Panas Ekstrem, Biaya Kesehatan Masyarakat Melonjak 207%

Reading time: 2 menit
panas ekstrem. Foto: Magnific
panas ekstrem. Foto: Magnific

Jakarta (Greeners) – Panas ekstrem (heat stress) tidak hanya berdampak pada lingkungan, melainkan juga pada kesehatan pekerja di Indonesia. Sebuah laporan mengungkapkan pengeluaran kesehatan per kapita secara langsung dari kantong pribadi (out-of-pocket expenditure/OOP) melonjak drastis sebesar 207% sejak 2000, mencapai US$129 berdasarkan paritas daya beli (purchasing power parity/PPP) per tahun pada 2023.

Berdasarkan laporan dari Adelphi Global yang berjudul “Heat, health and increasing cost of living: A call for action”, pangsa pengeluaran OOP di Indonesia sebesar 31%. Sementara, 69% sisanya ditanggung oleh belanja sistem kesehatan masyarakat. Meski demikian, beban absolut per kapita naik signifikan 207% sejak 2000.

Hal ini mengindikasikan, meskipun sistem kesehatan secara bertahap mengurangi ketergantungan pada pembiayaan swasta, individu tetap membayar lebih banyak secara nominal setiap tahun untuk perawatan kesehatan.

Direktur Eksekutif Adelphi Global, Dennis Tänzler mengatakan bahwa jika pembakaran bahan bakar fosil tidak berhenti, konsekuensi kesehatan dan ekonomi dari perubahan iklim akan terus memburuk.

Menurutnya, pemerintah perlu menutup kesenjangan antara perencanaan adaptasi dan tindakan nyata bagi pekerja dan rumah tangga yang paling terpapar panas.

“Ini membutuhkan segitiga tata kelola baru yang terdiri dari kebijakan iklim, kesehatan, dan ketenagakerjaan yang paling menempatkan perlindungan individu dan keluarga sebagai pusatnya,” kata Dennis dalam keterangan tertulisnya, Kamis (16/7).

Biaya Kesehatan Melonjak

Sementara itu, kini sebagian besar wilayah Jawa dan Sumatra masuk dalam kategori risiko panas sedang hingga tinggi berdasarkan skenario iklim. Dengan jumlah hari bersuhu di atas 30 derajat Celsius yang diproyeksikan berkisar antara 145 hingga 194 hari per tahun.

Dengan proyeksi peningkatan frekuensi dan intensitas gelombang panas di masa mendatang, kebutuhan perawatan penyakit diprediksi ikut melonjak.

Apalagi, saat ini lebih dari dua pertiga penduduk Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan domestik. Pendapatan mereka hanya US$8,30 per hari. Kondisi ini menjadikan mereka sangat rentan terhadap guncangan finansial akibat biaya berobat yang harus individu tanggung sendiri.

Tak hanya itu, panas ekstrem juga membuat pekerja kehilangan jam kerja, yang berpotensi menggerus pendapatan mereka. Di sektor pertanian dan konstruksi, jam kerja hilang diproyeksikan mencapai 7,68% pada 2030 atau setara dengan 22,5 hari per tahun. Apalagi tingkat informalitas juga tinggi yang mencapai 80% pada pekerja laki-laki dan 83% pada pekerja perempuan.

Dengan pendapatan median harian yang hanya US$17,20 (PPP) untuk perempuan dan US$22 (PPP) untuk laki-laki, hilangnya hari kerja akan memangkas penghasilan rumah tangga. Bahkan, meningkatkan kerentanan terhadap biaya OOP ketika anggota keluarga jatuh sakit akibat sengatan panas.

Desak Pemerintah

Para peneliti mendesak pemerintah Indonesia untuk segera mengurangi ketergantungan pada pengeluaran OOP melalui penguatan sistem kesehatan publik yang inklusif.

Mereka juga mendesak pemerintah untuk mengintegrasikan perlindungan kesehatan dan ketenagakerjaan ke dalam Rencana Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional (Nationally Determined Contribution/NDC) dan Rencana Adaptasi Nasional (National Adaptation Plan/NAP).

Selain itu, perlu mengaitkan perlindungan hukum ketenagakerjaan yang ada dengan skema jaminan sosial yang tidak hanya mencegah dampak panas. Namun, juga memberikan kompensasi moneter atas kerugian yang timbul. Penguatan sistem kesehatan publik juga menjadi prioritas untuk mengurangi beban OOP bagi masyarakat miskin dan rentan.

Laporan ini menegaskan bahwa tanpa langkah nyata, potensi pendapatan yang hilang akibat tekanan panas. Pendapatan yang hilang bisa mencapai US$21,7 miliar atau 1,5% Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2023. Bahkan akan terus membengkak dan menggerus daya tahan ekonomi nasional.

“Laporan kami mengungkapkan bahwa perubahan iklim membuat kita lebih sakit, dan akibatnya juga membuat kita lebih miskin. Karena panas ekstrem akibat iklim membahayakan kesehatan masyarakat dan menghalangi mereka untuk bekerja, rumah tangga menderita beban ganda berupa penurunan pendapatan dan peningkatan pengeluaran medis,” kata Penulis dan Konsultan Laporan Adelphi Global, Mathilde Wilkens.

Ia menegaskan bahwa krisis iklim bukan hanya krisis lingkungan. Namun, kondisi ini merupakan keadaan darurat kesehatan masyarakat dan ancaman terhadap pendapatan rumah tangga dan keamanan ekonomi.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top