Penyu Hijau, Spesies Penyu Terbesar di Lautan

Reading time: 2 menit
Penyu Hijau
Penyu Hijau. Foto: shutterstock

Penyu hijau atau Chelonia mydas merupakan salah satu spesies penyu terbesar di lautan. Fauna ini juga satu-satunya herbivor dalam keluarga penyu dan kini dalam keadaan terancam punah.

Mengutip worldwildlife.org, nama penyu hijau bukan dilihat dari cangkangnya, tetapi dari tulang rawan dan lemak di tubuh mereka. Secara morfologi, penyu ini dapat memiliki panjang hingga 4 kaki atau sekitar 122 sentimeter dengan berat sebesar 190 kilogram. Mereka juga mampu memproduksi 115 telur di sarangnya dan tiap telur membutuhkan proses inkubasi selama 60 hari.

Baca juga: Bintang Laut Berduri, Sang Predator Terumbu Karang

Penyu laut besar ini memiliki habitat di lautan tropis dan sub-tropis. Di perairan terbuka, spesies ini sangat jarang terlihat. Namun, mudah ditemukan di perairan yang cukup dangkal, seperti di dalam terumbu karang, teluk, dan ceruk, kecuali saat bermigrasi. Penyu ini juga tertarik pada laguna yang memiliki banyak rumput laut dan ganggang.

Begitu penyu hijau menetas dan masuk ke lautan, jarang ada yang kembali ke daratan. Mereka memilih untuk tinggal di sekitar pulau atau pantai dan menetap di perairan laut dangkal hingga musim kawin. Saat penyu betina berkembang biak, mereka akan melakukan migrasi panjang ke pantai yang disukai atau tempatnya dilahirkan.

Penyu Hijau

Penyu Hijau. Foto: shutterstock

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut persebaran penyu hijau di Indonesia cukup merata. Hal ini dipengaruhi oleh jenis tempat persinggahan mereka yang terletak di pesisir, padang lamun, dan terumbu karang. Fauna ini muncul untuk memakan alga yang hanya ada di beberapa habitat, yaitu daerah terumbu karang. Sedangkan pada daerah pesisir, baik di teluk maupun di estuaria, makanan penyu hijau adalah lamun. Melansir dari laman resmi kkp.go.id, spesies penyu tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Saat ini, penyu hijau merupakan salah satu spesies yang terancam punah di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh ancaman seperti perburuan dan perdagangan telur serta bagian-bagian tubuhnya. Kerusakan habitat peneluran akibat pembangunan di kawasan pesisir dan aktivitas perikanan di laut juga memengaruhi kelangsungan hidup spesies ini.

Baca juga: Kumbang Beras, Hama Perusak Bahan Pangan

Lembaga International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) memasukkan penyu sisik ke dalam status kritis (Critically Endangered). Sedangkan penyu hijau tergolong ke dalam status genting (Endangered).

Masih banyak masyarakat Indonesia yang berburu telur penyu untuk dijual dan dikonsumsi. Tidak hanya itu, karapas penyu juga diambil untuk dijadikan aksesoris seperti gelang, liontin, hingga diawetkan menjadi pajangan. Padahal spesies penyu telah dilindungi dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 yang mengatur mengenai Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Namun, perilaku manusia yang membahayakan spesies penyu masih marak terjadi.

Untuk melestarikan keberadaan penyu, sejumlah daerah di Indonesia digunakan untuk mengembangbiakan penyu, salah satunya di Kawasan Kepala Burung, Papua Barat. Wilayah tersebut merupakan pusat peneluran penyu belimbing, penyu sisik, penyu lekang, dan penyu hijau di Pasifik Barat.

Taksonomi Penyu Hijau

Penulis: Ida Ayu Putu Wiena Vedasari

Top