Energi Bukan (Hanya) Minyak

Reading time: 6 menit

Energi Fosil Lemas, Energi Hijau Berusaha Menggeliat
Dirjen Energi  Terbarukan, EBTKE Kementerian ESDM, Kardaya Warnika menyatakan mencabut subsidi energi fosil memang tak bisa asal jadi. Besok kurangi saja tak peduli rakyat melolong sengsara. Sebaliknya, pejabat bidang energi terbarukan ini justru mendukung subsidi BBM jalan terus di negeri ini. Lah, kok bisa?
“Syaratnya, energi terbarukan tetap harus diprioritaskan. Kalau energi bersih ini terus berkembang dan semakin banyak orang yang menggunakan, konsumsi BBM akan turun dan pasti jumlah subsidinya juga akan turun,” kata Kardaya.

Dia mencontohkan kasus konversi minyak tanah ke gas elpiji 3 kg. Subsidi elpiji semula banyak ditentang karena khawatir akan semakin membebani anggaran pemerintah. Wong, subsidi minyak tanah tidak dicabut, malah ingin menambah beban dengan elpiji.

“Tapi buktinya setelah banyak yang pakai elpiji 3 kg, jumlah subsidi elpiji dan minyak tanah sekarang sekalipun digabung akan tetap lebih rendah dari jumlah subsidi minyak tanah yang lalu saat belum konversi gas,” kata Kardaya.

Tak peduli BBM masih berembel subsidi, jika tersedia alternatif energi terbarukan yang lebih murah dan bersih sudah barang tentu akan menarik hati. Jadi kembangkan terus energi terbarukan tapi jangan buru-buru buang energi fosil sebelum siap, kata Kardaya.

Saat ini Direktorat EBTKE menggadang tahun 2020 sebagai target menaikkan konsumsi energi terbarukan dari 5 persen menjadi 25 persen konsumsi energi nasional.  Mulai dari menggalang program hemat energi di berbagai instansi pemerintah hingga membahas ragam tarif tetap yang berlaku untuk energi terbarukan penghasil listrik di Sumatera, Jawa hingga Papua.

Tarif harus berbeda karena setiap pulau punya kebutuhan energi dan karakteristik alam yang berlainan pula. Misalnya untuk panas bumi di Jawa Barat tentu punya tantangan  berbeda dengan energi panas bumi di Nusa Tenggara. Begitu pula tarif energi panas bumi yang dijual ke negara dalam bentuk listrik akan beda dengan tarif listrik hasil pengolahan sampah, air atau surya.

“Sekarang ini harga jual energi terbarukan masih terlalu murah, akan kami naikkan,”kata Kardaya.

Selama ini listrik dari pembangkit diesel yang dijual ke PLN*dihargai Rp 4000/KWH. Namun listrik hasil tenaga air mikro hanya berharga Rp 600/KWH dan tenaga panas bumi hanya 6-8 sen/KWH. Mulai tahun ini EBTKE berencana menaikkan harga jual listrik energi terbarukan minimal mencapai Rp 1000/KWH. Semuanya demi meningkatkan peran ekonomi komunitas lokal yang mengelola pembangkit listrik tenaga terbarukan dan minat investor untuk panas bumi.

“Harga jual listrik ke konsumen tidak akan naik, karena toh, harga listrik dari energi terbarukan itu akan tetap lebih murah daripada pembangkit diesel,” kata Kardaya.

Meski demikian Kardaya mengakui masih ada kecenderungan bergonta-ganti peta jalan energi di Indonesia. Akibatnya, masih banyak pekerjaan rumah energi yang menggunung tak terselesaikan.“Yang paling penting negeri ini juga harus menentukan fokus energinya ke mana, apa peta jalan energinya. Jangan sebentar ada ide baru, ganti lagi. Ada ide lain, ganti terus,” kata Kardaya.

***
Daftar Akronim:
BBM : Bahan Bakar Minyak
ESDM : Energi dan Sumber Daya Mineral
TNI: Tentara Nasional Indonesia
EBTKE : Energi Baru dan Terbarukan dan Konservasi Energi
KIARA : Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan
PLN : Perusahaan Listrik Negara

Top