatif ini menerima 236 karya dari 29 negara di seluruh dunia. Dari seluruh karya yang masuk telah melalui proses seleksi yang melibatkan penilaian internasional, riset konsumen, serta evaluasi hukum.
Dari proses tersebut, desain karya Nicole Ascanio Rodriguez dan Juan Navarrete terpilih sebagai pemenang. Mereka merupakan desainer sekaligus pendiri Epigrama Studios yang berbasis di Bogotá, Kolombia. Selain itu, simbol ini juga secara khusus diuji agar dapat dibedakan dengan jelas dari simbol daur ulang yang selama ini dikenal luas melalui bentuk panah melingkar (Möbius loop).
Pendiri dan desainer Epigrama Studion, Juan Navarrete mengatakan bahwa simbol ini merepresentasikan pengembalian, kesinambungan, dan sirkulasi. Simbol ini dapat ditampilkan cukup sederhana untuk dipahami secara global. Namun, cukup bermakna untuk merepresentasikan hubungan baru antara manusia, material, dan sampah.
“Simbol ini memandang waktu bukan sebagai garis lurus, melainkan sebagai spiral: kembali, memulihkan, dan memulai kembali,” kata Juan dalam siaran pers.
Kini simbol tersebut mulai diterapkan pada berbagai jenis kemasan guna ulang dan infrastruktur pendukungnya. Ini termasuk gelas minum, wadah makanan dan minuman, botol minuman, wadah produk pembersih rumah tangga, titik pengumpulan, kendaraan logistik, materi promosi, papan informasi, hingga sistem guna ulang skala kota.
Beralih dari Budaya Sekali Pakai
Pendiri dan Direktur PR3, Amy Larkin mengatakan bahwa simbol guna ulang ini menjadi langkah yang nyata untuk beralih dari budaya konsumsi sekali pakai. Menurutnya, daur ulang tidak dapat menyelesaikan krisis kemasan dan sampah.
“Daur ulang tetap merupakan sistem sekali pakai karena kemasan harus diproduksi ulang. Dalam sistem guna ulang, satu kemasan dapat digunakan antara 10 hingga 100 kali sebelum akhirnya didaur ulang dan diproduksi kembali. Inilah jalan menuju dunia tanpa budaya membuang. Standar global PR3 dan simbol baru ini memberikan cara yang jelas bagi masyarakat untuk mengenali sekaligus mempercayai sistem guna ulang,” ungkapnya.
Simbol tersebut juga dapat diterapkan pada titik pengembalian, fasilitas pencucian, platform digital, dan sistem pengembalian kemasan. Selain itu, simbol ini dapat digunakan pada berbagai infrastruktur lain yang mendukung penerapan sistem sirkular secara menyeluruh.
Momentum bagi Indonesia
Sementara itu, Direktur Eksekutif Dietplastik Indonesia, Tiza Mafira mengatakan bahwa peluncuran simbol guna ulang global ini juga hadir pada momentum yang tepat bagi Indonesia. Saat ini pemerintah Indonesia sedang memperkuat kebijakan sistem guna ulang dan mewajibkan produsen membangun sistem tersebut.
“Dietplastik Indonesia merupakan bagian Panel Standar Global PR3. Kami sangat bersemangat untuk menyebarluaskan simbol guna ulang di Indonesia,” kata Tiza.
Menurut Tiza, simbol ini bukan sekadar logo, ini adalah infrastruktur komunikasi yang memungkinkan sistem guna ulang berjalan dalam praktik sehari-hari. Mulai dari membantu konsumen mengetahui kemasan mana yang harus dikembalikan, membantu produsen mengelola pengembaliannya, dan membantu pemerintah membangun standar yang seragam.
Sistem guna ulang, di mana kemasan dikembalikan, dikumpulkan, dicuci, dan digunakan kembali berkali-kali, kini semakin diakui sebagai salah satu solusi paling efektif untuk menggantikan kemasan sekali pakai. Jika diterapkan secara luas, sistem guna ulang dinilai dapat mengurangi produksi kemasan sekali pakai hingga 90 persen. Bahkan, memangkas emisi hingga 80 persen. Dampak iklimnya bahkan setara dengan menghentikan seluruh industri penerbangan global.
Penulis: Dini Jembar Wardani
Editor: Indiana Malia











































