RDF dan PLTSa Merah Putih Wahana Unjuk Gigi di G20

Reading time: 3 menit
Kunjungan Menko Marves Luhut Binsar P dan Mendagri Tito Karnavian ke PLTSa Merah Putih. Foto: DLH DKI Jakarta

Jakarta (Greeners) – DKI Jakarta kini punya dua wahana pengelolaan sampah yang bisa menjadi ajang unjuk gigi dan show off di G20. Keduanya yakni Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Merah Putih hingga Refuse Derived Fuel (RDF) plant  tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi, Jawa Barat.

PLTSa Merah Putih hingga RDF plant tak sekadar mampu mengurangi sampah di DKI Jakarta. Akan tetapi mampu berkontribusi menjawab isu utama dalam agenda G20 tentang pengurangan emisi dan perubahan iklim.

Saat ini telah berdiri PLTSa Merah Putih. Sebuah pembangkit listrik karya anak bangsa kolaborasi BRIN dan Pemprov DKI Jakarta. PLTSa ini mengusung teknologi proses termal yang dapat memusnahkan sampah secara cepat, signifikan dan ramah lingkungan.

Tak hanya itu, Pemprov DKI Jakarta saat ini sedang membangun RDF Plant, yaitu pabrik bahan bakar turunan dari sampah lama yang ditambang dari gunungan landfill sampah. Kapasitasnya 2.200 ton sampah per hari. Nilai kalor RDF ini setara batu bara muda dan dapat menjadi bahan bakar alternatif.

Dalam keterangannya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto mengatakan, isu utama yang G20 angkat pada November 2022 mendatang adalah tentang pengurangan emisi dan perubahan iklim.

Oleh karena itu, dibangunnya fasilitas ini merupakan wujud dari upaya pemerintah Indonesia khususnya Pemprov DKI Jakarta dalam rangka mengatasi masalah lingkungan.

“Mudah-mudahan ini bisa menjadi show off-nya Jakarta di G20 nanti,” kata Asep baru-baru ini.

G20 Usung Isu Emisi GRK dan Perubahan Iklim

Keberhasilan Jakarta bertransformasi dalam pengelolaan sampah dengan teknologi canggih dan ramah lingkungan ini akan turut disampaikan pada KTT G20 nanti. Berbagai upaya ini juga turut mengurangi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global.

Dalam kesempatan yang sama, Pemprov DKI Jakarta mendapatkan kunjungan Menteri Pembangunan dan Kerja Sama Denmark, Flemming Møller Mortensen, Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Lars Bo Larson, dan Duta Besar Denmark untuk Perubahan Iklim ke TPST Bantargebang.

Tak hanya itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI Luhut Binsar Panjaitan dan Mendagri M. Tito Karnavian, turut mendampingi dalam kunjungan tersebut, Selasa (6/9). Kunjungan ini bertujuan melihat langsung progress dari pembangunan RDF Plant dan landfill mining.

Selain itu, ia mengungkap harapannya agar bisa bekerja sama pemerintah G2G antara Indonesia dengan pemerintah Denmark. “Denmark salah satu negara yang memiliki pengolahan terbaik di dunia, semua fasilitas mereka punya khususnya RDF, insinerator. Kemudian pemilahannya di sana juga sudah bagus dengan kondisi ini diharapkan mereka juga tertarik untuk investasi di Indonesia,” ungkap Asep.

Sementara itu Flemming mengaku, kedatangannya ke Indonesia bukan yang pertama kali. Namun, melihat tempat pembuangan sampah yang sangat luas adalah pemandangan baru baginya.

“Kesan pertama saya ketika berada di helikopter di atas area ini, saya tidak pernah melihat tempat pembuangan sampah seperti ini. Area sangat luas yang penuh sampah,” ungkap dia.

Menko Marves Luhut Binsar P mengamati proses pengolahan sampah di PLTSa Merah Putih. Foto: DLH DKI Jakarta

RDF Plant, Denmark Apresiasi Pengelolaan Sampah DKI Jakarta

Flemming mengaku terkesan dan menyambut baik upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mengatasi permasalahan lingkungan yang ditimbulkan oleh sampah melalui pembangunan fasilitas pengolahan sampah landfill mining dan RDF Plant.

Ia juga mengapresiasi langkah Jakarta menggunakan teknologi terbaru dalam pengolahan sampah. Menurutnya, pengelolaan limbah sangat penting dan Denmark siap berbagi semua teknologi yang sudah mereka gunakan.

“Saya telah melihat dan saya berbicara dengan orang-orang yang bekerja di sini dan juga para menteri yang bertanggung jawab di bidang ini. Mudah-mudahan kita akan mengintegrasikan kerja sama yang sangat baik antara Indonesia dan Denmark, juga di pengelohan sampah ini. Kedutaan kami di Jakarta juga berkoordinasi intensif kerja sama antara kedua negara,” papar Flemming.

Asisten Pembangunan Setda Provinsi DKI Jakarta, Afan Adriansyah Idris mengatakan, RDF Plant dan landfill mining tersebut akan mengolah sampah dari Jakarta dengan rincian sampah lama sebesar 1.000 ton per hari dan sampah baru 1.000 ton per hari.

Selain itu, juga menghasilkan produk bernilai guna yaitu RDF yang akan industri semen gunakan sebagai bahan bakar pengganti batu bara.

“Ini kemungkinan bisa menjadi role model untuk daerah lain. Tidak ada RDF landfill mining yang punya kapasitas sebesar ini. Ini akan jadi suatu bahan diskusi di dalam G20 sebagai salah satu contoh keberhasilan,” ungkap Afan.

TPST Bantargebang Beroperasi Sejak Tahun 1985

TPST Bantargebang merupakan TPA milik DKI Jakarta yang berada di Kota Bekasi, Jawa Barat. TPA ini merupakan yang terbesar di Asia Tenggara, bahkan salah satu yang terbesar di dunia.

TPST Bantargebang berdiri sejak tahun 1985 merupakan tempat pengolahan akhir sampah penduduk DKI Jakarta. Setiap hari ada lebih dari 7.500 ton sampah dibuang ke TPST Bantargebang.

Namun, Pemprov DKI Jakarta tidak saja fokus pada pengolahan sampah di hulu. Berbagai upaya pengurangan sampah di sumber pun pemprov gencarkan melalui implementasi Pergub 77 Tahun 2020 Tentang Pengelolaan Sampah Lingkup Rukun Warga. Kini sudah mulai memperlihatkan hasil nyata.

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page