Energi Bukan (Hanya) Minyak

Reading time: 6 menit

Pada 2019 Kementerian Energi memprediksi Indonesia akan kehabisan cadangan energi dan terpaksa mengimpor 100 persen kebutuhan minyak. Apa akal?

Oleh : Veby Mega Indah

 

Stiker itu ada dua macam. Yang berukuran lebih besar bertuliskan “Mobil ini Tidak Menggunakan BBM* Bersubsidi”  dan yang kecil, “Mobil BBM Non Subsidi”. Warnanya jingga terang untuk ditempel di kaca depan dan belakang mobil. Ada lambang ESDM* di sudut kiri atas. Mustahil rasanya orang alpa melihat jika ia sudah nemplok di kaca mobil. Ia bagai jaminan agar pegawai negeri tidak bandel lagi beli bensin bersubsidi meski bermobil mentereng. Aparat TNI* dan polisi juga kena.

Ini memang ESDM punya gawe.
Sejak Agustus 2012, ESDM ramai-ramai menggelar program hemat energi. Salah satunya, ya, hemat Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk mobil-mobil instansi pemerintah. Selain itu malam-malam hingga subuh puluhan mahasiswa hingga unsur masyarakat lainnya juga berkeliaran di aneka pom bensin dan gedung-gedung pemerintah. Cuma untuk mengamat-amati dan mencatat siapa tahu ada tingkah laku nyeleneh buang-buang energi.  Dosa-dosa itu dicatat lalu dilaporkan lewat surat elektronik ke hematenergi@esdm.go.id. Jadi jangan harap bebas meninggalkan lampu atau pendingin ruangan menyala saat pulang kantor.

Harap maklum. Negeri ini lagi tarik ikat pinggang menghemat konsumsi energi. “Ya kalau kita tidak bisa mengurangi subsidi BBM, konsekuensinya pemakaian BBM yang harus dihemat,” kata Direktur Konservasi Energi Kementerian ESDM, Maryam Ayuni.

Cadangan energi Indonesia memang sudah lampu kuning. Setiap tahun konsumsi energi nasional naik 7 persen sementara cadangan energi fosil berupa minyak, batu bara dan gas semakin menurun dan terus dikeruk. Kalau pun beruntung menemukan cadangan energi fosil baru, proses eksplorasi hingga matang tersedia paling tidak butuh 15 tahun.

ESDM memprediksi tahun 2019 Indonesia akan terpaksa membeli 100 persen kebutuhan energinya dari luar negeri. Sekarang saja, nusantara kudu mengekspor minyak bumi. Produksi dalam negeri kini hanya 800 ribu per barel per hari. Sementara kebutuhan minyak bumi untuk industri, rumah tangga mau pun transportasi sudah 1 juta barel per hari. Belum lagi besok-besok saat masyarakat makin canggih dan butuh semakin banyak energi.  Padahal hingga 2012 baru 70 persen daerah Indonesia yang teraliri listrik.

Buntutnya kini ESDM menggadang program mari berhemat untuk semua instansi pemerintah. Dari pusat sampai ke daerah. Direktur Jenderal Energi  Terbarukan, EBTKE*Kementerian ESDM, Kardaya Warnika menyatakan penghematan ini cara awal dan paling cepat berusaha menyelamatkan Indonesia.

“Indonesia termasuk lebih boros penggunaan energi sekitar 50 persen jika dibandingkan negara-negara lainnya di dunia, jadi ada potensi besar untuk berhemat,” kata Kardaya.

Ini hanya tindakan pertolongan pertama krisis energi, kalau mau jujur.

Top
You cannot copy content of this page